<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247</id><updated>2011-07-08T23:22:42.072+07:00</updated><category term='Filosofi'/><category term='Loyalty'/><category term='public figure'/><category term='Japanese warriors'/><title type='text'>My blogz</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-9083910831180681065</id><published>2010-02-28T06:53:00.001+07:00</published><updated>2010-03-05T10:41:44.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filosofi'/><title type='text'>Menyadari Kesalahan</title><content type='html'>Confucius pernah mengatakan : &lt;i&gt;"seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak memperbaikinya telah melakukan satu kesalahan lagi"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalimat itu mungkin hanya kalimat sederhana, tetapi apakah kita telah menyadari bahwa kita pun seperti itu. Melakukan kesalahan bagi setiap orang itu wajar. Tetapi bila kesalahan itu terus kita lakukan &lt;b&gt;tanpa mencoba untuk memperbaikinya, kita hanya menambah kesalahan kita. &lt;/b&gt;Apalagi mereka bukannya sadar tetapi malah menyalahkan orang lain. Itu hanya menambah kesalahan dalam diri kita. Jadi mulai sekarang cobalah untuk memperbaiki kesalahan kita agar kita berhasil di masa depan&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-9083910831180681065?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/9083910831180681065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/confucius-pernah-mengatakan-seseorang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9083910831180681065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9083910831180681065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/confucius-pernah-mengatakan-seseorang.html' title='Menyadari Kesalahan'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-9291936216078408</id><published>2010-02-27T14:46:00.003+07:00</published><updated>2010-11-29T07:30:07.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='public figure'/><title type='text'>Siddhartha Gautama</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jKwPF4WYI/AAAAAAAAAF4/JFwfUzDjbiM/s1600-h/Buddha_bodhi.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jNjr41YWI/AAAAAAAAAGg/s7ODeCCmTys/s1600-h/Buddha..jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jNjr41YWI/AAAAAAAAAGg/s7ODeCCmTys/s320/Buddha..jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Buddha Gautama dilahirkan dengan nama Siddhārtha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha. Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) di masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti, sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini, sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jL6Bb_pFI/AAAAAAAAAGI/5D7cDPP0Qt8/s1600-h/pelepasan+agung.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Di Jambudvipa (sekarang India), dinegara Shakya di India Utara bernama kerajaan Kapilavastu, terletak di utara sungai Rapti (sungai rohini), di daerah dekat pegunungan Hilamaya, diperintah oleh seorang Raja bernama Suddhodana dengan permaisurinya Ratu Maya Dewi (Dewi Mahamaya). Setelah duapuluh tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang Putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, Ratu Maya Dewi bermimpi aneh sekali. Dalam mimpi itu, Ratu Maya Dewi melihat seekor gajah putih turun dari langit memiliki enam gading dan sekuntum bunga teratai di mulutnya memasuki rahim Ratu Maya Dewi melalui tubuhnya sebelah kanan. Sejak mimpi itu Ratu Maya mengandung. Dia mengandung seorang bodhisattva dalam kandungannya selama sepuluh bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ia mengandung bodhisattva banyak kejadian ajaib terjadi. Misalnya, di mana saja ia pergi di Kapilavastu didampingi suaminya, Raja Suddhodana, Singa duduk dengan jinaknya di depan gerbang-gerbang, gajah-gajah menghormati raja, burung-burung diangkasa sangat bersuka cita mengiringi mereka. Ratu Maya dewi mendadak dapat mengobati orang sakit, banyak sekali orang sakit yang dapat diobati hingga sembuh. Dia sangat dermawan. Para dewa tidak menampakkan diri mendampingi permaisuri kemana dia pergi. Untuk tidak mengecewakan para dewa, Sang Bodhisattva membuat supaya Ratu Maya Dewi terlihat bersamaan di semua surga. Bila waktu malam, dia, memasuki ruang kamar tidurnya, tiga kamarnya mendapat pantulan cahaya dari tubuh permaisuri secara merata. Dan masih banyak lagi kejadian yang menakjubkan semua perbuatannya penuh welas asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktunya telah tiba untuk melahirkan, Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini dengan para dayangnya. Ratu juga meminta suaminya, Raja Suddhodana, ikut. Sudah tentu dipenuhi dengan segala senang hati. Juga para dewa yang tidak menampakkan diri ikut mendampinginya. Di saat bulan purnama sidhi (menurut aliran Utara atau Mahayana, beliau lahir tanggal 8 bulan 4, lunar tahun 566 S.M.; menurut aliran Selatan atau Hinayana, tanggal 6 May, tahun 623 S.M.), di Taman Lumbini ini (dekat perbatasan India-Nepal), Ratu Maya melahirkan seorang bodhisattva tanpa kesulitan dan para dayang yang mendampingi Ratu, menyaksikan dengan penuh kesenangan. Begitu pula Raja Suddhodana dan para dewa dan dewi yang mendampingi ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia dilahirkan, bumi menjadi terang benderang, seberkas sinar sangat terang mengelilingi bodhisattva yang baru lahir itu. Sesaat ia dilahirkan, bodhisattva berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit, dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke bumi, yang artinya Akulah teragung, pemimpin alam semesta, guru para dewa dan manusia. Para dewa yang mendampingi menjatuhkan bunga dan air suci untuk memandikannya. Pada saat ia akan menapakkan kakinya ke bumi, timbullah seketika itu tujuh kuntum bunga padma yang besar dibawah setiap langkahnya. Setiap ia melangkah ia menghadap ke sepuluh penjuru. Juga bersamaan waktu lahirnya, tumbuhlah pohon Bodhi.&lt;br /&gt;Seisi alam menyambutnya dengan suka cita karena telah lahir seorang bodhisattva yang pada nantinya dia akan menjadi pemimpin alam semesta, gurunya para dewa dan manusia, mencapai Samyak Sam Buddha untuk mengakhiri penderitaan manusia di alam samsara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Kunjungan Pertapa Asita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa Asita yang agung yang disebut juga Kala Devala berdiam di sebuah pegunungan yang tidak begitu jauh dari istana. Pertapa Asita melihat sinar yang sekonyong-konyong memancar terang-benderang di kawasan istana. Cahaya terang ini dinilai oleh pertapa Asita sebagai suatu pertanda baik, maka beliau bergegas menuruni gunung dan pergi menuju istana Raja Suddhodana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan pertapa Asita adalah untuk menyaksikan tanda-tanda pada tubuh pangeran, memperhatikan dengan seksama dan menemukan bahwa pangeran memiliki kewajiban besar (karena memiliki tanda-tanda tubuh dari orang yang yang Agung yang disebut Maha Purisa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran adalah sebagai suatu keajaiban sebab anggota-anggota tubuhnya merupakan titisan para Dewa Aurva, Prithu, Mandhatari, dan Kakshivat, para pahlawan dari masa lampau yang menyelinap masuk melalui paha, tangan, kepala, dan ketiak. Dia lahir tanpa melukai dan menyakiti ibunya. Jadi dia keluar dari rahim itu secara sempurna sebagai seorang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa Asita tertawa setelah melihat pangeran. Tertawa karena pada suatu hari nanti pangeran akan mencapai Kesempurnaan (Buddha), sempurna dalam kebijaksanaan maupun Kewajiban, menjadi guru para dewa dan manusia. Kemudian dia menangis. Menangis karena usianya yang telah lanjut dan tidak mempunyai kesempatan lagi melihat dan mendengarkan pada saat pangeran mencapai Kesempurnaan (Buddha) dan menjadi Juru Selamat dunia dengan mengajarkan Buddha Dharma. Kemudian dia berlutut dan menghormat kepada pangeran dan tanpa disadari diikuti oleh Raja Suddhodana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari setelah pangeran lahir, Raja Suddhodana mengumpulkan para pertapa di ruang istana untuk memberikan nama kepada pangeran. Pangeran diberi nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti semua cita-citanya tercapai, dan Gautama adalah nama keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Masa Kecil, Masa Remaja, dan Pernikahan Pangeran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Maya Dewi tidak dapat menahan luapan perasaan kegembiraan tatkala dia melihat seorang putra mahkotanya, yang dipersamakan sebagai seorang ahli peramal yang paling bijaksana. Dan Ratu Maya begitu suci, hingga ia tidak dapat melanjutkan untuk hidup sebagai seorang permaisuri biasa, kemudian ia harus mengorbankan dirinya hidup menderita karena penolakan putranya untuk menjadi raja di kemudian hari. Ataukah dia rela pergi ke surga, tinggal di Surga Tusita pada hari ke tujuh setelah pangeran dilahirkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, raja dan pangeran kecil disertai para pengasuh dan pembesar istana berjalan pergi kesawah untuk merayakan perayaan membajak sawah. Pangeran diletakkan di bawah sebuah pohon besar yang rimbun. Kemudian para pengasuh pergi untuk melihat jalannya upacara. Sewaktu ditinggalkan seorang diri, pangeran kecil itu lalu duduk ber-meditasi dalam keretanya, saat itu umurnya baru kira-kira lima tahun. Ayahnya yang melihat kejadian tersebut menjadi sangat gembira dan memberi hormat kepada putranya sambil berkata, “Putraku yang tercinta, inilah hormatku yang kedua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pangeran dari sebuah kerajaan, beliau sebetulnya hidup sangat bahagia, dia lebih pintar dari gurunya yang bernama Visvamitra ketika ia berumur tujuh tahun, dan telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Dia adalah anak yang terpandai diantara teman-teman sekolahnya, dan sangat cepat menguasai setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dikelas dia selalu duduk paling depan dan penuh perhatian, mengikuti setiap pelajaran yang diberikan gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur 12 tahun, Pangeran Sidharta telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu : sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama).&lt;br /&gt;Dia juga menguasai Catur Veda: Rgveda (lagu-lagu pujian keagamaan); Yajurveda (pujaan untuk upacara sembahyang); Atharvaveda (mantra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Sidharta disamping pandai, juga seorang anak yang sopan dan baik budi pekerti, dan sayang pada binatang terutama binatang yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sangat pandai menunggang kuda dan gemar berburu. Bila kuda yang ditungganginya telah letih, dia turun dari kudanya dan membiarkannya untuk beristirahat dan mengusap-usap dengan penuh kasih sayang. Dia pergi berburu bukan untuk membunuh binatang tapi mengajak binatang hutan untuk bermain dan berkejar-kejaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Pangeran Sidharta melihat Devadatta dan teman-temannya berburu burung dengan panah. Devadatta memanah seekor burung yang sedang berdiri di ranting pohon. Burung itu terkena panah Devadatta dan jatuh ke bawah. Pangeran Sidharta cepat pergi menghampiri burung itu dan segera mengobatinya. Devadatta meminta kembali burung itu dari Sidharta karena ia merasa bahwa ia yang memanah burung itu dan harus menjadi miliknya. Tapi Pangeran Sidharta mengatakan bahwa burung yang terpanah itu adalah miliknya. Terjadilah pertengkaran diantara mereka untuk memiliki burung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hal ini dibawa kepada seorang pejabat Dewan Penasehat Kerajaan untuk dimintai pendapatnya. Pejabat Dewan Kerajaan menjelaskan kepada mereka berdua bahwa burung yang terkena panah itu adalah milik orang yang telah mengobati dan menyelamatkan hidupnya. Kemudian Pangeran Sidharta melepaskan burung itu ke alam bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu tradisi dalam lingkungan kerajaan di India dimasa lampau di mana usia muda sudah dijodohkan dan dinikahkan. Ketika pangeran mencapai usia 16 tahun, ayahnya menikahkan dia dengan sepupunya, Putri Yasodhara yang sangat cantik juga berusia 16 tahun. Ini sebenarnya merupakan janjinya di masa lampau kepada Sidharta untuk tetap mendampingi dan melayani dengan setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Yasodhara adalah kakak perempuan dari Devadatta. Ibu mereka bernama Amita adalah adik perempuan dari Raja Suddhodana yang menikah dengan Raja Suprabuddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Suddhodana juga mempunyai tiga adik laki-laki, masing-masing bernama Suklodana, Amrtodana, dan Drandana. Suklodana mempunyai seorang putra bernama Ananda. Amrtodana mempunyai dua putra bernama Mahananma dan Anuruddha. Dranana juga mempunyai dua putra, masing-masing bernama Vibhasa dan Bhadrika.&lt;br /&gt;Setelah pernikahan Pangeran Sidharta dengan Putri Yasodhara, mereka hidup amat bahagia, karena mereka cocok satu sama lain. Pangeran hidupnya sangat senang tapi hanya menikmati kesenangan hidup duniawi dalam istananya. Namun demikian pangeran suka pergi menyendiri untuk merenung di tempat yang sunyi dan tenang. Beliau tidak menderita, hanya mempunyai perasaan belas kasihan yang mendalam terhadap semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali berkunjung ke ibukota Kapilavastu, beliau melihat empat pemandangan yang membuat dia terus berpikir, yakni : melihat orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa mulia. Beliau sangat tergugah hatinya oleh kejadian-kejadian tersebut. Beliau kembali ke istana dan mendapat kabar bahagia bahwa seorang putra telah lahir. Namun beliau tidak bahagia, karena menganggap bahwa kelahiran putra anak pertamanya hanya sebagai belenggu. Maka kakeknya memberikan nama pada cucunya Rahula, artinya belenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat peristiwa penting yang beliau lihat diluar istana itu, yakni: tua, sakit, meninggal dan seorang pertapa mulia, menyadarkan beliau bahwa semua itu harus dialami oleh semua makhluk, yakni setiap orang akan menjadi tua, setiap orang dapat sakit, dan setiap orang tidak terelakkan pasti suatu hari akan meninggal. Semua kejadian ini sungguh suatu penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang ketiga beliau lihat adalah orang meninggal, sesosok mayat. Maka beliau berpikir bahwa baik buruk seorang lelaki maupun perempuan, yang pandai maupun yang cantik, yang gagah maupun yang lemah, semuanya pada suatu hari pasti akan meninggal dan tubuhnya akan menjadi mayat. Mayat adalah suatu sosok tubuh yang tidak bagus dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, beliau mengundurkan diri dari sentuhan para perempuan di istana, dan sebagai jawabannya atas bujuk rayuan Undayin, penasehat raja, dia menjelaskan sikap barunya dengan kata-kata sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bukanlah saya memandang rendah hakekat dari rasa, dan saya mengetahui baik bahwa mereka itu membuat apa yang dinamakan dunia. Tapi bila saya mempertimbangkan ketidakkekalan dari dunia ini, saya menemukan tiada kebahagiaan di dunia ini. Usia tua, sakit, dan kematian tidak luput dari kehidupan manusia. Jika kecantikan dari wanita adalah kekal abadi, pikiran saya tentu sudah menuruti kata hati dan dalam hawa nafsu. Kenyataannya sejak kecantikan perempuan tidak melekat lagi, maka tubuhnya menua karena usia melunturkan kecantikannya. Menyenangi perempuan merupakan khayalan. Semua kenyataan ini sungguh menakutkan. Bagaimana dapat seorang pintar tidak memperdulikan akan bencana itu? Kapan dia mengetahui penghancuran yang akan datang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5. Meninggalkan Istana (Duniawi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mantap pada pendiriannya maka beliau pergi mencari obat agar orang tidak menjadi tua, tidak menjadi sakit, dan tidak meninggal, untuk dipersembahkan kepada setiap orang. Pada saat itu beliau berusia 29 tahun, dan dengan seijin Raja Suddhodana beliau meninggalkan keduniawian. Pada malam sebelum kepergiannya, beliau sekali lagi memandang kepada istrinya dan anaknya. Diam-diam tanpa memberitahukan kepada mereka, beliau meninggalkan istana dengan kudanya yang bernama Kanthaka dan ditemani oleh seorang pengawal, anak menteri, bernama Candaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan ke desa dia menikmati pemandangan yang indah, tapi melihat para petani bercucuran keringat kelelahan membajak sawah, tanah dipacul dan dibuang kesamping, dan kelihatan cacing dan binatang melata lainnya terputus badannya oleh ayunan pacul. Semua ini membuat dia berpikir, sungguh semua makhluk hidup menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesucian yang tinggi dalam benaknya terbentuklah sikap akan kepribadian yang luhur, dia melangkah turun dari kudanya dan berjalan dengan hati–hati dan perlahan-lahan diatas tanah, melewatinya dengan gundah-gulana. Pikirannya penuh dengan hal-hal kesengsaraan dan penderitaan makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya perlu ketenangan. Dia memisahkan diri dari temannya yang berjalan dibelakangnya dan pergi mencari suatu tempat sunyi dekat sebuah pohon besar yang rimbun. Daun-daun yang menyejukkan dari pohon itu dalam keadaan tidak bergerak, dan tanah dibawah itu nyaman. Disana ia duduk bersila, memikirkan mengenai asal mula dan matinya dari semua makhluk hidup. Pikirannya terus menerawang mengenai hal-hal tersebut. Pikirannya penuh konsentrasi dan menjadi tenang. Ketika ia memenangkan kerisauan, dia tiba-tiba bebas dari semua keinginan akan hakekat rasa dan kenafsuan duniawi. Dia telah mencapai tingkat pertama mengenai ketenangan luar biasa, yaitu tenang di tengah-tengah pikiran yang beraneka ragam. Dalam tempatnya itu, dia telah berada pada tingkat kesucian pikiran yang luar biasa. Sekarang dia tidak gembira maupun duka, tidak mengenal tawa atau tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6. Bertemu Pertapa Secara Tiba-tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian yang sifatnya murni dan bersih ini tumbuh lebih lanjut dalam jiwanya yang luhur. Dia melihat seorang pria muncul kehadapannya yang tidak kelihatan oleh orang lain, yang muncul dalam samaran sebagai seorang peminta-minta saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran lalu bertanya, “Katakanlah kepada saya siapa anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah : “Oh bagaikan sapi jantan di antara orang-orang, saya adalah pertapa, yang ditakuti oleh kelahiran dan kematian, telah mengambil suatu kehidupan berkelana untuk mencapai keselamatan. Karena seluruh akhirnya tidak kekal. Keselamatan dari dunia ini adalah apa yang saya inginkan dan saya mencari kebahagiaan yang paling sempurna, di mana pemusnahan tidak dikenal. Sanak keluarga dan orang asing sama saja bagi saya, perasaan rakus serta kebencian juga telah sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa ini bernama Arada Kalama dan Pangeran Sidharta Gautama langsung berguru kepadanya. Sebagai gurunya yang pertama dalam hal untuk mencari pembebasan penderitaan bagi dunia. Chandaka yang &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jL6Bb_pFI/AAAAAAAAAGI/5D7cDPP0Qt8/s1600-h/pelepasan+agung.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jL6Bb_pFI/AAAAAAAAAGI/5D7cDPP0Qt8/s320/pelepasan+agung.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;mendampinginya di suruh pulang dengan kudanya, Kanthaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temanku, jangan bersedih, “ ujar pangeran, “ Bawalah kuda ini serta pesan saya kepada raja dan rakyat di Kapilavastu yang selalu memperhatikan saya. Hentikan rasa kasih sayang kepadaku dan dengarkanlah ketetapan hatiku yang tak tergoyahkan. Apa aku akan meleyapkan usia tua dan kematian, dan kemudian engkau akan segera melihat aku lagi. Atau aku akan kehilangan semua, sebab aku gagal dan tidak dapat mencapai tujuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Sidharta Gautama telah menjadi pertapa kelana. Beliau juga telah menjadi Bodhisattva. Beliau tidak puas mengikuti gurunya yang pertama ini, karena ia hanya dapat belajar sampai pada tingkatan tertentu saja dalam meditasi. Lalu beliau mencari lagi orang suci lain yang bernama Undraka Ramaputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan guru yang kedua ini beliau juga tidak puas, karena hanya sampai pada tingkat meditasi yang lebih tinggi saja. Yang beliau ingin cari adalah Kebahagiaan sejati, yaitu akhir dari segala penderitaan.. Akhirnya alkisah beliau memutuskan untuk berdaya upaya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jLj0QPB-I/AAAAAAAAAGA/Q9ZyCvlsMpA/s1600-h/buddha_latihan_kekerasan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jLj0QPB-I/AAAAAAAAAGA/Q9ZyCvlsMpA/s320/buddha_latihan_kekerasan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;1.7. Latihan Mengenai Kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak waktu itu, pangeran yang sekarang telah menjadi seorang Bodhisattva, dengan rajin belajar pelbagai latihan di antara para pertapa dan para yogi. Dia berkelana mencari tempat pengasingan yang sunyi, untuk tinggal pada tepi sungai Nainranjana. Lima orang pertapa telah tinggal pada tepi sungai itu, sebelum ia menuju kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucian dari lubuk hati muncul dari keberanian dirinya sendiri. Mereka menempuh kehidupan dengan disiplin keras sekali, dalam ketaatan terhadap janji agama masing-masing mengenai lima perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para pertapa itu melihat dia disana , mereka menunggu dia untuk memberikan ajaran perihal pembebasan, menunggu seorang yang agung yang hakekat kebaikan dari kehidupan lampaunya telah memberikan berkah dan karunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyapa dengan hormat, membungkukkan badan mereka di hadapan bodhisattva, mengikuti petunjuknya, dan menempatkan diri mereka sendiri sebagai murid dibawah pengawasannya. Bagaimanapun juga, dia mulai pada cara tapa yang keras, dan khususnya mengenai penderitaan akibat kelaparan sebagai jalan mengakhiri kelahiran dan kematian. Karena keinginannya yang sungguh-sungguh badannya menjadi kurus selama enam tahun, dengan melaksanakan puasa secara ketat, yang sangat sukar bagi orang biasa untuk bertahan. Pada jam makan, dia harus puasa bila hanya makan sebutir, yang maksudnya dia telah memenangkan pantai Samsara. Sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, hanya tinggal tulang-belulang terbungkus kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pda suatu hari, dia sedang duduk dibawah pohon bodhi terdengar suara lagu yang syairnya kira-kira mempunyai arti sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bila senar gitar ini dikencangkan,&lt;br /&gt;Suaranya akan semakin tinggi.&lt;br /&gt;Kalau terlalu kencang,&lt;br /&gt;Putuslah senar gitar itu, dan lenyaplah suara gitar itu.&lt;br /&gt;Bila senar gitar ini dikendorkan,&lt;br /&gt;Suaranya akan semakin rendah.&lt;br /&gt;Kalau terlalu dikendorkan,&lt;br /&gt;Maka lenyaplah suara gitar itu.&lt;br /&gt;Karena itu wahai manusia,&lt;br /&gt;Mengapa belum sadar-sadar pula,&lt;br /&gt;Dalam segala hal janganlah keterlaluan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Pertapa Gautama menghentikan tapanya yang sangat ekstrim yang telah dijalani selama enam tahun di hutan Uruwela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.8. Pemberian Nandabala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pertapa Gautama pergi ke sungai untuk mandi. Sesudahnya mandi, dia hampir tidak kuat bangun ke permukaan tepi sungai disebabkan badannya sangat lemah. Dengan bersusah payah akhirnya sampai juga didarat dan berjalan tidak terlalu jauh, dia duduk dibawah pohon Asetta. Seorang wanita yang kebetulan lewat, melihat tubuh pertapa Gautama begitu lemah. Wanita itu bernama Nandabala, memberikan dia semangkuk susu yang dimasak dengan nasi. Setelah makan, badannya terasa hangat dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima pertapa yang telah bersama-sama dia selama enam tahun, menyaksikan kejadian ini lalu meninggalkan dia. Mereka sangat kecewa hatinya dan menganggap pertapa Gautama telah gagal, dan pergi meninggalkan dia seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa Gautama berpikir bahwa cara yang selama ini dilakukan adalah salah. Lagipula, dia selama ini belum dan bahkan tidak dapat menemukan apa yang dicarinya. Dia berkesimpulan bahwa hanyalah dengan badannya yang sehat dan pikiran yang jernih, barulah dapat meneruskan niatnya untuk mencapai penerangan sempurna. Seterusnya, pertapa gautama makan kembali sekedarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebulatan tekad dan keyakinan diri sendiri, akhirnya pertapa Gautama memutuskan untuk bermeditasi. Dia mencari tempat yang sunyi, tenang, Di bawah pohon bodhi (diceritakan bahwa pohon bodhi ini tumbuh bersamaan waktu ia lahir). Selanjutnya dia duduk bermeditasi dengan sikap duduk Padmasana dan berjanji kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan bergeming sedikit pun juga, dan berhenti bermeditasi ditempat ini sebelum tujuannya memperoleh penerangan (Nirvana) tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.9. Mengalahkan Mara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa Gautama adalah keturunan dari para pertapa yang setia dan memiliki kebijaksanaan tinggi. Dia telah memutuskan untuk mengalahkan kemelekatan dan memenangkan pembebasan. Dalam meditasinya datanglah Mara untuk mengoda. Mara adalah musuh utama Bodhisattva, namun dia dapat menaklukkan godaan Mara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.10. Penerangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengalahkan Mara, dengan kebulatan tekad dan ketenangannya, Bodhisattva Gautama berhasil meneruskan meditasinya. Akhirnya Bodhisattva Gautama secara berturut-turut telah mengalami :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bodhisattva Gautama mampu mengalahkan para pengikut Mara, beliau telah mengalami yang pertama kali dari empat tingkatan dhyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan pertama malam itu:&lt;br /&gt;Dengan kekuatan mata batinnya yang luar biasa (divyacaksus), Dia menghancurkan kegelapan (tamas) dan menghasilkan terang (alokam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengamatan menengah, Dia mengingat kehidupan masa lampaunya dan memperoleh pengetahuan seperti itu (vidya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengamatan ketiga, ketika fajar menyingsing, Dia menyadari dan memperoleh pengetahuan mengenai penghancuran dari asravas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dia merenungkan sampai tiga kali tentang 12 jenis pratitya samutpada. Pertama-tama, dia mulai dengan usia tua dan kematian, dan berpikir, “Apa yang terjadi mengenai jaramarana? Apakah penyebabnya?” Dia mengulangi pertayaan itu sampai pada avidya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua kali, dia mulai dengan avidya, dan berpikir demikian, Samakara timbul dari avidya sebagai penyebabnya, dan seterusnya, sampai pada hubungan mata rantai pratitya-samutpada yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga kali, dia mulai dengan jara-marana dan berpikir demikian, “Apa yang tidak bereksistensi, jara-marana tidak akan terjadi? Apa yang menyebabkan penghentian jara-marana? Dia meneruskan dengan cara ini dan berakhir pada avidya. Kemudian Dia menyadari bahwa Pengetahuan, Penglihatan ke dalam, Kebijaksanaan, dan Penerangan telah timbul dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah mengetahui fakta dan hakekat dari penderitaan itu, mengenai asravas, dan perihal 12 faktor tentang sebab-musabab yang saling bergantungan. Dia mengetahui pula tentang asal mula dan sebab penghentian semua itu, dan juga jalan menuju ke Penghentian itu. Jadi Dia memperoleh Pengetahuan kelipatan tiga dan memperoleh Penerangan sempurna yang tertinggi. Dia mengetahui, mengerti, menyaksikan, dan merealisasikan semua yang di ketahui, dimengerti, disaksikan, dan direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian bangun dan melompat ke angkasa dengan ketinggian tujuh kali pohon bodhi. Dia berbuat demikian untuk meyakinkan para deva bahwa Dia telah memperoleh Penerangan. Dia mengucapkan sajak berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jKwPF4WYI/AAAAAAAAAF4/JFwfUzDjbiM/s1600-h/Buddha_bodhi.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jKwPF4WYI/AAAAAAAAAF4/JFwfUzDjbiM/s320/Buddha_bodhi.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Jalan itu telah diputuskan; debu itu telah dihilangkan;&lt;br /&gt;Asravas telah dikeringkan, mereka tidak akan mengalir lagi.&lt;br /&gt;Bila jalan itu telah diputuskan, dia tidak kembali lagi,&lt;br /&gt;Ini dinamakan akhir dari Penderitaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Buddha harus menunjukkan tanda-tanda kemampuan seperti itu. Para dewa menaburi aneka bunga kepada-Nya dan mengakui ke-Buddha-an-Nya. Penerangan dan kebahagiaan menyebar ke seluruh alam semesta, dan sampai menggoncangkan enam alam. Semua Buddha memuji Buddha yang baru itu dan menghadiahkan Dia payung permata yang mengeluarkan sinar penerangan. Semua Bodhisattva dan deva gembira dan memuji Buddha itu. (Penerangan ini diterjemahkan dari Penerangan yang di edit oleh P.Ghosa, Calcutta, 1902-13, Bibliotheca Indita, Catasahasrika Prajna Paramita, Bab I-XII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi Hinayana, beliau memperoleh Penerangan atau Pencerahan Agung dan menjadi Buddha (Samyak-Sam-Buddha) dibawah pohon Bodhi di Bodh-Gaya, pada saat bulan Purnama Sidhi pada hari Waisak, pada usia 35 tahun. Sedangkan menurut versi Mahayana, Beliau mencapai Penerangan atau menjadi Buddha Shakyamuni (Samyak-Sam-Buddha) pada tanggal 8 bulan 12 (lunar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha, dari tubuh suci Beliau memancarkan enam sinar yang disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha.&lt;br /&gt;Sejak saat itu dan selama hidup-Nya, Beliau dapat memancarkan enam sinar suci itu bilamana dikehendaki-Nya. Kadang-kadang Beliau mengirim sinar suci-Nya dengan warna-warna itu untuk mengubah tabiat para manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam warna sinar-Nya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nila = biru.&lt;br /&gt;Berarti bakti atau pengabdian. Dia telah menjadi Buddha mempunyai sifat bakti dan pengabdian yang tiada taranya kepada manusia yang menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pita = kuning.&lt;br /&gt;Berarti kebijaksanaan, mahatahu, seorang Buddha adalah berpengetahuan luas dan mahatahu (Sarvakarajnata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rohita = merah.&lt;br /&gt;Berarti kasih sayang dan welas asih. Seorang Buddha mempunyai rasa maha kasih sayang dan maha welas asih yang tidak terbatas terhadap semua makhluk. Pada seorang Buddha sudah tidak ada lagi rasa benci, sentimen, kejam, iri hati, dan dengki, yang ada pada diri-Nya hanya maha welas asih kasihan tanpa perbedaan dan perasaan bahagia bila mengetahui atau melihat orang lain dapat hidup senang dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Avadata = putih&lt;br /&gt;Berarti suci. Seorang Buddha telah suci batin-Nya dan pikiran-Nya tidak dapat dikotori lagi oleh segala macam kekotoran dunia. Maka dari itu seorang Buddha atau Bodhisattva dilukiskan sebagai mutiara yang berada di atas bunga teratai (mani-padma).&lt;br /&gt;Bunga teratai meskipun tumbuh dirawa yang penuh lumpur, diatas bunga teratai itulah seorang Buddha atau Bodhisattva duduk atau berdiri laksana mutiara yang putih berkilauan, yang bebas dari segala kekotoran dan tidak dapat kena kotoran karena dialasi bunga teratai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Manjistha = orange, jingga.&lt;br /&gt;Berarti giat, Seorang Buddha mempunyai semangat yang luar biasa, giat menyebar Dharma kepada dewa dan manusia serta melakukan segala perbuatan baik yang berfaedah bagi orang banyak dan makhluk-makhluk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Prabhasvara = bersinar-sinar, sangat terang, cemerlang merupakan warna campuran dari kelima warna tersebut diatas; berarti campuran dari kelima sifat tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tujuh hari Beliau meneruskan meditasinya di tempat yang sama. Tubuh-Nya tidak memberikan kesusahan pada-Nya, matanya tidak pernah tertutup, dan pikiran-Nya terus bekerja. Dia merenung, “Di tempat inilah saya menemukan Pembebasan.” Dia mengetahui kemauan-Nya akhirnya terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu Indra dan Brahma sebagai dua kepala Deva yang tinggal di langit, telah mengerti kemauan Tathagata Sugata (Shakyamuni) untuk memprokamirkan jalan itu untuk kedamaian. Tubuh mereka yang bercahaya terang mendatangi Dia, dengan hormat dan ramah berkata kepada-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harap jangan menyalahkan semua makhluk sebagai tidak berguna, disebabkan keinginan harta benda seperti itu didunia ini! Jadi dengan tidak membeda-bedakan mereka adalah amal Wiyata. Sementara sebagian dari mereka masih memiliki hawa nafsu, sebagian lainnya hanya memiliki sedikit hawa nafsu. Sekarang Engkau, oh Yang Maha Bijaksana,telah ber-Penerangan dan menyeberangi lautan Samsara ini, tolonglah menyelamatkan juga makhluk lain yang telah tenggelam sebegitu jauh dalam penderitaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua deva itu bersabda demikian, karena mereka tahu bahwa dengan mata batin yang dimiliki seorang Buddha, Beliau telah melihat dalam dunia itu banyak makhluk berpandangan rendah dan hidup secara keliru, jiwanya tertutup tebal oleh kekotoran hawa nafsu. Dari sisi lain, dia menyadari banyak kepelikan dari Dharma-Nya tentang Pembebasan. Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dharma, namun ketika Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dharma, namun ketika Dia mempertimbangkan arti dan janji-Nya untuk memberikan Penerangan kepada semua makhluk, yang telah dia ucapkan pada masa lampau, dia mempertimbangkan kembali untuk memproklamirkan Jalan itu untuk Kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah membuat permintaan ini kepada Yang Maha Bijaksana kedua deva itu memohon diri dan kembali ke surga tempat mereka. Yang Maha Bijaksana mempertimbangkan kembali dengan hati-hati atas kata-kata mereka. Akhirnya keputusan-Nya, Dia menyetujui untuk membebaskan dunia ini dari Penderitaan.Dia menyetujui untuk membebaskan dunia ini dari Penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana teringat akan Arada dan Undraka Ramaputra adalah dua orang yang terbaik dan cocok untuk memahami Dharma-Nya. Namun dengan mata batin-Nya, Dia melihat kedua pertapa itu telah meninggal dan berdiam diantara para deva dilangit. Pikiran-Nya kemudian ditujukan kepada lima orang pertapa yang dahulu pernah bersama-sama Beliau menjalani tapa yang sangat ekstrim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Beliau pergi sendiri ke kota Kashi, sekali lagi Beliau memandang ke pohon Bodhi itu sebagai tanda ucapan terima kasih karena di tempat inilah Beliau mencapai Penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.11. Bertemu Dengan Seorang Pertapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama telah menyelesaikan tugas utamanya, dan sekarang Dia dengan tenang dan penuh keagungan pergi berkelana sendirian. Tapi sesungguhnya para deva, Bodhisattva, dan Buddha selalu mendampingi Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang pertapa yang sungguh-sungguh berniat mempelajari Dharma. Ketika dia melihat Buddha Gautama di jalan, karena keheranan dia bersikap anjali dan berkata kepada-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan orang lain tiada henti-hentinya bagaikan kuda, tapi perasaan-Mu telah dijinakkan. Makhluk lain memiliki hawa nafsu, tapi hawa nafsu-Mu telah berhenti. Tubuh-Mu bersinar bagaikan bulan di langit pada malam hari. Anda muncul dengan Kebijaksanaan baru. Paras-Mu mencerminkan intelektual. Anda telah menguasai perasaan-Mu dan memiliki mata bagaikan seekor sapi jantan yang sangat kuat. Tiada diragukan lagu, Anda telah mencapai tujuan-Mu. Siapa guru Anda, dan siapa yang telah mengajarkan Anda kebahagian yang luar biasa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama menjawab, “Saya tidak mempunyai guru. Tidak satupun yang perlu saya muliakan, dan tiada seorang jua Saya harus memandang rendah. Nirvana telah saya peroleh dan saya tidak sama seperti yang lainnya. Saya tenang oleh Saya sendiri sebagaimana engkau lihat sendiri, karena saya telah menguasai Buddha Dharma. Secara sempurna Saya telah mengerti apa yang harus di mengerti hal itu. Itulah alasan mengapa Saya adalah seorang Buddha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan penjelasan itu, pertapa itu pergi, walaupun dia melihat Hyang Buddha dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.12. Pertemuan Dengan Lima Orang Pertapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana tiba dikota Kashi, melihat kota ini menyerupai daerah pedalaman bagaikan suatu bunga rampai. Kota Kashi yang terletak diantara dua sungai, Sungai Bhagirathi dan Varanasi, yang saling bertemu seperti sepasang kekasih yang bersatu. Beliau dengan tubuh gemerlapan yang penuh keagungan, bersinar bagaikan sinar matahari, Dia pergi ke Taman Rusa. Taman Rusa ini sering dikunjungi oleh para pertapa besar. Diwaktu malam terdengar jelas gemerisik suara pohon-pohon dan gema dari bunyi burung-burung elang malam ditaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mendiami taman ini adalah kelima pertapa yang bernama yang bernama Ajnata Kaundiya, Mahanaman, Vaspha, Asvajit, dan Bhadrajit. Ketika mereka melihat Dia dari kejauhan, mereka berkata satu sama lainnya, “Itulah teman kita yang dulu simpatik dan baik, pertapa Gautama, yang menyerah atas kekerasan. Bila dia datang kepada kita, sudah tentu jangan menemuinya. Jelas dia tidak berharga untuk disalami. Orang-orang yang telah melanggar janjinya tidak patut mendapat hormat.” “Sudah pasti, jika dia ingin berbicara dengan kita, marilah kita dengan segala cara jangan menghiraukan dia. Bagi orang suci tidaklah perlu menghargai para pengunjung, siapapun mereka yang tidak taat pada disiplin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pertapa itu, ketika Hyang Buddha datang menghampiri mereka dengan segera membatalkan rencana semula. Semakin dekat Dia datang, semakin lemah niat mereka untuk menghindar. Salah satu mengambil jubahnya, yang lain datang yang lain dengan tangan melipat mengeluarkan mangkuk-untuk-meminta-minta, yang ketika menawarkan tempat duduk yang layak, dan yang dua lagi memberikan air untuk mencuci kaki-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap hormat yang bermacam-macam ini, mereka memperlakukan Dia sebagai guru mereka. Tapi mereka dengan tiada henti-hentinya memanggil Dia dengan nama keluarganya, sebab kelima pertapa itu belum mengetahui bahwa Gautama sekarang ini telah menjadi seorang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gautama memberitahukan bahwa sekarang ini Dia bukan lagi Gautama seperti dulu selagi bersama-sama bertapa, tapi sudah menjadi seorang Buddha. Kelima pertapa itu mengikuti disiplin yang keras saja tidak diindahkan. “Bagaimana mungkin dengan perbuatan dulu itu sekarang Gautama dapat mengerti Kebenaran yang sesungguhnya, “ pikir para pertapa, “apa dasarnya Engkau mengatakan kepada kami bahwa engkau telah melihat Kebenaran?” tanya para pertapa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.13. Memutar Roda Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jMYTxEwBI/AAAAAAAAAGQ/9aZuphU-ZUU/s1600-h/roda_dharma.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jMYTxEwBI/AAAAAAAAAGQ/9aZuphU-ZUU/s320/roda_dharma.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Para pertapa itu tidak mempercayai Kebenaran yang ditemukan oleh Tathagata. Karena Jalan untuk Penerangan yang ditemukan Dia adalah berbeda dari mereka dengan cara latihan kekerasan. Buddha Gautama mengurai secara terinci kepada mereka jalan itu. Jalan itu adalah pengetahuan yang ditemukan dan dialami langsung oleh Dia. Sedangkan ‘orang bodoh hanya menyiksa diri mereka sendiri, dan mereka hanya melekat pada pengendalian perasaan’. Kedua cara ini harus dianggap keliru, sebab cara mereka bukanlah menuju pada jalan yang kekal. Inilah yang dinamakan jalan kekerasan yang membingungkan pikiran sebab lebih dikuasai oleh keletihan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah mereka kehilangan kemampuan untuk dapat mengerti risalah doktrin. Mereka masih banyak kekurangannya. Apakah mereka bersedia mengubah cara mereka hanya dengan penekanan hawa nafsu menuju Ketenangan? Dia telah meninggalkan kedua cara yang ekstrim itu, dan telah menemukan Jalan lain, yaitu Jalan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan tengah itu menuju ketentraman dari segala Penderitaan, lagipula Jalan Tengah Itu bebas dari segala Kebahagiaan dan Kesenangan. Hyang Buddha kemudian menguraikan dengan terinci kepada kelima pertapa itu Empat Kesunyataan Mulia’ (Catvari Arya Satyani) dan Delapan Jalan Utama atau Jalan Benar dan Suci sebagai Jalan Tengah (Arya Astangika Marga).&lt;br /&gt;Khotbah Hyang Buddha yang pertama ini di Taman Rusa dikenal dengan nama Pemutaran Roda Dharma (Dharmacakra Pravartana Sutra). Ajnata Kaundiya adalah Bhiksu pertama yang ditahbiskan oleh Hyang Buddha, menyusul keempat temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.14. Pertemuan Antara Ayah Dengan Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Hyang Buddha pergi ke Kapilavastu. Dia ingin memberikan Khotbah kepada ayah-Nya tentang Dharma. Beliau juga menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada ayah-Nya. Maka hal itu membuat ayah-Nya lebih mantap untuk menerima Dharma. Ayahnya meluapkan kegembiraannya setelah mendengarkan Dharma. Dia melipat tangannya sebagai tanda sebagai tanda hormat dan berkata kepada anaknya, “Bijaksana dan berhasil adalah perbuatan-Mu, dan Engkau telah melepaskan saya dari Penderitaan besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan sebagai hadiah dari bumi ini, yang dinikmati oleh kita tiada lain hanyalah duka. Sekarang saya merasa senang mempunyai seorang anak yang berhasil. Engkau benar telah melakukan pekerjaan besar seperti itu. Dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk-Mu menyelami perasaan terharu kami, sanak keluarga-Mu yang tercinta, yang telah mencintai-Mu dengan penuh kasih sayang, semua itu telah Engkau tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kepentingan dunia yang penuh penderitaan, Engkau telah menempuh kenyataan yang paling benar, yang tidak ditemukan bahkan oleh para pertapa di masa lampau baik oleh para dewa maupun raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Engkau telah memilih jalan untuk menjadi Kepala Alam Semesta, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada saya kesenangan yang melebihi segala sesuatu yang pernah saya rasakan, dan dengan menyaksikan kemampuan-Mu yang menakjubkan dan mengenai Dharma-Mu yang suci. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah-nya melanjutkan ucapannya, “Engkau telah menaklukan penderitaan besar bagi dunia Samsara. Engkau telah menjadi seorang Maha Bijaksana yang telah memproklamirkan dharma demi kebahagiaan dunia. Kemampuan-Mu yang Menakjubkan, intelektual-Mu yang cemerlang, Pelarian diri yang pasti dari bahaya yang tidak terhitung miliknya dunia Samsara. Hal-hal seperti ini telah membuat Engkau menjadi raja yang berdaulat atas dunia, sekalipun tanpa lencana kerajaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.15. Perjalanan Lebih Lanjut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu Hyang Buddha melanjutkan perjalanan pergi mengunjungi Shravasti. Beliau menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada rakyat Shravasti dan menyangkal ajaran-ajaran setempat yang tidak benar. Shravasti memberikan penghormatan besar dan memuja Dia. Hal ini mengingatkan Raja Prasenajit dan menghadiahkan Dia sebuah hutan kecil Jetavana untuk tempat istirahat dan memberikan Khotbah kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Beliau berpisah dengan rakyat Shravasti berhubung Beliau ingin pergi berKhotbah ke tempat lain, yakni ke langit tingkat ke-33, di mana ibu-Nya tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan tegak dengan penuh keagungan yang mulia dan menakjubkan bagi siapa saja yang melihat-Nya. Dia pergi ke langit untuk menemui ibu-Nya dengan maksud memberikan Khotbah Dharma demi kebaikan ibu-Nya. Pada saat menjelang keberangkatan-Nya, pada raja bumi membungkuk rendah dan muka mereka menengadah ke langit sebagai tanda hormat melepas keberangkatan Beliau. Dengan kemampuan yang dimiliki-Nya, sebentar saja Beliau sudah sampai ke langit tempat tinggal para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan-Nya menuju ke langit tingkat Ke 33, Beliau telah melewati musim hujan di langit, dan menerima derma dari raja dewa yang tinggal di alam non-materi. Sesudah melewati dunia dewa, Dia meneruskan perjalanan-Nya dan pergi ke bawah ke wilayah Samkashya. Para dewa di wilayah ini, setelah menerima kehadiran-Nya , masing-masing memperoleh pendalaman ketenangan dan kemajuan spiritual yang lebih tinggi lagi. Ketika Beliau hendak meninggalkan mereka, para dewa berdiri di depan rumah besar mereka untuk memberikan hormat sebagai tanda ucapan terima kasih. Mata mereka terus mengikuti keberangkatan-Nya sampai Beliau menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Beliau sampai di langit K-33 – tempat tinggal ibu-Nya – Buddha Gautama memberikan petunjuk dan Khotbah kepada ibu-Nya dan juga para dewa sekalian yang berada di sana. Yang Maha Bijaksana meluruskan jalan mereka dan semua juga telah siap untuk mendengarkan Khotbah dan petunjuk-Nya karena mereka semua menaruh kepercayaan terhadap Buddha Dharma.&lt;br /&gt;Ibu-Nya – setelah mendengarkan Khotbah-Nya – juga mencapai tingkat Arahat. Setelah selesai memberikan Khotbah dan petunjuk, Beliau kembali lagi ke Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.16. Penyebaran Buddha Dharma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama semasa hidup-Nya selama empat puluh lima tahun terus-menerus menyebarkan Buddha Dharma ke berbagai negeri. Beliau telah pergi menyebar Dharma sampai ke tengah-tengah lembah Sungai Gangga bagian Utara-Timur India, Benares,Uruvela, Rajagraha, Veasali, Sravasti, Kosambi, dan Kapilavastu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid ke enam Buddha Gautama bernama Yasa, anak dari keluarga kaya. Yasa menjadi murid Hyang Buddha karena merasa jijik melihat kesenangan duniawi yang penuh kepalsuan dan kekotoran batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibunya juga menjadi Upasaka dan upasika. Teman-temannya sebanya 54 orang juga menjadi murid Hyang Buddha. Jumlah semua Bhiksu menjadi 60 orang. Semuanya anggota Sangha dan mencapai Arahat (Ariya Sangha). Upasaka dan Upasika yang telah mencapai tingkat Arahat disebut Ariya Punggala. Bhiksu yang anggota Sangha yang belum mencapai tingkat Arahat di sebutSamsuri Sangha. Sangha untuk pertama kali dibentuk oleh Hyang Buddha beranggotakan lima orang yaitu murid-muridnya kelima pertapa itu. Hyang Buddha untuk pertama kali di Taman Rusa (Isipatana) kepada siswa-Nya (60 orang Arahat) anggota sangha mengucapkan Saranataya atau Tisaranagamana Upasampada yang berarti perlindungan ke pada Buddha, Dharma, dan Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60 bhiksu itu juga menyebarkan Buddha Dharma secara sendiri-sendiri ke berbagai negeri. Karena tiap-tiap negeri di Jambudvipa atau India kaya dengan bahasa-bahasa, maka Hyang Buddha mengijinkan murid-murid-Nya dalam membabarkan Dharma boleh memakai bahasa setempat agar dapat dimengerti oleh para pendengar. Hyang Buddha memberikan nasehat kepada mereka, “oh para bhiksu, majulah terus dalam menyebarkan Buddha Dharma demi kebaikan manusia. Siarkanlah Dharma ini untuk kebahagiaan orang banyak.”&lt;br /&gt;Buddha Gautama sendiri juga menyebarkan Buddha Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang telah mendengarkan Buddha Dharma yang dibabarkan oleh para siswa Hyang Buddha ingin menjadi bhiksu juga. Para bhiksu itu membawa mereka yang ingin menjadi bhiksu ke Hyang Buddha. Karena setiap kali bila ada yang ingin menjadi bhiksu terlebih dahulu dibawa ke hadapan Hyang Buddha, atas pertimbangan perjalanan yang jauh dari satu negeri dan kemudahan maka Hyang Buddha mengijikan para siswanya untuk mentahbiskan calon bhiksu dengan syarat mengucapkan Saranataya atau mengulangi Tisarana yaitu Tisaranagamana Upasampada, calon bhiksu harus mencukur rambut, jenggot, kumis, memakai jubah (warna kuning atau coklat), berlutut dan bersikap anjali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga macam Bhiksu, yaitu :&lt;br /&gt;1. Ehi Bhikku yang ditabiskan oleh Hyang Buddha&lt;br /&gt;2. Tisarana Gamana Bhikku yang ditahbiskan oleh siswa Hyang Buddha ( 60 orang Arahat itu).&lt;br /&gt;3. Naticatutthakamma Bhikku yang di tahbiskan melalui sangha (saat setelah Hyang Buddha dan siswanya tidak memberikan pentahbisan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan pentahbisan Sangha haruslah 5 orang bhiksu dan semuanya Sthavira atau thera (10 Vasa). Satu stel jubah Bhiksu terdiri dari: satu potong jubah dalam (Ancera rasaka civara), satu potong jubah luar (Uttarasanga Civara), Satu potong jubah atas (sanghari Civara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama banyak mendapat dukungan antara lain Raja Bimbisara dari kerajaan Bimbisara (ada juga yang menyebutnya kerajaan Magadha), kerajaan yang pertama kali dikunjungi Beliau. Setelah mendengar Khotbah Hyang Buddha, Raja Bimbisara mempersembahkan Arama Hutan Bambu (Veluvana Rama) bagian selatan Jambudvipa atau India kepada Hyang Buddha dan Sangha untuk tempat istirahat dan sebagai tempat berKhotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Raja Bimbisara bernama Ajatasattu mula-mula menyokong Buddha Gautama, namum kemudian terkena pengaruh dan berkelompot dengan Devadatta. Delapan tahun sebelum parinirvana Hyang Buddha, mereka mencoba membunuh Buddha Gautama, namun semua rencana mereka tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyokong lainnya ialah Raja Kosala dari Visakha, dan hartawan Anathapindika. Karena kemurahan hatinya Anathapindika diingat sebagai kepala dermawan juga dikenal dengan nama Sudatta. Anathapindika memberi hutan Jetavana dekat savatthi dan mendirikan vihara bagi para bhiksu. Anathapindika selama hidupnya sangat menyokong dan mengorbankan harta bendanya untuk perkembangan Agama Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun itu juga setelah Beliau mencapai Penerangan, Buddha Gautama kembali ke Kapilavastu, disamping memberikan Khotbah kepada rakyat Kapilavastu, dan ayah-Nya, Suddhodana, yang kemudian hari menjadi Arahat dan masuk ke surga Sotapanna. Setelah hari ke-7 Hyang Buddha berada di Kapilavastu, di saat Beliau sedang makan siang, Putri Yasodhara mengajak putranya Rahula melihat dari jendela ke arah Buddha Gautama. Putri Yasodhara menanyakan kepada Rahula, siapakah Dia yang sedang makan? Rahula menjawab bahwa Dia yang sedang makan adalah Hyang Buddha. Mendengar jawaban putranya, putri Yasodhara sangat sedih sampai meneteskan airmata dan berkata. “Beliau adalah Buddha, dan juga ayah kandungmu. Dia rela meninggalkan segala harta benda, kemewahan, kesenangan duniawi, kekuasaan, pangkat, ketenaran, meninggalkan istana, dan sekarang menjadi Buddha. Dia telah memperoleh harta abadi melebihi segala harta benda yang ditinggalkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Rahula yang pada saat itu berusia 7 tahun datang menghadap Buddha Gautama dengan sapa hormat dan sopan santun. Hyang Buddha Menasehatkan kepada Rahula bahwa segala harta benda yang telah ditinggalkan tidak lebih bernilai dan abadi daripada harta yang telah diperoleh-Nya sekarang yakni Dharma – Penerangan Sempurna. Rahula lalu ditahbiskan menjadi Samanera atau Calon bhiksu. Melihat kejadian ini putri Yasodhara mula-mula merasa sedih karena suaminya, Pangeran Sidharta, menolak menjadi raja. Sejak saat itu, bagi yang masih dibawah umur bila hendak ditahbiskan menjadi samanera haruslah mendapat persetujuan dan ijin dari orang tua calon samanera itu. Rahula kemudian menjadi bhiksu dan mencapai Arahat. Juga putri Yasodhara kemudian menjadi Bhiksuni dan mencapai Arahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Buddha juga memberikan Khotbah kepada rakyat Kapilavastu sehingga banyak rakyat menjadi Upasaka dan Upasika. Beliau menjelaskan kepada para siswa-Nya dalam kehidupan sehari-hari, selalu menjunjung tinggi Buddha Dharma dan mengajarkan kepada orang lain, semua itu merupakan penghormatan yang tertinggi kepada-Nya, Buddha Gautama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.17. Devadatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devadatta, saudara sepupu-Nya, juga seorang anggota Sangha, tapi ia memiliki sifat dengki dan sombong. Melihat kebesaran dan keberhasilan-Nya, hati Devadatta sangat terluka dan timbul niat buruk untuk mencelakakan Buddha Gautama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devadatta juga membuat perpecahaan dalam Sangha, juga berani berbuat hal-hal yang tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, dia mengetahui Hyang Buddha Gautama akan melewati jalan yang berada dibawah puncak Burung Bering. Devadatta lantas menjatuhkan sebuah batu gunung besar dari puncak itu dengan maksud agar batu gunung itu menimpa Yang Maha Bijaksana. Tapi batu gunung itu tidak mengenai dan melukai Dia, batu itu pecah menjadi dua dan jatuh ke arah lain sebelum menimpa Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devadatta mengulangi lagi rencana jahatnya dengan cara melepaskan seekor gajah liar pada jalan utama yang dilalui raja, dimana jalan ini akan dilalui oleh Maha Bijaksana. Gajah liar berlari-lari dengan kencang ke arah Dia, dengan suara mendengus kencang bagaikan guntur yang akan membelah bumi, bagaikan angin kencang di angkasa di malam gelap gulita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mengetahui rencana jahat Devadatta, semua mengucurkan air mata dan banyak orang berusaha untuk menghalangi gajah itu tapi tidak berhasil. Yang Maha Bijaksana diberitahukan akan bahaya, tapi Yang Maha Bijaksana terus berjalan dengan tenang dan tanpa ada rasa takut. Karena Dia memang punya perasaan prihatin dan sayang terhadap semua makhluk hidup, para Dewa dan Dewi, para Bodhisattva dan Buddha juga turut melindungi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bhiksu yang mengikuti Buddha Gautama telah lari tunggang-langgang karena ketakutan, hanya tinggal Ananda sendiri yang mendampingi Dia. Buddha Gautama tetap tenang dan terus berjalan. Gajah itu berlari-lari dengan kencang ke arah Hyang Buddha untuk menubruk-Nya. Tapi sebelum gajah itu datang mendekat, Yang Maha Bijaksana dengan kekuatan Spiritual-Nya dapat membujuk gajah besar liar itu jinak, dan tidak menyentuh sedikit juga tubuh Hyang Buddha. Gajah besar liar itu menundukkan kepalanya dan menjatuhkan badannya ke tanah di hadapan Hyang Buddha dengan menimbulkan suara yang gemuruh. Yang Maha Bijaksana dengan penuh kasih sayang, dengan kelembutan tangan-Nya mengusap-usap kepala gajah besar liar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devadatta setelah menyaksikan kejadian tersebut, menjadikan dia lebih dengki, kejam, dan jahat. Akhirnya atas perbuatannya sendiri telah mengakibatkan karma buruk, setelah meninggal dunia dia jatuh ke alam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.18. Maha Prajjapati dan Pangeran Nanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Prajjapati adalah bibi Buddha Gautama, yang mengasuh-Nya di waktu masih kecil (Pangeran Sidharta), kemudian menjadi permaisuri kedua dari Raja Suddhodana. Dia mempunyai seorang putra bernama Nanda. Karena Pangeran Sidharta tidak ingin menjadi raja yang sekarang telah menjadi Buddha Gautama. Juga Rahula akhirnya menjadi bhiksu dan mencapai Arahat. Pangeran Nanda yang kelak akan menggantikan Raja Suddhodana, mempunyai istri yang cantik bernama Sundari. Pangeran Nanda hidupnya hanya bersenang-senang dengan istrinya, tidak memikirkan masa depan kerajaan Kapilavastu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Buddha Gautama di Kapilavastu mengetahui segala tindakannya, Dia Menasehati Pangeran Nanda dan memberikan Khotbah kepadanya. Siapapun kelak akan menjadi Raja Kapilavastu walaupun bukan keturunan raja, asalkan dia cakap dan bijaksana serta memperhatikan rakyatnya, dapat memerintah secara adil dan bijak, dia boleh saja menjadi raja. Akhirnya Pangeran Nanda meninggalkan istana dan menjadi bhiksu. Sariputra yang mencukur rambut Nanda ketika ia akan menjadi bhiksu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Maha Prajjapati juga menjadi bhiksuni. Ananda dalam hal ini juga sangat mendukung dibentuknya Sangha Bhiksuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.19. Sariputra dan Maudgalyayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjadi siswa Hyang Buddha, Sariputra bernama Upatisya. Dia dari keluarga Brahmana dan tinggal di kota Rajagrha. Teman baiknya bernama kolita, yang kemudian juga menjadi siswa Buddha Gautama dan bernama Maudgalyayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sariputra terkenal karena pandai bicara dan sangat bijaksana. Ibunya seorang pendiam. Ketika mengandung Sariputra, ibunya menjadi sangat pandai bicara dan dalam hal-hal tertentu menjadi lebih bijaksana. Maudgalyayana dikenal karena pandai dan memiliki kekuatan gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mereka berdua menjadi murid Hyang Buddha, Sariputra dan Maudgalyayana berguru kepada sanjaya. Sanjaya adalah seorang guru dari golongan Tirtyas yang mempunyai dua ratus lima puluh orang murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sariputra, Maudgalyayana beserta dua ratus lima puluh temannya itu akhirnya menjadi murid Buddha Gautama. Mereka menjadi murid Hyang Buddha karena mendengar Khotbah bhiksu Ashvajit, dia lalu membawa mereka bertemu dengan gurunya, Buddha Gautama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maudgalyayana pada suatu hari ketika sedang ber-meditasi, merasa ngantuk. Kebetulan Buddha Gautama ada disekitarnya. Melihat dia mengantuk, Buddha Gautama datang menghampirinya dan dengan penuh kasih sayang berbicara lembut kepada Maudgalyayana. Supaya dia tidak merasa ngatuk dan dapat ber-meditasi dengan baik, Beliau berkata kepada Maudgalyayana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau harus selalu ingat bahwa seorang bhiksu bila diminta oleh umatnya untuk datang ke rumah mereka sudah tentu karena ingin memerlukan bantuanmu. Dirumah umat awam, engkau sebagai seorang bhiksu tidak boleh merasa harus di hormati dan harus dilayani secara berlebihan. Sebab mungkin disebabkan di rumah ada hal yang sangat penting untuk diselesaikan terlebih dahulu, sehingga engkau agak diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maudgalyayana, engkau jangan seketika berperasaan tidak dihormati juga atau mereka mendadak berubah sikap terhadapmu. Jika demikian halnya ada dalam perasaan dan pikiranmu dan ketenanganmu, dan bila terus teringat maka engkau tidak akan dapat menjalankan meditasi-mu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga engkau tidak boleh mengucapkan perkataan yang dapat menimbulkan pertengkaran, juga tidak boleh berusaha mencari kesalahan orang lain. Jika engkau, Maudgalyayana, melakukan hal-hal yang demikian maka engkau akan terganggu ketenanganmu sehingga engkau tidak dapat memusatkan pikiranmu untuk dapat bermeditasi dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.20. Tiga Saudara Kasyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Uruvela, sebelah hulu sungai Nairanjana, berdiam seorang guru pemuja api bernama Uruvela Kasyapa yang mempunyai lima ratus orang sebagai pengikutnya. Dia merupakan kakak tertua di antara tiga orang saudaranya. Mereka berdua juga pemuja api. Adiknya yang pertama bernama Nadi Kasyapa mempunyai tiga ratus orang pengikut yang tinggal di hilir sungai Nairanjana. Adik Uruvela Kasyapa yang kedua bernama Gaya Kasyapa mempunyai dua ratus orang pengikut, dan bertempat tinggal lebih hilir dari kakaknya Nadi Kasyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Buddha Gautama datang ke Uruvela mengunjungi Kasyapa dengan maksud untuk memberikan petunjuk dan mengajarkan Buddha Dharma kepadanya agar ia dapat kembali ke jalan yang benar dalam mencari ilmu. Buddha Gautama minta kepada Uruvela Kasyapa untuk menginap di rumahnya. Permintaan-Nya dikabulkan, tapi Uruvela Kasyapa menjelaskan bahwa di pondoknya terdapat seekor ular kobra besar dan ganas menjaga api sucinya. “Asalkan Engkau tidak takut tinggal di pondok saya itu, saya tidak keberatan,” ujar Uruvela Kasyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama menginap di pondoknya, beliau tidak tidur melainkan ber-meditasi dikamar yang dimaksudkan Uruvela Kasyapa. Pada tengah malam, betul saja seekor ular kobra besar muncul dan mendekati-Nya dengan suara mendesis dan dari mulut ular itu menyemburkan hawa beracun dan bergerak hendak menggigit-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama sedikit pun tidak bergeming, dalam meditasi-Nya dengan kekuatan spiritual dan mengembangkan rasa maitri karuna terhadap semua makhluk hidup, cahaya welas asih memancar dari tubuh-Nya hingga segala macam kejahatan dan benda atau hawa beracun tidak mampu menembus cahaya maitri karuna dan prajna-Nya.&lt;br /&gt;Pada keesokan paginya, Uruvela Kasyapa datang kekamar Beliau, dikira Buddha Gautama sudah mati digigit ular kobranya. Namun dia melihat Hyang Buddha sedang ber-meditasi dengan tenang. Dia bertanya apakah Beliau tidak melihat ular kobra yang dimaksudkan itu. Hyang Buddha menjawab bahwa tidak ada ular kobra. Kemudian Hyang Buddha menjelaskan kepada Uruvela Kasyapa tentang Buddha Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari berikutnya, ada upacara sembahyang pemujaan api. Tapi Buddha Gautama tidak hadir menyaksikan upacara tersebut. Ketika Uruvela menanyakan kepada Beliau mengapa tidak turut hadir dalam upacara itu, Hyang Buddha menjawab, “Bukankah engkau tidak menginginkan Saya ikut hadir.”&lt;br /&gt;Uruvela Kasyapa sangat terkejut mendengar jawaban Hyang Buddha yang telah mengetahui isi hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari berikutnya, turunlah hujan lebat. Ini kali Hyang Buddha menunjukkan tanda-tanda gaib spiritual-Nya. Hyang Buddha berjalan keluar. Anehnya hujan tidak membasahi-Nya dan jalanan yang akan dilewati-Nya menjadi kering seolah-olah tidak turun hujan. Melihat kemampuan Hyang Buddha, Uruvela menjadi kagum dan hormat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar lagi Khotbah Hyang Buddha tentang Buddha Dharma, akhirnya Uruvela Kasyapa dan kedua adiknya serta para pengikut mereka menjadi siswa Hyang Buddha. Uruvela Kasyapa juga dikenal dengan nama Maha Kasyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.21. Ananda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha Gautama ketika mengunjungi Kapilavastu, telah beberapa kali memberikan Khotbah Buddha Dharma baik kepada raja, pangeran, bangsawan kerajaan Kapilavastu. Beliau juga memberikan Khotbah Dharma kepada penduduk suku Shakya. Mereka yang telah mendengar Khotbah Dharma dari Hyang Buddha di hati dan batin mereka tumbuh ke-Bodhi-an untuk menjadi siswa Buddha dan banyak yang menjadi bhiksu. Diantara pangeran yang menjadi bhiksu adalah Pangeran Devadatta, Pangeran Anuruddha, Pangeran Vibhasa, Bhadrika, Pangeran Ananda.&lt;br /&gt;Ananda dikenal sangat pandai yang mempunyai ingatan luar biasa. Dia juga yang paling setia dan senantiasa mendampingi Buddha Gautama selama 27 tahun. Ananda memcapai tingkat Arahat pada saat akan menjelang pagi dimana akan diadakan Pertemuan Agung I tidak lama setelah Mahaparinirvana Hyang Buddha. Ananda mengulangi semua Khotbah Hyang Buddha yang pernah didengar langsung olehnya dengan mengucapkan ‘Evam Maya Sutram’ artinya’Demikianlah telah aku dengar’ (aku di sini dimaksudkan adalah Ananda). Maka semua sutra pembukaannya dimulai dengan kalimat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda berjasa dalam memberikan dorongan berdirinya Sangha Bhiksuni, dimana Maha Prajjapati di tahbiskan menjadi bhiksuni. Pada hari dia ditahbis menjadi bhiksuni merupakan hari berdirinya Sangha bhiksuni. Atas permintaan Hyang Buddha kepada Ananda untuk merancang jubah Sangha, Ananda mengambil contoh petak-petak sawah di negeri Magadha yaitu kotak-kotak yang ada pada jubah Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat akhir sebelum Ananda meninggal, beliau pergi ke tepi sungai Rohini, memberikan Khotbah Dharma terakhir kepada sanak keluarganya dan para umat awam di sana. Setelah itu beliau pergi menuju sungai Rohini, dari tubuhnya keluar api suci membakar dirinya sendiri dan meninggal. Ananda meninggal dalam usia 120 tahun dan juga mencapai tingkat Arahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.22. Upali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upali adalah berasal dari Kasta Sudra. Sejak kecil ia telah bekerja dalam lingkungan kerajaan Kapilavastu, mengabdi kepada Pangeran Bhadrika. Setelah memutuskan untuk menjadi siswa Hyang Buddha, sebelum bertemu dengan Beliau, Pangeran Bhadrika meminta rambutnya dicukur bersih oleh Upali. Upali telah mengenal Hyang Buddha ketika Beliau memberikan Khotbah di istana Kapilavastu, yang pada saat itu didampingi oleh Sariputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upali tidak berani menyatakan niatnya langsung kepada Hyang Buddha untuk menjadi siswa-Nya, karena ia merasa dari Kasta Sudra. Setelah bertemu dengan Sariputra, Upali menjelaskan maksudnya dan menanyakan apakah dia dari Kasta Sudra boleh menjadi murid Hyang Buddha. Dijelaskan Sariputra ‘boleh’ Hyang Buddha tidak pernah membedakan kasta dan memandang beda terhadap semua makhluk. Sewaktu Beliau masih menjadi Bodhisattva, Beliau sudah tidak membeda-bedakan derajat manusia. Dengan mengikuti Sariputra, Upali diperkenalkan langsung kepada Hyang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Buddha menjelaskan kepada Upali bahwa dia mempunyai bakat sejak lahir memiliki kebajikan, dan kelak pasti dapat membantu Beliau menyebarkan Buddha Dharma. Kemudian Upali langsung ditahbiskan menjadi bhiksu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.23. Subhadra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhadra menjadi siswa Hyang Buddha dan ditahbiskan menjadi bhiksu pada saat beliau memberikan Khotbah Dharma yang terakhir.&lt;br /&gt;1.24. Keinginan Untuk Meninggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun, tibalah waktunya, Hyang Buddha berada di Vaisali. Ditepi kolam Markata, Beliau duduk di bawah pohon Sala. Dari tubuh-Nya memancarkan Sinar Keagungan. Tiba-tiba Mara muncul, dan berkata kepada-Nya, “ Dahulu di tepi sungai Nairanjana, saya pernah berbicara kepada-Mu di saat akan memperoleh Penerangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Orang Bijaksana, Engkau telah memperoleh apa yang hendak diperoleh yaitu Penerangan Sempurna. Engkau telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Sekarang masukilah Nirvana,” kata Mara kepada Yang Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana menjawab, “Saya tidak akan memasuki Nirvana terakhir sebelum mereka yang menderita karena kekotoran batin diselamatkan. Sekarang diantara mereka telah banyak yang diselamatkan, sebagian lagi berkeinginan untuk diselamatkan, dan lainnya sedang diselamatkan, “ demikian ucapan selanjutnya dari Yang Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana, Guru Agung itu menjawab, “ Dalam tiga bulan lagi sejak sekarang, Saya akan memasuki Nirvana terakhir, Saya mengetahui kapan saat yang paling tepat bagi Saya memasuki Maha Parinirvana, tapi engkau janganlah tidak sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji ini meyakinkan Mara bahwa keinginannya akan terkabul. Mara bersorak kegirangan lalu menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tathagata mempunyai kekuatan untuk hidup sampai akhir kalpa. Tetapi Pertapa Agung itu sekarang sudah memasuki suatu keadaan yang tenang sempurna. Beliau akan menyerahkan fisik-Nya yang masih menjadi hak-Nya. Sesudah itu, beliau akan melanjutkan untuk hidup dalam suatu cara yang unik dengan kemampuan dan kekuatan fisik-Nya yang menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah pada waktunya, disaat-saat beliau segera akan memasuki Maha Parinirvana, bumi bergetar-getar dan batu pijar berjatuhan dari angkasa. Halilintar Indra menyambar tiada henti-hentinya dengan turunnya hujan api dibarengi kilat. Di mana-mana api berkobar, seolah-olah dunia akan berakhir dengan lautan api alam semesta. Puncak-puncak gunung beruntuhan dan jatuh menimpa pohon-pohon yang tumbang dan patah. Terdengar suara yang sangat dahsyat dan menggetarkan oleh tambur-tambur di langit yang bergemuruh di angkasa. Selama kegaduhan ini terjadi, hal ini sangat mempegaruhi bumi yang dihuni oleh manusia, langit, dan angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana bangun dari meditasi-Nya dengan ketenangan sempurna namun dalam keadaan mahasadar. Kemudian Beliau mengucapkan kata-kata ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang Saya telah menyerahkan hak saya untuk hidup sampai akhir kalpa. Tubuh Saya harus berjalan secara perlahan-lahan dengan kekuatan yang saya miliki, bagaikan sebuah kereta perang bila rodanya telah dilepaskan. Untuk waktu selanjutnya secara pasti, Saya telah bebas dari segala ikatan bagaikan penjelmaan dari seekor burung yang sedang mengerami, yang telah pecah seluruh kulit telurnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ananda melihat kegaduhan dalam dunia ini, rambutnya sampai berdiri tegak. Dia heran, apakah gerangan yang terjadi. Seluruh keberanian dan ketenangannya hilang. Ananda bertanya kepada Yang Maha Tahu, yang berpengalaman dan telah menemukan Hukum Sebab dan Akibat, untuk mencari sebab-akibat dari peristiwa ini. Yang Maha Bijaksana menjawab, “Gempa Bumi ini menunjukan bahwa Saya telah menyerahkan sisa-sisa tahun kehidupan yang menjadi hak Saya. Hanya selama tiga bulan saja, terhitung sejak hari ini, Saya akan meninggalkan kehidupan Saya.” Setelah mendengar penjelasan ini dari Yang Maha Tahu, Ananda sangat pilu dan air matanya mengalir deras keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.25. Berpisah Dengan Vaisali, Tulisan Terakhir, Perintah Kepada Mallas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan sesudah peristiwa tersebut, Yang Maha Bijaksana datang melihat ke kota Vaisali, dan mengucapkan kata-kata ini, “Oh, Vaisali ini adalah terakhir kalinya Aku melihat, Sebab kita akan berpisah dan Saya pergi ke Nirvana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Beliau pergi ke Kusinagara, mandi di sungai dan memberikan pesan berikut kepada Ananda, “Susunlah sebuah tulisan untuk Saya di antara pohon kembar Sala itu. Pada waktu malam ini, Tathagata akan memasuki Maha Parinirvana.”&lt;br /&gt;Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, air matanya berlinang. Ananda sambil mengatur tempat peristirahatan terakhir bagi Yang Maha Bijaksana, masih terus meratap memberitahu kepada Beliau bahwa dia telah mengerjakan semuanya sebagaimana yang dipesan. Dengan langkah yang teratur, Yang Terbaik dari manusia berjalan perlahan menuju tempat peristirahatan-Nya yang terakhir, untuk tidak kembali lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pandangan biasa yang penuh perhatian dari para siswa-Nya, Beliau berbaring dengan tenang di bawah pohon di antara pohon kembar Sala. Beliau berbaring dengan sisi kanan-Nya, kepalanya-Nya disangga dengan tangan kanan-Nya. Pada saat-saat itu semua burung diam dengan kepala merunduk dan tubuh tidak bergerak sedikit pun.para siswa-Nya semua duduk dengan tubuh yang lemas. Angin berhenti berhembus, bagaikan mengucurkan air mata, daun-daun dari pepohonan jatuh berguguran dan bunga-bunga menjadi layu terlepas dari pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana penuh keharuan, Yang Maha mengetahui sambil berbaring di tempat peristirahatan-Nya yang terakhir, berkata kepada Ananda yang sedang bersedih hati dan menangis. “Waktunya telah tiba bagi Saya memasuki Maha Parinirvana. Engkau pergilah dan katakanlah kepada Mallas tentang hal ini. Karena mereka akan menyesalinya di kemudian hari, jika mereka sekarang tidak datang menyaksikan Nirvana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda hampir jatuh pingsan karena sangat duka. Bagaimanapun pesanya, Ananda mematuhi perintah itu dan dia pergi untuk mengatakan kepada Mallas bahwa Yang Maha Bijaksana sedang berbaring di atas tempat peristirahatan-Nya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar ucapan Ananda, Mallas dengan muka sedih dan air matanya mengalir, dia datang melihat Yang Maha Bijaksana. Mereka semua memberi penghormatan kepada-Nya, dan dengan sedih mendalam mereka berdiri mengelilingi-Nya. Yang Maha Bijaksana berkata kepada mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam waktu senang adalah tidak tepat untuk berduka . Kalian merasa putus asa sungguh tidak pada tempatnya, kalian harus memperoleh kembali ketenangan kalian. Tujuan itu, sangatlah sulit dicapai. Selama beberapa kalpa Saya telah menginginkannya, sekarang tujuan itu akhirnya sampai juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila telah tiba waktunya, dan telah dimenangkan semuanya, maka tiada lagi unsur tanah, air, api, dan angin. Kebahagiaan sempurna yang abadi berada diluar alam non-materi, di luar semua hakekat perasaan, suatu kedamaian yang sulit bagi seseorang untuk dapat memperolehnya. Sesuatu yang paling tinggi adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana masih ada waktu dan ruang untuk berduka dalam pikiran kalian? Di gaya, pada waktu Saya mengalahkan godaan Mara, memperoleh Penerangan Sempurna, Saya telah memutuskan mata rantai sebab-Musabab yang saling bergantungan, yang mana bukanlah apa-apa melainkan hanya suatu kelompok ular berbisa dan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang waktunya telah semakin dekat, bila Saya sebentar lagi akan berpisah dari tubuh ini, yang merupakan rumah tempat tinggal dari perbuatan atau karmadari masa lampau. Sekarang, akhirnya tubuh ini yang mempunyai begitu banyak penderitaan, telah menemukan jalan keluarnya. Dan juga, bahaya yang sangat menakutkan dari penciptaan itu akhirnya dapat dipadamkan. Akhirnya sekarang Saya keluar dari penderitaan yang sangat banyak itu dan tanpa akhir. Apakah itu waktunya kalian berduka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Bijaksana dari suku Shakya dengan mengucapkan demikian, dibarengi dengan gemuruh dari suara-Nya, yang telah menjelaskan kepada mereka segala sesuatunya secara maha bijaksana, dengan ketenangan sempurna Beliau sebentar lagi akan memasuki Maha Parinirvana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Terbaik dan Teragung dari para dewa dan manusia mencapai kesejahteraan dan kesentosaan, menyampaikan kepada mereka pesan-pesan terakhir yang penuh arti. “sudah tentu adalah suatu kenyataan bahwa pengolahan diri tidak dapat datang dari hanya melihat-Ku. Tetapi jika seseorang telah mengerti dan menghayati serta menjalankan seluruh Buddha Dharma-Ku, dia tidak melihatku, tetapi bila dia telah mengerti dan menghayati serta menjalankan Buddha Dharma-Ku, dia sudah pasti akan terbebas dari segala penderitaan. Sekalipun dia tidak melihat-Ku, tetapi bila dia telah mengerti dan menghayati serta menjalankan Buddha Dharma-Ku, dia telah melihatku. Bila seseorang sakit, dia haruslah memakan obat supaya sembuh, hanya melihat kepada dokter saja tidaklah cukup. Demikian juga hanya melihat kepada Saya tidak mungkin seseorang menaklukan penderitaan tingkat tertinggi perihal kebenaran spiritual sebagaimana yang telah Saya khotbahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu bergiatlah, bertekunlah dan mencoba mengendalikan pikiranmu! Lakukanlah perbuatan yang baik, dan cobalah menangkan kesadaran! Karena kehidupan ini selalu digoyahkan oleh berbagai macam penderitaan sebagaimana nyala dari sebuah pelita yang dapat padam karena ditiup angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan ini, Yang Maha Bijaksana, Yang Terbaik dari para dewa dan manusia serta semuanya yang pernah hidup, memperkuat pikiran mereka semua. Namun airmata masih tetap mengalir dari mata meraka, dan pikiran-pikiran mereka yang gelisah kembali ke Kusinagara. Setiap orang merasa tidak berdaya dan tidak terlindungi. Mereka seolah-olah sedang menyeberang di tengah-tengah sungai yang sangat dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jNTzxh19I/AAAAAAAAAGY/-34RRqW2Q3s/s1600-h/parinirvana.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jNTzxh19I/AAAAAAAAAGY/-34RRqW2Q3s/s320/parinirvana.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;1.26. Maha Parinirvana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, Hyang Buddha mengalihkan perhatian kepada para siswa-Nya, dan berkata kepada mereka, “Segala sesuatu datang pada akhirnya, walaupun itu berlangsung selama satu kalpa. Waktu berpisah pasti datang pula pada akhirnya. Sekarang Saya telah mengerjakan apa yang harus saya kerjakan. Kedua-duanya baik untuk Saya sendiri maupun orang lain. Untuk tinggal disini, sekarang dan selanjutnya harus dengan suatu tujuan. Saya telah berdisiplin dan saya telah membawa mereka cara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya inilah Dharma Saya, Oh para bhiksu, kalian harus mematuhi Dharma-Ku untuk sekarang dan seterusnya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu kenalilah hakekat yang sebenarnya dari kehidupan dunia. Janganlah cemas, karena perpisahaan tidaklah mungkin dapat dihindari. Kenalilah juga bahwa semua yang hidup adalah berpokok pada Hukum Kesunyataan ini, dan berjuanglah mulai hari ini dan seterusnya sampai kehidupan itu tidak ada lagi! Bila penerangan yang Saya babarkan sudah menghalau kegelapan karena ketidaktahuan, bila semua eksistensi yang telah terlihat semua dengan tanpa substansi. Kedamaian akan terjadi pada akhirnya bila mengerti kehidupan ini, yang dapat mengobati penyakit yang telah lama ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, segala sesuatunya, apakah yang dapat bergerak, dipastikan akan binasa. Karena itu, ingatlah dan waspadalah! Sekarang telah tiba saatnya bagi Saya untuk memasuki Maha Parinirvana! Inilah kata-kata Saya yang terakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika yang Maha Bijaksana memasuki Maha Parinirvana – pada tanggal 15 bulan 2 (lunar, menurut versi Mahayana) – bumi bergetar-getar, mendadak turun hujan badai, batu pijar berjatuhan dari angkasa, langit bagaikan disulut api yang menyala-nyala tanpa bahan bakar, tanpa asap, tanpa tiupan angin. Halilintar yang menakutkan menggelegar-gelegar, kemudian datanglah angin kencang mengamuk di angkasa. Sinar bulan meredup, angkasa gelap gulita. Suatu kegelapan aneh sekali menutupi dimana-mana. Air sungai di mana saja bagaikan air mendidih mengatasi kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga-bunga yang indah merekah di luar musimnya pada pepohonan Sala dan membentuk tulisan di atas tempat pembaringan Hyang Buddha. Pohon-pohon merunduk memayungi Dia dan menaburi tubuh keemasan-Nya dengan bunga-bunga beraneka warna nan indah. Tampak di angkasa, para dewa dan dewi, lima pimpinan Naga berdiri dengan tidak bergerak sedikit pun. Mata mereka merah karena duka, surai mereka menutup tapi mereka tetap tegak berdiri. Dengan kesayangan yang amat mendalam, mereka memandang tubuh Yang Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka yang telah mendalami Dharma dan mengolah diri, para dewa yang mengelilingi raja Vaishravana tidaklah berduka dan mengeluarkan air mata, sebab mereka telah menghayati Dharma yang cukup mendalam. Para dewa yang mendiami semua temapt suci juga hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pertapa agung itu yang telah mencapai Samyak Sam Buddha. Mereka tetap tenang , dan pikiran mereka terpengaruh lagi oleh suka dan duka, karena mereka telah mengetahui semua hal di dunia ini yang penuh kekotoran. Para raja dari Gandharvas, Nagas, Yakshas, dan Devas, semua berdiri di angkasa, turut berkabung dan menahan duka yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pda saat-saat terakhir, ketika Buddha Shayamuni akan memasuki Maha Parinirvana, Beliau memberikan Khotbah-Nya yang terakhir kepada para siswa-Nya agar mereka sejahtera. Beliau membabarkan intisari ajaran-Nya itu yang terdapat dalam kitab Mahayana Buddha Pacchimovada Pari Nirvana Sutra. Sutra ini menjelaskan ajaran Hyang Buddha mengenai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pematuhan pada sila-sila Hyang buddha&lt;br /&gt;2. Pengendalian Pikiran&lt;br /&gt;3. Masalah makan, tidur&lt;br /&gt;4. Mengedalikan amarah dan hawa nafsu&lt;br /&gt;5. Melenyapkan kesombongan&lt;br /&gt;6. Menghindari pujian&lt;br /&gt;7. Mengurangi keinginan&lt;br /&gt;8. Rasa Puas&lt;br /&gt;9. Menyendiri&lt;br /&gt;10. Tekun berusaha&lt;br /&gt;11. Mengendalikan pikiran&lt;br /&gt;12. Dhyana dan samadhi&lt;br /&gt;13. Prajna&lt;br /&gt;14. Menghindari perdebatan&lt;br /&gt;15. Waspada&lt;br /&gt;16. Keragu-raguan&lt;br /&gt;17. Menyelamatkan setiap manusia&lt;br /&gt;18. Dharmakaya yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.27. Pematuhan Pada Sila-sila Hyang Buddha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Buddha Bersabda:&lt;br /&gt;“Wahai para Bhiksu! Setelah Aku mencapai Maha Parinirvana, kalian para bhiksu dan bhiksuni harus patuh pada Pratimoksa. Perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan Sila adalah terlarang bagi bhiksu dan bhiksuni. Kalian (para bhiksu dan bhiksuni) harus berusaha memperoleh ketenangan dan kesucian dalam kehidupan ini. Kalian harus tidak berurusan dengan hal-hal duniawi, menghindari tuduhan tuduhan dan pujian rendah. Kalian jangan terlibat dalam pergaulan yang berakibat menjadi pergunjingan orang, dan hanya bergaul dan mencari teman orang kaya dan punya nama saja. Kalian harus memusatkan pikiran yang benar guna pembebasan. Kalian jangan hanya mau menutupi kesalahan sendiri, janganlah berbuat hal-hal yang dapat membingungkan orang lain. Kalian harus mengetahui batasan pemberian oleh umat kepada bhiksu dan bhiksuni. Haruslah mengetahui apa arti kecukupan. Kalian setelah menerima dana seharusnya jangan punya niat untuk menyimpannya. Inilah arti dari Sila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mematuhi sila adalah jalan untuk Pembebasan. Karena itu Sila di sebut Pratimoksha. Hanya dengan Sila akan mencapai Dhyana dan Samadhi sserta Prajna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para Bhiksu, hanya dengan patuh pada Sila barulah akan diperoleh kesucian dan ketenangan. Tanpa adanya Sila yang murni, kalian tidak akan memperoleh pahala-pahala yang baik. Sila merupakan dasar pegangan kalian untuk berbuat baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.28. Pengendalian Pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mematuhi sila, wahai para bhiksu, kalian harus mengendalikan panca indra, supaya kalian dapat mengendalikan hawa nafsu indria. Jika tidak mampu menguasai panca indera dan membiarkan keinginan kalian maka penderitaan akan terus datang. Ketahuilah wahai para bhiksu, seorang bhiksu, seorang bijaksana harus mampu menguasai panca indera dan tidak terikat oleh kemelekatan duniawi. Pikiran adalah yang paling utama dari panca indera. Kalian harus dapat mengalihkan keinginan rendah. Wahai para bhiksu, berusahalah keras mengendalikan pikiranmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.29. Perihal Makan dan Tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai para bhiksu, jika kalian diberi makan oleh umat janganlah meminta yang berlebihan, sehingga membuat niat baiknya menjadi hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga perihal tidur, kalian seharusnya tekun belajar dan menghayati Dharma di siang hari, juga di malam hari bahkan di tengah malam. Kalian hanya akan mensia-siakan waktu saja jika waktumu dihabiskan hanya untuk tidur. Janganlah hanya lelap tidur saja, cepatlah menuju Pembebasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.30. Prajna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wahai para bhiksu, dengan memiliki Prajna kalian terbebas dari segala hawa nafsu. Kalian harus merenungkan diri. Hanya dengan Buddha Dharma maka kalian akan memperoleh Pembebasan. Jika kalian tidak menyadarinya maka kalian tidak pantas disebut Siswa Hyang Buddha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.31. Relik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang belum mampu mengendalikan perasaan telah mencucurkan air mata. Sebagian besar para bhiksu merasa sangat sedih dan duka. Hanya mereka yang telah menyelesaikan pemutaran Roda Dharma hatinya tetap tenang, karena mereka sadar hakekat dari semua kehidupan dapatlah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah segala sesuatu untuk keperluan kremasi disiapkan, mereka mengangkat dengan hati-hati tubuh Yang Maha Bijaksana ke atas tumpukan kayu cendana, kayu gaharu, dan kayu kasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kali mereka mencoba menyalakan tumpukan bahan bakar itu, tetap saja tidak dapat menyala. Hal ini disebabkan Maha Kasyapa yang agung dan memiliki kekuatan gaib sedang datang menuju tempat kremasi itu. Kasyapa sedang ber-meditasi dengan memusatkan pikirannya yang suci untuk terakhir kalinya melihat tubuh Hyang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan gaibnya, Kasyapa mencegah terbakarnya tumpukan kayu. Sekarang bhiksu Kasyapa semakin menghampiri dengan langkah-langkah cepat, dia ingin melihat gurunya terakhir kali. Setelah mendekat dengan segera dia memberikan penghormatan terakhir kepada gurunya Yang Maha Bijaksana. Kemudian barulah api mulai menyala dengan sendirinya. Semuanya satu persatu terbakar dengan sempurna. Kulit, daging, rambut, dan anggota tubuh, namun tulang-tulang-Nya tidak dapat hancur walaupun telah di tambahkan lagi bahan bakar. Akhirnya tulang-tulang ini dibersikan dengan air suci, dan ditempatkan dalam kendi keemasan di kota Mallas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari mereka melakukan pemujaan terhadap relik sesuai dengan ketaatan yang mendalam. Kemudian datanglah satu persatu, masing-masing utusan dari tujuh kerajaan tetangga datang ke kota itu untuk meminta bagian relik itu. Tetapi Mallas, seorang sombong dan juga ingin memuja relik itu, menolak untuk menyerahkan sebagian dari relik Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar nasehat dari para penasehat yang bijaksana, Mallas membagikan relik itu menjadi delapan bagian. Satu bagian disimpan untuk mereka sendiri. Tujuh bagian lainnya diberikan kepada tujuh utusan kerajaan, masing-masing mendapat satu bagian. Para utusan kerajaan ini dan Mallas saling memberi hormat dan kembali ke kerajaan masing-masing. Mereka semua merasa gembira karena keinginannya tercapai. Dengan upacara yang sepantasnya dan khidmat, mereka membangun stupa di ibukota mereka masing-masing untuk menyimpan relik dari Yang Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.32. Kitab Suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah Hyang Buddha Maha Parinirvana, berkumpullah lima ratus orang bhiksu yang telah mencapai tingkat Arahat di Rajagriha, di lereng dari salah satu lima pegunungan Himalaya. Di sana mereka berkumpul untuk mengadakan Pertemuan Agung guna mengumpulkan semua Khotbah yang telah diajarkan oleh Yang Maha Bijaksana. Konsili pertama ini dipimpin oleh Maha Kasyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda yang selalu mendampingi Hyang Buddha ke mana saja Beliau pergi membabarkan Dharma mempunyai ingatan yang luar biasa. Maka Ananda diminta oleh sekalian bhiksu yang hadir dalam pertemuan itu untuk lebih dulu mengulangi semua Khotbah yang diajarkan Hyang Buddha. Yang Bijaksana dari Vaideha, kemudian disempurnakan oleh para bhiksu yang hadir. Ananda memulai dengan ucapan “Demikianlah yang telah aku dengar.” Aku di sini dimaksudkan adalah Ananda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka semua sutra dimulai dengan kalimat itu, dengan keterangan mengenai waktu, tempat, kejadian, dan orang-orang yang menyampaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Ananda bersama-sama dengan lima ratus Arahat membuat semua Kitab Suci atau Sutra yang berisikan Dharma dari Yang Maha Bijaksana dan Agung. Mereka telah memiliki karma baik di masa lampau untuk menuju nirvana. Mereka berusaha sepenuhnya menguasai Buddha Dharma. Semua Kitab Suci tersebut yang ada sampai dengan hari ini telah membantu mereka menuju Nirvana. Dan umat Buddha juga akan melanjutkan dengan cara yang sama untuk berbuat demikian dari satu masa ke masa yang akan datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-9291936216078408?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/9291936216078408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/siddhartha-gautama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9291936216078408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9291936216078408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/siddhartha-gautama.html' title='Siddhartha Gautama'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4jNjr41YWI/AAAAAAAAAGg/s7ODeCCmTys/s72-c/Buddha..jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-8070521388197118505</id><published>2010-02-25T18:35:00.001+07:00</published><updated>2010-02-25T18:40:40.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filosofi'/><title type='text'>Kepercayaan, Hal yang Penting</title><content type='html'>&lt;div class="Isi"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4ZhndifhhI/AAAAAAAAAFo/6oU2YY1Yyak/s1600-h/pemerintah.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="154" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4ZhndifhhI/AAAAAAAAAFo/6oU2YY1Yyak/s200/pemerintah.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada suatu hari,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Tzu Kung menanyakan tentang pemerintah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Confusius berkata,”Perlu ada makanan yang cukup, senjata yang cukup, dan kepercayaan rakyat kepada pemerintahannya”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Tzu Kung berkata, “Jika kita terpaksa menyerahkan salah satu dari tiga hal diatas, mana yang harus didahulukan?”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Confusius berkata,”Serahkan senjatanya”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Tzu Kung berkata, “Jika kita tidak mempunyai pilihan selain menyerahkan yang dua tersisa itu, mana yang harus didahulukan?”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;i&gt;Confusius berkata,”Serahkan makanannya. Sejak dahulu, kematian tidak bisa dihindarkan, namun bila rakyat tidak mempunyai kepercayaan pada pemerintahnya, tidak ada apa-apa lagi yang bisa mereka pegang”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="Isi"&gt;Inilah salah satu kata-kata bijaksana dari Confucius. Beliau mengatakan bahwa kepercayaan terhadap pemerintah sangat penting. Rakyat harus bisa mempercayai pemerintah agar negara berjalan dengan lancar. Namun percaya bukan berarti percaya apa pun yang dilakukan pemerintah itu baik. Rakyat harus tetap mengawasi pemerintah dan memberikan masukan agar pemerintah tidak menjadi suatu lembaga yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Maka pemerintah pun harus berbuat atas dasar kepentingan rakyat, sehingga rakyat dapat hidup dengan tenang, bahagia, dan sejahtera. Hal ini akan menimbulkan keseimbangan dan hubungan timbal balik antara rakyat dengan pemerintah dan saya kira hal inilah membuat suatu negara maju di samping penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, atau ekonomi.&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-8070521388197118505?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/8070521388197118505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/kepercayaan-hal-yang-penting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8070521388197118505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8070521388197118505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2010/02/kepercayaan-hal-yang-penting.html' title='Kepercayaan, Hal yang Penting'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S4ZhndifhhI/AAAAAAAAAFo/6oU2YY1Yyak/s72-c/pemerintah.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-9102092243842132528</id><published>2009-10-30T17:56:00.002+07:00</published><updated>2009-11-07T18:26:20.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Loyalty'/><title type='text'>Kegigihan Zhang Suiyang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SurGK83B4yI/AAAAAAAAAEY/nR2XNFEH2_c/s1600-h/200px-Zhang_Xun.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SurGK83B4yI/AAAAAAAAAEY/nR2XNFEH2_c/s200/200px-Zhang_Xun.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tahun-tahun terakhir masa pemerintahan dinasti Tang adalah masa yang cukup buruk.&amp;nbsp; Di mana kaisar Xuanzong hidup berfoya-foya sepanjang hari. Dia mengadakan pesta sepanjang hari sehingga membawanya pada gaya hidup yang boros. Dia menunjuk pegawainya yang curang seperti Li Linfu dan Yang Guozhong sebagai perdana menteri sehinnga pemerintahan menjadi sangat korup.&lt;br /&gt;Dia juga menunjuk An Lushan, seorang pemimpin suku kecil sebagai gubernur militer yang mengomandoi 150000 tentara. Pada tahun ke 14 pemerintahanya, An Lushan memberontak dan memproklamirkan diri sebagai Kaisar Yang yang Agung. Ia segera menyerang Chang'an, ibu kota Tang. Pemerintah Tang tidak bisa berbuat apa-apa. Pemerintah sudah lama tidak berperang. An Lushan dengan mudah menduduki Chang'an. Peristiwa ini disebut juga An-Shi. Kaisar dan sejumlah petinggi kerajaan melarikan diri ke Sichuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhang Xun dilahirkan pada tahun 709 semasa pemerintahan Kaisar Tang Zhongzong. Ada beberapa versi berbeda mengenai tempat kelahirannya, Kitab Dinasti Tang mengatakan ia lahir di Puzhou (sekarang Yuncheng, Shanxi), sementara Kitab Dinasti Tang Baru menyebutkan ia berasal dari Dengzhou (sekarang Nanyang, Henan). Sejak muda, ia sudah mendalami strategi perang dan dikenal sebagai seorang yang ambisius. Ia seorang yang sangat selektif dalam bergaul, hanya berteman dengan orang-orang yang dianggapnya terhormat sehingga pergaulannya tidak terlalu luas dan dirinya kurang dikenal. Ia lulus ujian kekaisaran sekitar akhir periode Kaiyuan (713-741), semasa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong dan memulai karirnya dalam pemerintahan sebagai salah satu anggota staff putra mahkota Li Heng sebelum akhirnya diangkat sebagai kepala daerah Qinghe (sekarang Xingtai, Hebei). Selama masa tugasnya di sana, ia membuktikan dirinya sebagai pejabat yang kompeten dan sangat memperhatikan rakyat yang membutuhkan pertolongannya. Setelah masa tugasnya berakhir, ia kembali ke ibukota Chang’an. Saat itu pemerintahan sedang didominasi oleh perdana menteri Yang Guozhong yang korup. Beberapa temannya menyarankan pada Zhang agar ia menemui perdana menteri Yang untuk meminta jabatan baru, namun ia dengan tegas menolak dengan mengatakan bahwa tidak sepantasnya seorang pejabat negara menjadi penjilat.&lt;br /&gt;Zhang lalu ditugaskan sebagai pejabat daerah di Kabupaten Zhenyuan (sekarang Zhoukou, Henan). Saat itu daerah tersebut dikuasai oleh klan-klan lokal yang berpengaruh dan memerintah sebagai tiran. Hua Nanjin, seorang anggota klan yang menjadi pejabat setempat, adalah salah satu yang sangat berkuasa sampai ada sindiran yang beredar di kalangan rakyat mengatakan, “&lt;i&gt;Segala sesuatu yang keluar dari mulut Hua Nanjin setara dengan yang berasal dari pemerintah&lt;/i&gt;.” Tidak lama setelah memegang jabatan di Zhenyuan, Zhang menghukum mati Hua atas dakwaan penyalahgunaan wewenang, sedangkan kepada kroni-kroni Hua yang mau bertobat, ia memberikan pengampunan. Ia senantiasa menjalankan tugasnya sebagai kepala daerah dengan baik sehingga rakyat pun mencintainya. Selain dikenal sebagai pejabat yang lurus, Zhang dan juga dikenal sebagai sastrawan yang handal, demikian pula kakak laki-lakinya, Zhang Xiao, yang juga menjadi pejabat pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span id="Pemberontakan_Anshi"&gt;Pemberontakan Anshi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h3&gt;&lt;span id="Pertempuran_Yongqiu"&gt;Pertempuran Yongqiu&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Pada akhir tahun 755, ketika Zhang masih menjabat di Zhenyuan, jenderal An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing). An memimpin pasukannya bergerak cepat ke selatan mencaplok ibukota timur Luoyang dimana ia mendeklarasikan berdirinya Dinasti Yan dengan dirinya sebagai kaisar. Salah satu jenderalnya, Zhang Tongwu bergerak ke timur untuk menerima penyerahan diri sejumlah pejabat Tang. Yang Wanshi, gubernur Qiaozhou (sekarang wilayah Zhoukou) yang adalah atasan Zhang Xun termasuk salah satu yang bergabung dengan pemberontak, ia mengajak Zhang ikut memberontak. Yang menjanjikan jabatan sebagai sekretaris jenderal pada Zhang dan memerintahkannya untuk memimpin delegasi untuk menyambut Zhang Tongwu. Zhang Xun memang menghimpun delegasi, namun bukan untuk bergabung dengan pemberontak, ia mengajak mereka ke kuil Laozi (filsuf besar yang dianggap leluhur para kaisar Tang dan secara anumerta diberi gelar Kaisar Xuanyuan). Disana ia memimpin ritual penyembahan lalu mendeklarasikan sumpah setia pada Dinasti Tang dan membulatkan tekad melawan kaum pemberontak. Beribu-ribu pejabat dan rakyat memberi dukungan dan berdiri di belakangnya untuk bersama-sama berjuang membela negara. Selanjutnya Zhang memimpin 1000 prajurit pilihan ke Yongqiu, dimana Jia Bi, seorang jenderal lain yang setia pada Tang, sedang bertahan dari serangan Linghu Chao, mantan pejabat Tang yang membelot ke kubu pemberontak. Yongqiu sendiri tadinya merupakan wilayah kekuasaan Linghu, namun ketika ia sedang keluar dari sana untuk kampanye militernya, pasukan di kota itu memberontak dan mengakat Jia sebagai komandannya.&lt;br /&gt;Belakangan Jia gugur dalam pertempuran ketika Linghu melakukan serangan balasan. Kini Zhang memegang komando tunggal atas Yongqiu dan bertanggung jawab penuh mempertahankan kota itu. Zhang mengirim surat pada komandan tertinggi Tang di wilayah itu, Li Zhi, Pangeran Wu. Li pun secara resmi mengangkatnya sebagai komandan pasukan Yongqiu. Tak lama kemudian, Linghu kembali dengan memimpin 40.000 pasukan pemberontak, didampingi oleh Li Huaixian, Yang Chaozong, dan Xie Yuantong. Zhang membagi 2000 pasukannya dalam dua kelompok, yang satu untuk bertahan dan yang lain untuk menyerang. Menghadapi pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya itu, Zhang beberapa kali melakukan serangan dadakan yang berhasil menimbulkan kerusakan besar di pihak lawan. Yongqiu dikepung selama 60 hari, namun para pemberontak itu tidak berhasil mendudukinya sehingga terpaksa mundur. Musim semi 756, Linghu kembali mengepung kota itu. Dalam situasi kritis karena pengepungan yang erat itu, enam perwira Zhang menyarankan agar menyerah saja pada pemberontak karena kaisar sendiri sudah meninggalkan Chang’an dan kabur ke Yizhou (sekarang Chengdu, Sichuan). Zhang pura-pura menerima saran mereka, keesokan paginya ia menggantung lukisan Kaisar Xuanzong dan memerintahkan para prajurit untuk memberi hormat serta memerintahkan keenam perwira itu dihukum mati. Keteguhan ini membuat moral para prajurit untuk terus bertahan semakin membara. Linghu kembali gagal merebut kota itu dan mundur ke Chenliu (sekarang Kaifeng, Henan). Sementara itu, seorang jenderal pemberontak lain bernama Li Tingwang mencoba untuk mencaplok Yongqiu dengan menyerang Ningling dan Xiangyi (keduanya sekarang termasuk wilayah Shangqiu, Henan). Serangan ini pun berhasil dihalau oleh Zhang sehingga Li terpaksa mundur dari Ningling dan Xiangyi.&lt;br /&gt;Pada musim dingin tahun itu, Linghu bersama Wang Fude, kembali menyerang Yongqiu dan kembali pula dipukul mundur oleh Zhang. Linghu dan Li lalu membangun benteng di utara kota itu untuk memutus jalur perbekalan. Dengan jatuhnya beberapa kota di daerah itu dan persiapan pemberontak menyerang Ningling di bawah pimpinan Yang Chaozong, Zhang meninggalkan Yongqiu untuk mempertahankan Ningling. Di sana ia bertemu dengan Xu Yuan, gubernur Suiyang. Mereka bekerjasama dan berhasil memukul mundur Yang. Belakangan Zhang diangkat sebagai deputi gubernur militer Henan, Li Ju, Pangeran Guo (pengganti Li Zhi). Namun ketika meminta bantuan dari Li Ju yang ketika itu sedang berada di Pengcheng, Li menolak memberi bantuan materi, ia hanya memberikan kenaikan pangkat pada beberapa bawahan Zhang. Saat itu, An Lushan telah tewas dibunuh oleh anaknya sendiri, An Qingxu. Setelah naik tahta, An Qingxu mengirim jenderal Yin Ziqi menyerang Suiyang. Xu Yuan yang ketika itu telah kembali ke Suiyang meminta bantuan pada Zhang. Karena itu, Zhang mempercayakan Ningling pada perwiranya, Lian Tan, lalu membawa sebagian besar pasukannya ke Suiyang. Pada awalnya mereka berhasil mengalahkan Yin, namun Yin segera mengkonsolidasi pasukannya dan mengepung kota itu. Xu Yuan menyerahkan komando atas pasukan Suiyang kepada Zhang dengan alasan dirinya hanya seorang pejabat sipil yang tidak piawai dalam bidang militer. Kini ia hanya memegang tanggung jawab masalah logistik.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span id="Pertempuran_Suiyang"&gt;Pertempuran Suiyang&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Berkali-kali Yin Ziqi melancarkan serbuan terhadap kota Suiyang, namun setiap kali serangannya selalu dipatahkan oleh Zhang. Yin bahkan kehilangan mata kirinya karena terkena panah. Pasukan pemberontak sangat frustasi karena selalu gagal merebut kota, mereka hanya bisa mengepung di luar tembok. Namun dari hari ke hari, persediaan makanan di kota makin menipis. Persediaan itu adalah hasil kerja Xu Yuan yang telah dikumpulkan tak lama sebelum pertempuran, namun Li Ju memaksanya untuk membagikan persediaan itu pada dua pos militer lainnya, Puyang (di Provinsi Henan) dan Jiyin (sekarang Heze, Shandong). Menjelang musim panas 757, situasi Suiyang semakin genting, para prajurit terpaksa memakan nasi dicampur dengan daun teh, kertas, atau kulit pohon untuk memenuhi kebutuhan pangan. Banyak yang mulai jatuh sakit. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Zhang untuk terus bertahan hingga akhir. Ia berbagi tugas dengan Xu, bagian timur laut dijaga olehnya, sementara Xu menjaga bagian barat daya, keduanya berjuang keras siang dan malam bersama para prajurit mempertahankan kota itu. Seringkali Zhang menyerukan pada pasukan pemberontak agar mereka kembali ke pihak Tang dan berjuang bersama membela negara. Beberapa dari mereka tersentuh oleh kata-katanya dan memilih menyerah dan bergabung dengannya.&lt;br /&gt;Zhang mengutus perwira Nan Jiyun untuk meminta bantuan dari wilayah sekitar. Nan bersama 30 pasukan berkuda menembus kepungan musuh menuju Linhuai (sekarang Huai'an, Jiangsu) untuk meminta bantuan pada Jenderal Helan Jinming yang memiliki pasukan terkuat di wilayah itu. Namun sayangnya, Helan menolak permintaan itu dengan alasan Suiyang sudah dalam kondisi kritis dan akan segera jatuh dan ia tidak ingin menjerumuskan pasukannya ke dalam risiko berbahaya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Helan menolak karena ia iri pada Zhang dan Xu, ia juga khawatir dirinya akan diserang oleh Xu Shuji, sekutu dekat perdana menteri Fang Guan yang adalah lawan politiknya. Sebagai gantinya, Helan menawarkan Nan untuk menjadi salah satu staffnya, namun Nan menolaknya mentah-mentah lalu segera menuju ke Ningling dimana ia bergabung dengan Lian Tan dan 3000 pasukannya sebelum akhirnya kembali ke Suiyang. Namun begitu kembali, mereka terlibat pertempuran sengit di luar tembok kota dan menderita cukup banyak korban, hanya 1000 dari mereka yang selamat.&lt;br /&gt;Beberapa perwira Zhang menyarankan agar meninggalkan Suiyang dan mundur ke timur. Zhang dan Xu mendiskusikan hal ini, namun akhirnya mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan kota dengan pertimbangan Suiyang terletak di posisi strategis dan bila sampai jatuh maka akan membuka jalan bagi pasukan pemberontak untuk menyerang wilayah di antara Sungai Huai dan Sungai Yangtze, selain itu kalaupun meninggalkan Suiyang, bencana lain seperti kelaparan di jalan siap menghadang karena makanan yang tidak cukup dan perjalanan yang berat. Sementara itu, persediaan makanan semakin menipis saja, kuda-kuda perang mulai disembelih untuk dijadikan makanan. Setelah kuda habis, mereka mulai memakan burung gagak dan tikus. Setelah itu manusia pun mulai dijadikan makanan. Dengan penuh kesedihan, Zhang membunuh selir yang dikasihinya untuk dimakan pasukannya. Xu membunuh para pembantunya, dilanjutkan para wanita dan orang-orang cacat di dalam kota. Ketika itu situasi sudah sedemikian kritis, mereka sadar bahwa bila kota jatuh para pemberontak akan membantai mereka, sehingga ketika akan disembelih, tidak seorang pun melawan dan merelakan dagingnya berguna untuk memberi kekuatan bagi prajurit untuk terus berjuang bagi negara. Hingga saat-saat terakhir, hanya tinggal 400 orang yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span id="Jatuhnya_Suiyang_dan_kematian"&gt;Jatuhnya Suiyang dan kematian&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;24 November 757, pasukan pemberontak berhasil menaiki tembok kota, pasukan Zhang yang sudah lemah karena sakit dan kelaparan tidak berdaya menghalau mereka. Suiyang akhirnya jatuh ke tangan pemberontak, Zhang dan Xu ditawan. Mereka dibujuk untuk menyerah dan ditawarkan jabatan yang layak, namun Zhang, Xu, dan para perwira lain yang tersisa menolaknya mentah-mentah. Yin sangat mengagumi Zhang karena kegigihan dan kesetiaannya, ia sebenarnya ingin memberi pengampunan padanya, namun para bawahannya berkata bahwa dengan membiarkan Zhang tetap hidup sangat besar risiko meletusnya pemberontakan para tawanan perang. Yin pun akhirnya menjatuhkan hukuman mati pada Zhang dan 36 perwira pentingnya termasuk Nan Jiyun dan Lei Wanchun. Ketika akan dieksekusi, ekspresi Zhang tetap tenang tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun. Xu Yuan digiring ke Luoyang, namun dibunuh di Yanshi (dekat Luoyang) setelah para pemberontak mendengar kabar jatuhnya kota itu ke tangan pasukan Tang dan Huige (nenek moyang suku Uyghur) yang dipimpin oleh Li Chu, putra Kaisar Tang Suzong (putra Kaisar Xuanzong yang telah naik tahta menggantikannya).&lt;br /&gt;Setelah Kaisar Suzong kembali ke Chang’an yang berhasil direbut kembali, ia memberi penghargaan secara anumerta kepada para pejabat setia pada yang gugur dalam perang. Timbul kontroversi ketika penghargaan itu akan diberikan pada Zhang dan Xu karena kasus kanibalisme di Suiyang. Seorang teman Zhang bernama Li Han menulis biografi Zhang untuk membelanya, dalam tulisannya ia berargumen bahwa bila Zhang tidak berjuang sedemikian gigih hingga pada taraf ekstrim, bukan tidak mungkin Dinasti Tang akan mengalami kekalahan total. Beberapa pejabat lain seperti Li Shu, Dong Nanshi, Zhang Jianfeng, Fan Huang dan Zhu Juchuan mendukung argumen Li. Kaisar Suzong akhirnya menerima pembelaan Li, ia memberi penghargaan kepada Zhang, Xu, Nan dan para perwira lain yang gugur dalam pertempuran di Suiyang. Keluarga mereka dianugerahi hadiah berlimpah, termasuk putra Zhang, Zhang Yafu, yang diberi jabatan penting dalam pemerintahan. Di kota Suiyang dibangun sebuah kuil untuk memperingati kesetiaan Zhang dan Xu, kuil tersebut dinamai Kuil Ganda (双庙, &lt;i&gt;Shuang Miao&lt;/i&gt;), belakangan kuil ini diubah namanya menjadi Kuil Lima Raja (五王庙, &lt;i&gt;Wuwang Miao&lt;/i&gt;) dengan ditambahkannya Nan Jiyun, Lei Wanchun, dan Jia Bi sebagai tokoh yang disembah. Tahun 1991, pemerintah RRC memindahkan kuil itu ke depan gerbang selatan kota Shangqiu dan mengubah namanya menjadi Kuil Zhang Xun (张巡祠, &lt;i&gt;Zhang Xun Ci&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span id="Persepektif_sejarah"&gt;Persepektif sejarah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h2&gt;&lt;span id="Persepektif_sejarah"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Keberanian dan kesetiaan Zhang Xun menuai pujian dan decak kagum dari generasi setelahnya. Wen Tianxiang, patriot besar pada akhir Dinasti Song, memuji Zhang dalam puisi terkenalnya ‘&lt;i&gt;Lagu Kebenaran&lt;/i&gt;’ (正气歌, &lt;i&gt;Zhengqige&lt;/i&gt;). Para sastrawan, negarawan dan patriot lain seperti Yue Fei, Wang Anshi, Han Yu, Lu You juga pernah menyanjungnya dalam tulisan-tulisan mereka. Agama Tao bahkan menjadikan Zhang sebagai salah satu dewanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari sudut pandang militer, Zhang adalah seorang pemimpin militer yang gemilang, dengan pasukan yang sedikit ia sanggup bertahan melawan pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak serta menimbulkan kerusakan besar di pihak lawan dengan strategi perang yang cerdik. Ia juga seorang pemimpin yang mampu mengobarkan semangat anak buahnya, sikapnya yang bersahaja, mau berbagi suka dan duka dengan mereka telah membuat mereka sangat hormat dan rela mempertaruhkan jiwa raga di medan perang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagimanapun, tindakan ekstrim Zhang yang telah menyebabkan kanibalisme tidak luput dari kritik. Wang Fuzhi, filsuf Konfusius pada masa Dinasti Qing, mengkritik keras Zhang atas tindakannya itu, demikian pula sejarawan Tiongkok modern, Bo Yang, yang menyatakan bahwa tindakan Zhang, yang menurutnya tidak menghargai kehidupan demi kesetiaan dan idealisme, sangat disayangkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="thumb tright"&gt;&lt;div class="thumbinner" style="width: 202px;"&gt;&lt;img alt="" class="thumbimage" height="150" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0d/God_chung_temple.jpg/200px-God_chung_temple.jpg" width="200" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="thumbcaption"&gt;Istana Hushan di Taipei, Taiwan, salah satu kuil yang didedikasikan bagi Zhang Xun&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terlepas dari segala kontroversi, Zhang Xun tetap merupakan seorang tokoh yang dihormati dan menjadi teladan bagi setiap generasi Tionghoa. Kuil-kuil peringatan dirinya banyak dibangun di berbagai daerah di Tiongkok maupun di luar Tiongkok seperti Taiwan dan Singapura. Puisi-puisinya, terutama yang ditulis pada sela-sela pertempuran di Yongqiu dan Suiyang mengenai kesetiaan dan semangat yang membara dalam membela negara, tetap abadi hingga kini dan senantiasa menginspirasi para patriot dalam perjuangan mereka.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-9102092243842132528?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/9102092243842132528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/kegigihan-zhang-suiyang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9102092243842132528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/9102092243842132528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/kegigihan-zhang-suiyang.html' title='Kegigihan Zhang Suiyang'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SurGK83B4yI/AAAAAAAAAEY/nR2XNFEH2_c/s72-c/200px-Zhang_Xun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-6129959654841109835</id><published>2009-10-29T18:20:00.002+07:00</published><updated>2010-02-08T11:42:06.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Shimazu Yoshihiro</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S2-V-VD9LmI/AAAAAAAAAFg/qoFzBoombT0/s1600-h/yoshihiro.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S2-V-VD9LmI/AAAAAAAAAFg/qoFzBoombT0/s320/yoshihiro.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Shimazu Yoshihiro&lt;/b&gt; (島津義弘, 1535-1619) adalah daimyo pada masa perang sipil Jepang/ Periode Sengoku. Anak kedua dari Shimazu Takahisa dan adik dari Shimazu Yoshihisa, kepala klan Shimazu. Sejak muda telah memperlihatkan kehebatannya sebagai prajurit dan mengikuti kakaknya dalam berbagai pertempuran. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertempuran Kizakihara tahun 1572, pasukannya yang hanya berkekuatan 300 orang mengalahkan Ito Yoshisuke yang mempunyai 3000 orang, sehingga pertempuran itu kadang disebut Okehazama di Kyushu. Dia juga terlibat dalam pertempuran lain seperti pertempuran Takabaru (1576), Mimigawa (1576), Minamata (1581), dan Hetsugigawa (1587). Kontribusinya sangat besar dalam unifikasi Kyushu. Tahun 1587, Toyotomi Hideyoshi mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Kyushu. Yoshihiro bersikeras melanjutkan perang walaupun kakaknya yang kepala klan, Yoshihisa sudah menyatakan menyerah. Baru setelah Yoshihisa berkali-kali membujuknya dia tunduk pada keputusan itu. Setelah kekalahan ini, Yoshihisa pensiun dan menjadi biksu dengan nama Ryuhaku. Kekuasaan pun berpindah ke tangan Yoshihiro, namun konon kabarnya Yoshihisa tetap memegang kekuasaan di belakang layar. &lt;br /&gt;Di bawah Hideyoshi, Yoshihiro terlibat dalam invasi ke Korea. Tahun 1592 dan 1597 dalam perang selama tujuh tahun itu, dia menginjakkan kaki di semenanjung itu dan dengan gemilang memenangkan sejumlah pertempuran. Tahun 1597, bersama Todo Takatora, Yoshihiro mengalahkan angkatan laut Korea dibawah pimpinan jendral Won Kyun dan membunuhnya itu dalam pertempuran. Kekemenangan ini sekaligus membalaskan kekalahan dalam pertempuran sebelumnya dimana mereka dikalahkan angkatan laut Korea dibawah Yi Sun-sin. Tanpa Yi Sunsin yang saat itu sedang diasingkan karena fitnah lawan-lawan politiknya, angkatan perang Korea dengan mudah dikalahkan. Pertempuran selanjutnya tahun 1598, Yoshihiro menghadapi pasukan Ming yang membantu Korea dengan kekuatan 37.000 orang. Namun hanya dengan 7000 orang, Yoshihiro mengalahkan mereka dan menjatuhkan banyak korban jiwa pada pasukan musuh. Keadaan berbalik pada babak final dari perang itu, pertempuran Noryang. Armada yang berkekuatan 500 kapal perang yang dipimpinnya kalah telak oleh aliansi Joseon Korea dan Ming Tiongkok yang dipimpin Yi Sunsin yang telah kembali. Pertempuran itu berakhir dengan kerugian 300 kapal perangnya karam, ini adalah salah satu kekalahannya yang terbesar. Keterlibatannya dalam invasi Korea ini diprotes sejumlah bawahannya, termasuk adiknya Toshihisa ketika hendak berangkat. Ujungnya Toshihisa bunuh diri. &lt;br /&gt;Dalam pertempuran Sekigahara tahun 1600 dia berpihak pada Ishida Mitsunari, wali klan Toyotomi. Namun dia tidak cocok dengan Mitsunari yang tidak pernah mendengarkan sarannya, termasuk saran untuk mengadakan serangan malam dadakan sebelum dimulai pertempuran sesungguhnya. Pada hari berlangsungnya pertempuran, Yoshihiro dan 1500 prajuritnya hanya bertugas menjaga tanpa ikut bertempur sama sekali. Setelah pasukan Mitsunari tersapu bersih dia terkepung diantara sekitar 30.000 tentara Tokugawa. Melihat pasukannya hampir binasa seluruhnya karena kalah jumlah, Yoshihiro hendak menyerbu ke posisi Tokugawa sendirian, namun setelah keponakannya, Toyohisa menasehati agar dia tidak mengorbankan nyawa sia-sia, diapun membuka jalan mundur sambil terus menyerang. Toyohisa dan sejumlah besar orang-orangnya gugur menahan musuh, namun upaya mundur sambil bertahan ini berhasil, Yoshihiro lolos dan salah satu jendral Tokugawa, Ii Naomasa terluka parah yang mengakibatkan kematiannya tak lama kemudian. Setelah lolos, dia menjemput istrinya di Sumiyoshi, Provinsi Settsu lalu kembali ke Provinsi Satsuma dengan kapal laut. &lt;br /&gt;Setelah melihat perjuangan Yoshihiro yang begitu gigih, Tokugawa membiarkan klan Shimazu tetap menguasai daerahnya. Dia menunjuk anaknya, Tadatsune sebagai kepala klan berikutnya lalu pensiun dan menghabiskan masa tuanya di Sakurajima dengan mengajar generasi muda. Tahun 1619, dia meninggal dan beberapa bawahannya yang pernah berjuang bersamanya bunuh diri mengikutinya. &lt;br /&gt;Yoshihiro memegang peranan penting bagi klan Shimazu. Dalam hal ini, Toyotomi dan Tokugawa bermaksud mengadudomba klan ini dengan memperlakukan Yoshihiro dengan baik sementara memperlakukan Yoshihisa dengan buruk, namun rencana ini tidak pernah berhasil. Yoshihiro adalah seorang penganut Buddha yang taat, dia juga membangun monumen untuk penghormatan bagi musuh yang gugur dalam invasi Korea.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-6129959654841109835?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/6129959654841109835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/shimazu-yoshihiro.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6129959654841109835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6129959654841109835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/shimazu-yoshihiro.html' title='Shimazu Yoshihiro'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S2-V-VD9LmI/AAAAAAAAAFg/qoFzBoombT0/s72-c/yoshihiro.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-6605582516538139538</id><published>2009-10-26T14:24:00.001+07:00</published><updated>2009-10-26T14:25:14.669+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Loyalty'/><title type='text'>Loyalitas Zhou Gong</title><content type='html'>Ji, nama panggilan Zhou Gong (adik keempat Raja Wu dari Dinasti Zhou), Zhou Gong berarti pula Adipati Zhou. Dia adalah seorang yang patuh dan setia di hadapan raja Wu, dan siap memberikan hidupnya membantu raja Zhou memerangi Dinasti Shang. Setahun setelah pengukuhan dinasti Zhou, Raja Wu (raja dinasti Zhou) mengalami sakit keras. Merasa ajalnya sudah dekat, ia memanggil Zhou Gong untuk membantu anak lelakinya yang masih muda yang bernama Song yang akan menjadi Raja selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhou Gong bekerja keras siang dan malam, ia mempekerjakan orang pandai dan berbudi luhur dengan hormat. Dia juga menjari orang berbakat ke segala penjuru negeri agar mengabdi pada kerajaan Zhou. Dia memperlakukan semua orang berbakat bahkan orang-orang biasa, sebagai tamu terhormat dan mengajak mereka berdiskusi tentang kondisi negara di samping mendengarkan pendapat mereka dengan sunguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Zhou menghadapi berbagai percobaan, di antaranya adalah penyerangan Wu Geng, anak raja terakhir Dinasti Shang yang memberontak. Menghadapi ini, Zhou Gong meminta saran kepada Tai Gong ( Lu Wang) dan Zhao Gong (Yu Shi) yang merupakan pejabat tinggi. Dia bingung karena di satu sisi, ia bukanlah seorang Raja yang bisa memutuskan segalanya, tetapi Raja dinasti ini masih terlalu muda sehingga tidak mungkin mengambil alih pemerintahan. Mendengar perkataan ini, kedua pejabat ini mendukung Zhou Gong untuk terus membantu raja dan bertindak sebagai walinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi pemberontakkan ini, Zhou Gong memimpin pasukan untuk melawan pemberontakkan. Dia mengeluarkan perintah kerajaan yang meminta para petugas maupun khalayak ramai untuk bangkit bersama menghancurkan pemberontakkan. Setelah tiga tahun, pemberontakkan pun berhasil dipadamkan. Dinasti Zhou menjadi semakin luas dan dapat dipersatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhou Gong bertindak sebagai wali selama 7 tahun, setelah 7 tahun ia mengembalikan kekuasaan kepada raja. Meski begitu, Zhou Gong tetap mengabdi kepada raja sepenuh hati. Suatu hari, ia difitnah oleh orang-orang yang bermoral jahat. Zhou Gong pun mengungsi ke wilayah Chu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Raja Cheng sedang meneliti beberapa dokumen tua, ia menemukan sebuah doa yang dipanjatkan Zhou Gong ketika Raja Cheng sakit. Membaca dokumen ini, raja Cheng tersentuh dan memanggil kembali Zhou Gong. Zhou Gong pun membantu raja kembali dan berhasil membawa dinasti Zhou menjadi negara yang damai, kuat, dan jaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-6605582516538139538?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/6605582516538139538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/loyalitas-zhou-gong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6605582516538139538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6605582516538139538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/loyalitas-zhou-gong.html' title='Loyalitas Zhou Gong'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-8744959861028944258</id><published>2009-10-20T18:17:00.004+07:00</published><updated>2010-02-08T11:35:35.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Kiyooki Shima</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/St2c7xVbdHI/AAAAAAAAAEA/FwRqka27Als/s1600-h/sakon.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394640479329154162" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/St2c7xVbdHI/AAAAAAAAAEA/FwRqka27Als/s320/sakon.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 135px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 93px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Lucz/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" /&gt;&lt;img alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Lucz/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" /&gt;Shima Kiyooki (島 清興 ?) (9 Juni 1540? - 21 Oktober 1600?) adalah seorang samurai di zaman Azuchi-Momoyama, sekaligus penasihat militer dan pengikut Ishida Mitsunari. Lebih terkenal dengan nama Shima Sakon (島 左近 ?), Shima Kiyooki merupakan nama yang digunakan dalam dokumen resmi. Nama Shima Sakon yang sebenarnya adalah Katsutake (勝猛 ?).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Putrinya menjadi istri Yagyū Toshiyoshi yang waktu itu telah menjadi duda, dan memiliki cucu seorang ahli beladiri pedang bernama Yagyū Yoshikane. Perjalanan hidup Pengikut klan Tsutsui dan klan Toyotomi Sakon lahir dari garis keturunan kokujin (samurai lokal) di Provinsi Yamato. Klan Shima diperkirakan menguasai wilayah sekitar kota Heguri, Distrik Ikoma, Prefektur Nara. Pada awalnya Sakon bertugas sebagai shugo (penjaga wilayah) di Provinsi Kawachi yang bertetangga, namun meluaskan pengaruhnya dengan membantu klan Hatakeyama di Provinsi Yamato. Sakon berada di pihak Hatakeyama Takamasa sewaktu bertempur melawan Miyoshi Nagayoshi dalam Pertempuran Kyōkōji. Pihak Hatakeyama mengalami kekalahan besar, dan Sakon melarikan diri. Berkat pengalaman bertempur di bawah komando Tsutsui Junsei, Sakon diterima bergabung dengan klan Tsutsui, dan menjadi salah seorang pemilik tanah. Kecerdasan dan kemampuan militer Sakon menjadikan dirinya diangkat sebagai samurai daishō yang memimpin pasukan milik Tsutsui Junkei yang meneruskan kekuasaan ayahnya, Tsutsui Junsei. Sakon memimpin perang berkelanjutan melawan Matsunaga Hisahide yang sedang berusaha merebut Provinsi Yamato. Pada waktu itu, Tsutsui Junkei terkenal dengan dua penasehat militer yang mendampinginya, Matsukura Shigenobu yang terkenal dengan sebutan Ukon, dan Shima Sakon. Duet kedua penasehat militer tersebut dikenal dengan sebutan Ukon-Sakon. Setelah tewasnya Tsutsui Junkei, klan Tsutsui dipimpin penerusnya yang bernama Tsutsui Tadatsugu. Sakon merasa tidak cocok dengan Tadatsugu dan meninggalkan klan Tsutsui. Setelah sempat menjadi pengikut Hashiba Hidenaga dan Toyotomi Hideyasu, Sakon menjadi ronin dan mengasingkan diri di Provinsi Ōmi. Pengikut Ishida Mitsunari Penguasa Ōmi waktu itu, Ishida Mitsunari bermaksud mempekerjakan Sakon yang sedang menjadi ronin. Selama menjadi ronin, Sakon terus menolak tawaran dari klan yang ingin mempekerjakannya. Tawaran Mitsunari juga ditolak Sakon, namun Sakon setuju setelah dibujuk Mitsunari dengan imbalan 15 ribu koku. Imbalan tersebut hampir setengah dari 40 ribu koku penghasilan yang didapat Mitsunari. Penjelasan lain mengatakan Sakon baru bekerja untuk Mitsunari setelah Mitsunari menjadi penguasa Istana Sawayama dengan penghasilan 190 ribu koku. Setelah Toyotomi Hideyoshi tutup usia (1598), Tokugawa Ieyasu berusaha merebut pemerintahan dari klan Toyotomi. Sakon menyusun rencana untuk membunuh Ieyasu setelah posisi Mitsunari dan pemerintahan klan Toyotomi dalam keadaan bahaya. Mitsunari tidak menyetujui cara menyingkirkan Ieyasu seperti yang diusulkan Sakon, dan rencana tersebut batal. Dalam rencana Sakon yang banyak diragukan sejarawan, Sakon dibantu Natsuka Masaie, penguasa Istana Minakuchi di Provinsi Ōmi. Sakon meminta Masaie agar mengundang Ieyasu yang sedang perjalanan dalam misi penaklukan Aizu agar datang ke Istana Minakuchi. Di sana, rencananya Ieyasu akan dibunuh oleh Sakon dan kawan-kawan. Masaie menyetujui rencana Sakon, dan berhasil membuat Ieyasu berjanji untuk datang ke Istana Minakuchi. Namun, Ieyasu membatalkan kedatangan ke Istana Minakuchi setelah menerima informasi rencana pembunuhan dari mata-mata Ieyasu. Pertempuran Sekigahara Sehari sebelum Pertempuran Sekigahara, Sakon memimpin 500 prajurit kubu pasukan barat dalam pertempuran kecil melawan kubu pasukan timur dalam Pertempuran Sungai Kuise. Pertempuran dimenangkan pasukan barat yang dipimpin Sakon dengan bantuan Akashi Takenori (pengikut Ukita Hideie). Malam sebelum pecahnya Pertempuran Sekigahara, Sakon bersama Shimazu Yoshihiro dan Konishi Yukinaga merencanakan serangan mendadak di malam hari terhadap kubu pasukan timur. Rencana tersebut batal karena ditolak Mitsunari. Kubu pasukan barat awalnya unggul dalam Pertempuran Sekigahara, tapi keadaan berubah menjadi keunggulan kubu Ieyasu setelah Kobayakawa Hideaki membelot ke kubu pasukan timur. Sakon tahu dirinya segera akan mati, dan menyerang pasukan timur yang dipimpin Tanaka Yoshimasa dan Kuroda Nagamasa langsung dari depan. Sakon tewas terkena tembakan musuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-8744959861028944258?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/8744959861028944258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/shima-kiyooki-9-juni-1540-21-oktober.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8744959861028944258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8744959861028944258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/10/shima-kiyooki-9-juni-1540-21-oktober.html' title='Kiyooki Shima'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/St2c7xVbdHI/AAAAAAAAAEA/FwRqka27Als/s72-c/sakon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-3864703936134488751</id><published>2009-07-19T06:42:00.008+07:00</published><updated>2009-10-21T05:11:55.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Mitsunari Ishida</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0kCoYHRI/AAAAAAAAADA/Kb4kx6I4F34/s1600-h/mitsunari2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156100124155154" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0kCoYHRI/AAAAAAAAADA/Kb4kx6I4F34/s320/mitsunari2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 82px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 66px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishida Mitsunari (石田 三成 ?) (1560 - 6 November 1600 atau 1 Oktober tahun ke-5 era Keichō) adalah daimyo zaman Azuchi Momoyama yang pernah menjabat salah satu anggota lima pelaksana pemerintahan (Go Bugyō) di masa pemerintahan Toyotomi. Ishida Mitsunari merupakan pemimpin kubu Pasukan Barat dalam Pertempuran Sekigahara.&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Kelahiran desa Ishida di distrik Sakata provinsi Ōmi (sekarang disebut Ishida-cho, kota Nagahama Prefektur Shiga). &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lahir sebagai putra kedua Ishida Masatsugu dengan nama kecil Sakichi. Keluarga Ishida berasal dari klan lokal yang secara turun temurun tinggal di desa Ishida dengan nama keluarga berasal dari nama desa. 1574: Diangkat sebagai pengikut Hashiba Hideyoshi. Ada catatan yang menyatakan Mitsunari baru diangkat sebagai pengikut Hideyoshi pada tahun 15771577: Memimpin pasukan Hideyoshi untuk menaklukkan wilayah Chūgoku.1583: Turut serta dalam Pertempuran Shizugatake. Terkenal gagah berani dan selalu berada dalam barisan paling depan sewaktu menyerang musuh. Membantu strategi politik Hideyoshi antara lain pernah mengirim surat kepada penasehat klan Uesugi yang bernama Naoe Kanetsugu dengan tujuan menjalin persekutuan antara klan Hashiba dan klan Uesugi. Pada tahun yang sama menjadi penguasa Istana Minakuchi yang bernilai 40.000 koku.1584: Turut serta dalam Pertempuran Komaki-Nagakute. Bertugas sebagai pelaksana survei di distrik Gamō, provinsi Ōmi.1585: Diangkat menjadi menteri di Kementerian Protokol (Jibushō). Bersama dengan Naoe Kanetsugu menjadi saksi perjanjian perdamaian antara Hideyoshi dan Uesugi Kagekatsu.1586: Menjadi perantara Hideyoshi dengan Uesugi Kagekatsu sewaktu Kagekatsu menjalankan tugas pemerintahan di Kyoto dan diangkat sebagai pelaksana administrasi kota Sakai1587: Turut serta dalam penaklukan Kyushu. Diangkat sebagai pelaksana administrasi kota Hakata dan memulihkan pembangunan kota Hakata.1588: Menjadi perantara dalam pertemuan Shimazu Yoshihisa dengan Hideyoshi1589: Bertugas melakukan survei wilayah di provinsi Mino1590: Turut serta dalam Penaklukan Odawara untuk menaklukan Istana Odawara yang dikuasai klan Gohōjō. Berperan sebagai perantara dalam pertemuan Satake Yoshinobu dengan Hideyoshi. Menyerang Istana Tatebayashi dan Istana Oshi. Bertugas melakukan survei ke Oshu, memadamkan pemberontakan Ikki. Pada tahun yang sama ditunjuk sebagai penguasa Istana Sawayama di provinsi Ōmi yang bernilai 190.000 koku.1592: Turut serta dalam Perang Tujuh Tahun penaklukkan Joseon bersama-sama denganMashita Nagamori dan Ōtani YoshitsuguTurut serta dalam pertempuran benteng Gunung Haengju dan Pertempuran Hekiteikan melawan pasukan dinasti Ming. Wakil dari dinasti Ming yang bernama Sha Yōshi diajaknya pergi ke Istana Hizen Nagoya di Jepang1594: Melakukan survei ke wilayah kekuasaan klan Shimazu dan klan Satake1595: Menjadi penyidik perkara Toyotomi Hidetsugu dan bertindak sebagai penguasa sementara bekas wilayah kekuasaan Hidetsugu yang bernilai 70.000 koku1596: Menyambut kedatangan utusan dari Dinasti Ming. Hideyoshi memerintahkan Mitsunari untuk menindas pengikut Kirishitan (sebutan zaman itu untuk agama Kristen). Mitsunari bersimpati pada Kirishitan sehingga mengurangi jumlah pengikut yang tertangkap dan berusaha keras dalam perundingan dengan Hideyoshi agar tawanan tidak dieksekusi.1576: Diangkat menjadi Daikan (pejabat pengganti) setelah mengambil alih wilayah kekuasaan Kobayakawa Hideaki1598: Toyotomi Hideyoshi meninggal. Misunari memerintahkan penarikan pasukan dari Joseon.1599: Tokugawa Ieyasu bertikai dengan Maeda Toshiie, tapi berhasil didamaikan. Pada bulan Maret tahun yang sama, Maeda Toshiie wafat. Mitsunari diserang oleh 7 komandan militer dibawah pimpinan Katō Kiyomasa. Ishida Mitsunari kabur bersembunyi di rumah Ukita Hideie. Ada juga pendapat yang mengatakan Mitsunari bersembunyi di rumah Tokugawa Ieyasu. Mitsunari lalu dikenakan tahanan rumah di Istana Sasayama.1600: Mitsunari menanggapi ajakan Ōtani Yoshitsugu untuk bersama-sama mengangkat senjata menggulingkan Tokugawa Ieyasu. Mitsunari membentuk koalisi anti Ieyasu yang terdiri dari Maeda Geni, Mashita Nagamori, Natsuka Masaie (empat orang dari lima anggota dewan Go Bugyō) beserta Mōri Terumoto dan Ukita Hideie (dua orang dari lima anggota dewan Go Tairō). Koalisi anti Ieyasu mengajak para daimyo untuk bergabung dalam kubu Pasukan Barat melawan Tokugawa Ieyasu. Setelah berhasil menaklukkan Istana Fushimi, Pasukan Barat maju menuju Tarui (provinsi Mino) dan berhasil merebut Istana Ōgaki. Pada tanggal 15 September 1600, Pasukan Barat yang dipimpin Ishida Mitsunari mengalami kekalahan dalam Pertempuran Sekigahara. Mitsunari lari hutan di Gunung Ibuki, tapi berhasil ditangkap oleh Tanaka Yoshimasa. Pada tanggal 1 Oktober tahun yang sama, Ishida Mitsunari menerima hukuman mati di tempat bernama Rokujōgawara yang terletak di pinggir sungai Kamo, Kyoto. Pada saat dieksekusi, Ishida Mitsunari berusia 40 tahun.   Profil Kisah tiga cangkir teh Hashiba Hideyoshi yang sedang berada di provinsi Ōmi mampir ke kuil Kanon meminta minum karena haus. Pembantu pendeta memberi Hideyoshi secangkir teh dingin yang langsung diminum habis oleh Hideyoshi. Hideyoshi yang masih merasa haus meminta tambah lagi secangkir teh lagi. Cangkir kedua berisi teh hangat yang langsung diminum habis oleh Hideyoshi. Setelah cangkir teh kedua habis diminum, Hideyoshi masih meminta tambah secangkir teh lagi. Cangkir ketiga ternyata berisi teh yang sangat panas hingga membuat Hideyoshi kaget. Pembantu pendeta lalu menjelaskan bahwa cangkir teh pertama sebagai penghilang rasa haus, cangkir teh kedua untuk dinikmati perlahan-lahan, dan cangkir teh ketiga untuk lebih dinikmati perlahan-lahan lagi. Pembantu pendeta ini nantinya dikenal sebagai Ishida Mitsunari, tapi kisah ini berasal dari zaman Edo dan kemungkinan besar merupakan cerita karangan orang. Pengagum putri bekas majikan Setelah wafatnya, Ishida Mitsunari menjadi korban cerita yang menjelek-jelekkan dirinya yang dikarang sejarawan dari pemerintahan Keshogunan Tokugawa. Cerita yang banyak diketahui orang mengatakan Ishida Mitsunari jatuh cinta pada Yodo dono yang merupakan anak perempuan Azai Nagamasa walaupun tidak ada bukti istri Hideyoshi pernah berhubungan gelap dengan Mitsunari. Cerita lain mengatakan Toyotomi Hideyori bukanlah putra Toyotomi Hideyoshi dengan Yodo dono, melainkan anak hubungan gelap Yodo dono dengan Mitsunari atau Ōno Harunaga. Cerita ini berasal dari pertengahan zaman Edo dan kemungkinan merupakan cerita hasil karangan orang. Lukisan potret Paling tidak ada 3 sampai 4 lukisan potret Ishida Mitsunari dan konon lukisan dibuat berdasarkan tengkorak kepala Mitsunari. Setelah badan dan kepala Ishida Mitsunari dipertontonkan di muka umum di Sanjōgawara, jasadnya dimakamkan di bagian kuil Daitokuji bernama Sangen-in yang dibangun Mitsunari sewaktu masih hidup. Ada juga cerita yang mengatakan pintu gerbang rumah kediaman Mitsunari di Fushimi dipindahkan ke kuil Sangen-in. Setelah beristirahat lebih dari 300 tahun, makam Mitsunari di kuil Sangen-in digali kembali di tahun 1907 oleh peneliti sejarah bernama Watanabe Seiu dari Tokyo Imperial University untuk keperluan penulisan biografi. Adachi Buntarō dari bagian anatomi Universitas Tokyo melakukan penelitian atas sisa tulang dan memotret tengkorak kepala Ishida Mitsunari. Berdasarkan hasil penelitian, Mitsunari berperawakan sedang, bergigi tonggos dan sewaktu meninggal berusia sekitar 41 tahun. Pada tahun 1976 dilakukan rekonstruksi wajah Ishida Mitsunari dengan menggunakan bahan gips atas permintaan fotografer bernama Ishida Takayuki yang merupakan keturunan Ishida Mitsunari. Rekonstruksi dilakukan oleh mantan kepala bagian sains Kepolisian Metropolitan Tokyo yang bernama Nagayasu Shūichi. Pada saat yang bersamaan juga diukur tinggi badan Mitsunari dan menurut hasil pengukuran Mitsunari mempunyai tinggi badan 156 cm. Pada bulan Maret 1980, pelukis Jepang bernama Maeda Mikio menggambar lukisan potret Ishida Mitsunari berdasarkan rekonstruksi dari gips dan pengarahan Ishida Tetsurō dari Universitas Kedokteran Kansai. Lukisan potret Ishida Mitsunari sekarang dipajang di menara utama Istana Osaka. Cucu keturunan Mitsunari dikaruniai 5 putri dan 2 orang putra (Ishida Shigeie dan Ishida Shigenari). Pada saat terjadi Pertempuran Sekigahara, Ishida Shigeie sedang berada di Istana Sasayama. Setelah mendengar berita kekalahan di Sekigahara, Shigeie yang menerima perintah dari kakeknya langsung melarikan diri bersembunyi di kuil Myōshinji dan menjadi biksu. Permohonan ampun atas nyawa Ishida Shigeie yang diajukan pendeta kuil Myōshinji ternyata dikabulkan Tokugawa Ieyasu. Selanjutnya, Ishida Shigeie menjadi biksu kepala generasi ke-3 di kuil Jushōin yang berada di dalam lingkungan kuil Myōshinji. Ishida Shigeie wafat di usia 104 tahun pada tahun 1686. Ishida Shigenari sedang berada di Istana Osaka sebagai koshō (pembantu pria) untuk Toyotomi Hideyori. Atas petunjuk teman sesama koshō bernama Tsugaru Nobutake (putra pewaris Tsugaru Tamenobu), Shigenari melarikan diri ke wilayah han Hirosaki (Tsugaru). Pada tahun 1610, Shigenari wafat di usia 25 tahun walaupun ada cerita yang mengatakan Shigenari wafat di tahun 1641. Anak keturunan Shigenari menjadi menteri senior di han Hirosaki setelah mengganti nama keluarga menjadi Sugiyama. Anak perempuan Mitsunari (masih satu ibu dengan Shigeie) yang bernama Putri Osa (Tatsuko) menikah dengan Tsugaru Nobuhira (adik dari penguasa wilayah han Hirosaki bernama Tsugaru Nobutake). Putri Osa kemudian menikah sekali lagi dengan Oka Shigemasa (penasehat untuk Gamō Tadasato dari wilayah han Aizu). Kedudukannya Putri Osa diturunkan menjadi istri simpanan, setelah sang suami Tsugaru Nobutake mengambil Putri Mate sebagai istri sah. Putri Osa kemudian melahirkan Tsugaru Nobuyoshi yang nantinya menjadi penguasa han Mutsu generasi ke-3. Dengan Oka Shigemasa, Putri Osa melahirkan Ofuri no kata yang kemudian menjadi istri Tokugawa Iemitsu. Ofuri no kata melahirkan Putri Chiyo yang nantinya menjadi istri sah Tokugawa Mitsutomo (generasi kedua penguasa han [[Owari] dan salah satu dari percabangan keluarga Tokugawa yang disebut Gosanke). Putri Chiyo juga melahirkan Tokugawa Tsunanari yang nantinya mempunyai putra bernama Tokugawa Yoshimichi, Tokugawa Tsugutomo dan Tokugawa Muneharu yang selalu bertentangan dengan Tokugawa Yoshimune.   Keturunan Kakak laki-laki Ishida Mitsunari bernama Ishida Masazumi. Istri sah Mitsunari adalah putri dari Uda Yoritada dan putri dari klan Kutsuki. Putranya bernama Ishida Shigeie dan Ishida Shigenari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-3864703936134488751?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/3864703936134488751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/mitsunari-ishida.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/3864703936134488751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/3864703936134488751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/mitsunari-ishida.html' title='Mitsunari Ishida'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0kCoYHRI/AAAAAAAAADA/Kb4kx6I4F34/s72-c/mitsunari2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-6737620537801712085</id><published>2009-07-19T06:40:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T05:12:53.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Sanada Yukimura</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0aie1MTI/AAAAAAAAAC4/Lzdyk98rG8I/s1600-h/yukimura2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362155936875360562" src="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0aie1MTI/AAAAAAAAAC4/Lzdyk98rG8I/s320/yukimura2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 132px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 138px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sanada Yukimura (真田 幸村 ?) (? 1567 - 3 Juni 1615) adalah samurai Jepang, anak kedua dari daimyo Sanada Masayuki pada masa perang sipil/ periode Sengoku yang mengabdi pada klan Takeda. Nama lainnya adalah Sanada Nobushige (真田 信繁 ?) mengikuti nama adik Takeda Shingen, Takeda Nobushige yang adalah seorang prajurit yang berani dan terhormat. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tahun 1582, aliansi Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu menghancurkan klan Takeda sehingga klan Sanada pun menyerah pada Oda Nobunaga. Namun setelah Nobunaga terbunuh dalam Insiden Honouji, klan Sanada menjadi independen tanpa tuan. Mereka berturut-turut mengabdi pada klan-klan kuat pada masa itu seperti Uesugi, Hojo, dan Tokugawa. Tahun 1585, Yukimura dikirim sebagai sandera untuk klan Uesugi oleh ayahnya, dia tinggal disana dibawah pengawasan Suda Chikamitsu. Setelah kembali, dia menikahi salah seorang anak perempuan Otani Yoshitsugu. Tahun 1600, Pertempuran Sekigahara meletus antara pasukan barat yang dipimpin Ishida Mitsunari, wali klan Toyotomi dan pasukan timur yang dipimpin Tokugawa Ieyasu. Dalam pertempuran ini Yukimura dan ayahnya, Masayuki berpihak pada pasukan barat, namun kakaknya, Sanada Nobuyuki berpihak pada Tokugawa. Yukimura meraih popularitasnya dalam pertahanan Kastil Ueda dimana dia menahan 40.000 tentara yang dipimpin Tokugawa Hidetada hanya dengan 2000 orang. Tokugawa Ieyasu hampir menghukum mati seluruh klan Sanada karena perlawanan mereka yang keras itu, namun karena memandang Nobuyuki yang berpihak padanya, dia hanya mengasingkan Yukimura dan Masayuki ke Kudoyama, provinsi Kii. Disana, Masayuki meninggal, desas-desus mengatakan dia dibunuh atas perintah Tokugawa Ieyasu. Duabelas tahun kemudian, hubungan antara klan Tokugawa dan Toyotomi mulai memanas kembali, Ieyasu merasa Toyotomi Hideyori yang telah menginjak usia dewasa menjadi ancaman baginya. Klan Toyotomi sendiri juga mulai menghimpun kekuatan kembali untuk membalas kekalahan di Sekigahara, mereka merekrut para ronin/ samurai tak bertuan untuk menghadapi Tokugawa. Tahun 1614, Yukimura meloloskan diri dari Kii dan mengabdikan diri pada Toyotomi. Musim dingin tahun itu, Kastil Osaka kediaman Toyotomi dikepung. Yukimura memperkuat pertahanan di sebelah selatan kastil yang lemah, dari sini dia bertempur dengan pasukan Tokugawa dengan menggunakan senjata api. Pasukannya yang berjumlah 7000 orang bertahan dengan gigih menahan 10.000 pasukan Tokugawa selama sebulan. Menghadapi situasi ini, Tokugawa menawarkan negosiasi damai. Hideyori menerima negosiasi ini sehingga memberi kesempatan bagi Tokugawa untuk menghimpun kekuatan untuk mengadakan penyerangan lagi tahun berikutnya. Mei 1915, dalam Pertempuran Musim Panas Osaka, Yukimura tidak lagi bertempur secara defensif, kali ini dia melancarkan penyerbuan berskala besar langsung ke posisi penting pasukan musuh. Serbuannya begitu dahsyat sehingga beberapa kali berhasil menerobos kemah utama Tokugawa. Bahkan konon kabarnya Tokugawa sendiri hampir melakukan bunuh diri karenanya, namun cerita ini sepertinya hanya dramatisasi saja. Yukimura menerobos kemah utama sebanyak tiga kali dan hampir mendekati Tokugawa dalam jarak beberapa meter saja. Dalam kepungan pasukan Tokugawa dia bertempur dengan gagah berani. Namun dia harus tumbang karena jumlah pasukan musuh yang demikian banyaknya, tubuhnya sudah lelah dan penuh luka. Dalam kondisi demikian, dia membuka helmnya dan berseru “Aku Sanada Yukimura, seorang musuh yang sepadan dengan kalian, namun aku sudah terlalu lelah untuk bertempur !”. Seorang samurai Tokugawa, Nishio Nizaemon menerjang ke arahnya dan mengakhiri hidupnya.     Makam Sanada Yukimura di Kuil Yasui, Osaka   Yukimura adalah seorang jago pedang, ahli strategi dan jendral berbakat yang disegani kawan maupun lawan. Tokugawa sendiri mengaguminya dan memendam rasa takut padanya hingga ajalnya. Kematiannya yang heroik membuatnya dianggap sebagai prajurit terhebat dan tokoh paling populer dalam periode Sengoku. Dia seringkali dijuluki pahlawan yang muncul setiap seratus tahun sekali. Legenda mengatakan dia juga anggota salah satu perkumpulan ninja dan mempunyai sepuluh bawahan yang dikenal sebagai Sepuluh Pendekar Sanada yang adalah kaum ninja, mereka adalah : Sarutobi Sasuke Kirigakure Saizo Miyoshi Sekai Miyoshi Isa Anayama Kosuke Unno Rokuro Kakei Juzo Nezu Jinpachi Mochizuki Rokuro Yuri Kamanosuke   Sanada Yukimura dalam budaya populer     Sanada Yukimura dalam game Samurai Warriors   Sanada Yukimura adalah karakter yang bisa dipakai dalam game Samurai Warriors 1 dan 2 produksi Koei, dalam game ini juga ada seorang karakter ninja wanita, Kunoichi yang bekerja padanya, tokoh ini diinspirasikan dari Sepuluh Pendekar SanadaDia juga adalah karakter dalam game Sengoku Basara (Devil King) produksi CapcomDalam film Azumi 2: Death of Love (2005) ,dia muncul sebentar di awal dan di akhir film.Sanada Yukimura juga muncul sebagai tokoh manga Samurai Deeper Kyo karya Akimine Kamijyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-6737620537801712085?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/6737620537801712085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/sanada-yukimura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6737620537801712085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6737620537801712085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/sanada-yukimura.html' title='Sanada Yukimura'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0aie1MTI/AAAAAAAAAC4/Lzdyk98rG8I/s72-c/yukimura2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-1238979331409783551</id><published>2009-07-19T06:10:00.006+07:00</published><updated>2009-10-26T04:57:33.180+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Tokugawa Ieyasu</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0wh-WMgI/AAAAAAAAADI/hfPKX2IRmmA/s320/ieyasu.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tokugawa Ieyasu (徳川 家康&lt;/span&gt;?&lt;span style="color: black;"&gt;, January 31, 1543 – June 1, &lt;/span&gt;1616&lt;span style="color: black;"&gt;) was the founder and first &lt;/span&gt;shogun&lt;span style="color: black;"&gt; of the &lt;/span&gt;Tokugawa shogunate&lt;span style="color: black;"&gt; of &lt;/span&gt;Japan&lt;span style="color: black;"&gt; which ruled from the &lt;/span&gt;Battle of Sekigahara&lt;span style="color: black;"&gt;  in 1600 until the &lt;/span&gt;Meiji Restoration&lt;span style="color: black;"&gt; in 1868. Ieyasu seized power in 1600, received appointment as shogun in 1603, abdicated from office in 1605, but remained in power until his death in 1616. His given name is sometimes spelled Iyeyasu, according to the historical pronunciation of &lt;/span&gt;we&lt;span style="color: black;"&gt;. Ieyasu was posthumously enshrined at &lt;/span&gt;Nikkō Tōshō-gū&lt;span style="color: black;"&gt; with the name Tōshō Daigongen (東照大権現&lt;/span&gt;?&lt;span style="color: black;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Biography &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Early life (1543–1556) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tokugawa Ieyasu was born in Okazaki Castle in &lt;/span&gt;Mikawa&lt;span style="color: black;"&gt; on the 26th day of the twelfth month of the eleventh year of &lt;/span&gt;Tenbun&lt;span style="color: black;"&gt;, according to the &lt;/span&gt;Japanese calendar&lt;span style="color: black;"&gt;. Originally named Matsudaira Takechiyo (松平竹千代), he was the son of &lt;/span&gt;Matsudaira Hirotada&lt;span style="color: black;"&gt; (松平広忠), the &lt;/span&gt;daimyo&lt;span style="color: black;"&gt; of Mikawa, and Odainokata (於大の方), the daughter of a neighboring samurai lord &lt;/span&gt;Mizuno Tadamasa&lt;span style="color: black;"&gt; (水野忠政). His mother and father were step-siblings. They were just 17 and 15 years old, respectively, when Ieyasu was born. Two years later, Odainokata was sent back to her family and the couple never lived together again. As both husband and wife remarried and both went on to have further children, Ieyasu in the end had 11 half-brothers and sisters. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The Matsudaira family was split in 1550: one side wanted to be vassals of the &lt;/span&gt;Imagawa&lt;span style="color: black;"&gt; clan, while the other side preferred the &lt;/span&gt;Oda&lt;span style="color: black;"&gt;. As a result, much of Ieyasu's early years were spent in danger as wars with the Oda and Imagawa clans were fought. This family feud was the reason behind the murder of Hirotada's father (Takechiyo's grandfather), &lt;/span&gt;Matsudaira Kiyoyasu&lt;span style="color: black;"&gt; (松平清康). Unlike his father and the majority of his branch of the family, Ieyasu's father, Hirotada, favored the Imagawa clan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1548, when the Oda clan invaded Mikawa, Hirotada turned to Imagawa Yoshimoto, the head of the Imagawa clan, for help to repel the invaders. Yoshimoto agreed to help under the condition that Hirotada send his son Ieyasu (Takechiyo) to &lt;/span&gt;Sumpu&lt;span style="color: black;"&gt; as a hostage. Hirotada agreed. &lt;/span&gt;Oda Nobuhide&lt;span style="color: black;"&gt;, the leader of the Oda clan, learned of this arrangement and had Ieyasu abducted from his entourage en route to Sumpu. Ieyasu was just six years old at the time. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Nobuhide threatened to execute Ieyasu unless his father severed all ties with the Imagawa clan. Hirotada replied that sacrificing his own son would show his seriousness in his pact with the Imagawa clan. Despite this refusal, Nobuhide chose not to kill Ieyasu but instead held him for the next three years at the Manshoji Temple in &lt;/span&gt;Nagoya&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1549, when Ieyasu was 6, his father Hirotada died of natural causes. At about the same time, Oda Nobuhide died during an epidemic. The deaths dealt a heavy blow to the Oda clan. An army under the command of Imagawa Sessai laid siege to the castle where Oda Nobuhiro, Nobuhide's eldest son and the new head of the Oda, was living. With the castle about to fall, Imagawa Sessai offered a deal to &lt;/span&gt;Oda Nobunaga&lt;span style="color: black;"&gt; (Oda Nobuhide's second son). Sessai offered to give up the siege if Ieyasu was handed over to the Imagawa clan. Nobunaga agreed and so Ieyasu (now nine) was taken as a hostage to Sumpu. Here he lived a fairly good life as hostage and potentially useful future ally of the Imagawa clan until he was 15. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Rise to power (1556–1584) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1556, Ieyasu came of age, and, following tradition, changed his name to Matsudaira Jirōsaburō Motonobu (松平次郎三郎元信). One year later, at the age of 16 (according to &lt;/span&gt;East Asian age reckoning&lt;span style="color: black;"&gt;), he married his first wife and changed his name again to Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu (松平 蔵人之介 佐元康). Allowed to return to his native Mikawa, the Imagawa ordered him to fight the Oda clan in a series of battles. Ieyasu won his first battle at the &lt;/span&gt;Siege of Terabe&lt;span style="color: black;"&gt; and later succeeded in delivering supplies to a border fort through a bold night attack. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1560 the leadership of the Oda clan had passed to the brilliant leader &lt;/span&gt;Oda Nobunaga&lt;span style="color: black;"&gt;. Yoshimoto, leading a large Imagawa army (perhaps 20,000 strong) then attacked the Oda clan territory. Ieyasu with his Mikawa troops captured a fort at the border and then stayed there to defend it. As a result, Ieyasu and his men were not present at the &lt;/span&gt;Battle of Okehazama&lt;span style="color: black;"&gt; where Yoshimoto was killed by Oda Nobunaga's surprise assault. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;With Yoshimoto dead, Ieyasu decided to ally with the Oda clan. A secret deal was needed because Ieyasu's wife and infant son, &lt;/span&gt;Nobuyasu&lt;span style="color: black;"&gt; were held hostage in Sumpu by the Imagawa clan. In 1561, Ieyasu openly broke with the Imagawa and captured the fortress of Kaminojo. Ieyasu was then able to exchange his wife and son for the wife and daughter of the ruler of Kaminojo castle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;For the next few years Ieyasu set about reforming the Matsudaira clan and pacifying Mikawa. He also strengthened his key vassals by awarding them land and castles in Mikawa. They were: &lt;/span&gt;Honda Tadakatsu&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Ishikawa Kazumasa&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Koriki Kiyonaga&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Hattori Hanzō&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Sakai Tadatsugu&lt;span style="color: black;"&gt;, and &lt;/span&gt;Sakakibara Yasumasa&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu defeated the military forces of the Mikawa Monto within Mikawa province. The Monto were a warlike group of monks that were ruling &lt;/span&gt;Kaga Province&lt;span style="color: black;"&gt; and had many temples elsewhere in Japan. They refused to obey Ieyasu's commands and so he went to war with them, defeating their troops and pulling down their temples. In one battle Ieyasu was nearly killed when he was struck by a bullet which did not penetrate his armor. Both Ieyasu's Mikawa troops and the Monto forces were using the new gunpowder weapons which the Portuguese had introduced to Japan just 20 years earlier. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1567, Ieyasu changed his name yet again, his new &lt;/span&gt;family name&lt;span style="color: black;"&gt; was Tokugawa and his &lt;/span&gt;given name&lt;span style="color: black;"&gt; was now Ieyasu. In so doing, he claimed descent from the &lt;/span&gt;Minamoto&lt;span style="color: black;"&gt; clan. No proof has actually been found for this claimed descent from &lt;/span&gt;Seiwa&lt;span style="color: black;"&gt; tennō, the 56th Emperor of Japan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu remained an ally of Oda Nobunaga and his Mikawa soldiers were part of Nobunaga's army which captured &lt;/span&gt;Kyoto&lt;span style="color: black;"&gt; in 1568. At the same time Ieyasu was expanding his own territory. He and &lt;/span&gt;Takeda Shingen&lt;span style="color: black;"&gt;, the head of the &lt;/span&gt;Takeda clan&lt;span style="color: black;"&gt; in &lt;/span&gt;Kai Province&lt;span style="color: black;"&gt; made an alliance for the purpose of conquering all the Imagawa territory. In 1570, Ieyasu's troops captured &lt;/span&gt;Tōtōmi Province&lt;span style="color: black;"&gt; while Shingen's troops captured &lt;/span&gt;Suruga province&lt;span style="color: black;"&gt; (including the Imagawa capital of Sumpu). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu ended his alliance with Takeda and sheltered their former enemy, &lt;/span&gt;Imagawa Ujizane&lt;span style="color: black;"&gt;; he also allied with &lt;/span&gt;Uesugi Kenshin&lt;span style="color: black;"&gt; of the Uesugi clan—an enemy of the Takeda clan. Later that year, Ieyasu led 5,000 of his own men supporting Nobunaga at the &lt;/span&gt;Battle of Anegawa&lt;span style="color: black;"&gt; against the &lt;/span&gt;Azai&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Asakura&lt;span style="color: black;"&gt; clans. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In October 1571, Takeda Shingen, now allied with the &lt;/span&gt;Hōjō clan&lt;span style="color: black;"&gt;, attacked the Tokugawa lands of Tōtōmi. Ieyasu asked for help from Nobunaga, who sent him some 3,000 troops. Early in 1573 the two armies met at the &lt;/span&gt;Battle of Mikatagahara&lt;span style="color: black;"&gt;. The Takeda army, under the expert direction of Shingen, hammered at Ieyasu's troops until they were broken. Ieyasu fled with just 5 men to a nearby castle. This was a major loss for Ieyasu, but Shingen was unable to exploit his victory because Ieyasu quickly gathered a new army and refused to fight Shingen again on the battlefield. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Fortune smiled on Ieyasu a year later when Takeda Shingen died at a siege early in 1573. Shingen was succeeded by his less capable son &lt;/span&gt;Takeda Katsuyori&lt;span style="color: black;"&gt;. In 1575, the Takeda army attacked Nagashino Castle in Mikawa province. Ieyasu appealed to Nobunaga for help and the result was that Nobunaga personally came at the head of his very large army (about 30,000 strong). The Oda-Tokugawa force of 38,000 won a great victory on &lt;/span&gt;June 28&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;1575&lt;span style="color: black;"&gt;, at the &lt;/span&gt;Battle of Nagashino&lt;span style="color: black;"&gt;, though Takeda Katsuyori survived the battle and retreated back to Kai province. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;For the next seven years, Ieyasu and Katsuyori fought a series of small battles. Ieyasu's troops managed to wrest control of Suruga province away from the Takeda clan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1579, Ieyasu's wife, and his eldest son, &lt;/span&gt;Matsudaira Nobuyasu&lt;span style="color: black;"&gt;, were accused of conspiring with Takeda Katsuyori to assassinate Nobunaga. Ieyasu's wife was executed and Nobuyasu was forced to commit &lt;/span&gt;seppuku&lt;span style="color: black;"&gt;. Ieyasu then named his third and favorite son, &lt;/span&gt;Tokugawa Hidetada&lt;span style="color: black;"&gt;, as heir, since his second son was adopted by another rising power: &lt;/span&gt;Toyotomi Hideyoshi&lt;span style="color: black;"&gt;, the future ruler of all Japan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The end of the war with Takeda came in 1582 when a combined Oda-Tokugawa force attacked and conquered Kai province. Takeda Katsuyori, as well as his eldest son Takeda Nobukatsu, were defeated at the &lt;/span&gt;Battle of Temmokuzan&lt;span style="color: black;"&gt; and then committed &lt;/span&gt;seppuku&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In late 1582, Ieyasu was near &lt;/span&gt;Osaka&lt;span style="color: black;"&gt; and far from his own territory when he learned that Nobunaga had been assassinated by &lt;/span&gt;Akechi Mitsuhide&lt;span style="color: black;"&gt;. Ieyasu managed the dangerous journey back to Mikawa, avoiding Mitsuhide's troops along the way, as they were trying to find and kill him. One week after he arrived in Mikawa, Ieyasu's army marched out to take revenge on Mitsuhide. But they were too late, Hideyoshi—on his own—defeated and killed Akechi Mitsuhide at the &lt;/span&gt;Battle of Yamazaki&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The death of Nobunaga meant that some provinces, ruled by Nobunaga's vassals, were ripe for conquest. The leader of Kai province made the mistake of killing one of Ieyasu's aides. Ieyasu promptly invaded Kai and took control. &lt;/span&gt;Hōjō Ujimasa&lt;span style="color: black;"&gt;, leader of the Hōjō clan responded by sending his much larger army into &lt;/span&gt;Shinano&lt;span style="color: black;"&gt; and then into Kai province. No battles were fought between Ieyasu's forces and the large Hōjō army and, after some negotiation, Ieyasu and the Hōjō agreed to a settlement which left Ieyasu in control of both Kai and Shinano provinces, while the Hōjō took control of Kazusa province (as well as bits of both Kai and Shinano province). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;At the same time (1583) a war for rule over Japan was fought between &lt;/span&gt;Toyotomi Hideyoshi&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Shibata Katsuie&lt;span style="color: black;"&gt;. Ieyasu did not take a side in this conflict, building on his reputation for both caution and wisdom. Hideyoshi defeated Katsuie at the &lt;/span&gt;Battle of Shizugatake&lt;span style="color: black;"&gt;—with this victory, Hideyoshi became the single most powerful &lt;/span&gt;daimyo&lt;span style="color: black;"&gt; in Japan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu and Hideyoshi (1584–1598) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1584, Ieyasu decided to support &lt;/span&gt;Oda Nobukatsu&lt;span style="color: black;"&gt;, the eldest son and heir of &lt;/span&gt;Oda Nobunaga&lt;span style="color: black;"&gt;, against Hideyoshi. This was a dangerous act and could have resulted in the annihilation of the Tokugawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Main article: &lt;/span&gt;Battle of Komaki and Nagakute &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tokugawa troops took the traditional Oda stronghold of Owari, Hideyoshi responded by sending an army into Owari. The Komaki Campaign was the only time any of the great unifiers of Japan fought each other: Hideyoshi vs. Ieyasu. In the event, Ieyasu won the only notable battle of the campaign at Nagakute. After months of fruitless marches and feints, Hideyoshi settled the war through negotiation. First he made peace with Oda Nobuo, and then he offered a truce to Ieyasu. The deal was made at the end of the year; as part of the terms Ieyasu's second son, O Gi Maru, became an adopted son of Hideyoshi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu's aide, &lt;/span&gt;Ishikawa Kazumasa&lt;span style="color: black;"&gt;, chose to join the pre-eminent daimyo and so he moved to Osaka to be with Hideyoshi. However, only a few other Tokugawa retainers followed this example. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hideyoshi was understandably distrustful of Ieyasu, and five years passed before they fought as allies. The Tokugawa did not participate in Hideyoshi's successful invasions of &lt;/span&gt;Shikoku&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Kyūshū&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1590 Hideyoshi attacked the last independent daimyo in Japan, &lt;/span&gt;Hōjō Ujimasa&lt;span style="color: black;"&gt;. The Hōjō clan ruled the eight provinces of the Kantō region in eastern Japan. Hideyoshi ordered them to submit to his authority and they refused. Ieyasu, though a friend and occasional ally of Ujimasa, joined his large force of 30,000 samurai with Hideyoshi's enormous army of some 160,000. Hideyoshi attacked several castles on the borders of the Hōjō clan with most of his army laying siege to the castle at &lt;/span&gt;Odawara&lt;span style="color: black;"&gt;. Hideyoshi's army captured Odawara after six months (oddly for the time period, deaths on both sides were few). During this siege, Hideyoshi offered Ieyasu a radical deal. He offered Ieyasu the eight &lt;/span&gt;Kantō&lt;span style="color: black;"&gt; provinces which they were about to take from the Hōjō in return for the five provinces that Ieyasu currently controlled (including Ieyasu's home province of Mikawa). Ieyasu accepted this proposal. Bowing to the overwhelming power of the Toyotomi army, the Hōjō accepted defeat, the top Hōjō leaders killed themselves and Ieyasu marched in and took control of their provinces, so ending the clan's reign of over 100 years. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu now gave up control of his five provinces (Mikawa, Tōtōmi, Suruga, Shinano, and Kai) and moved all his soldiers and vassals to the Kantō region. He himself occupied the castle town of &lt;/span&gt;Edo&lt;span style="color: black;"&gt; in Kantō. This was possibly the riskiest move Ieyasu ever made — to leave his home province and rely on the uncertain loyalty of the formerly Hōjō samurai in Kantō. In the event, it worked out brilliantly for Ieyasu. He reformed the Kantō provinces, controlled and pacified the Hōjō samurai and improved the underlying economic infrastructure of the lands. Also, because Kantō was somewhat isolated from the rest of Japan, Ieyasu was able to maintain a unique level of autonomy from Hideyoshi's rule. Within a few years, Ieyasu had become the second most powerful daimyo in Japan. There is a Japanese proverb which likely refers to this event "Ieyasu won the Empire by retreating." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1592, Hideyoshi invaded &lt;/span&gt;Korea&lt;span style="color: black;"&gt; as a prelude to his plan to attack &lt;/span&gt;China&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;. The Tokugawa samurai never took part in this campaign. Early in 1593, Ieyasu was summoned to Hideyoshi's court in Nagoya (in &lt;/span&gt;Kyūshū&lt;span style="color: black;"&gt;, different from similarly spelled city in Owari Province), as a military advisor. He stayed there, off and on for the next five years. Despite his frequent absences, Ieyasu's sons, loyal retainers and vassals were able to control and improve Edo and the other new Tokugawa lands. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1593, Hideyoshi fathered a son and &lt;/span&gt;heir&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Toyotomi Hideyori&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1598, with his health clearly failing, Hideyoshi called a meeting that would determine the &lt;/span&gt;Council of Five Elders&lt;span style="color: black;"&gt; who would be responsible for ruling on behalf of his son after his death. The five that were chosen as regents (&lt;/span&gt;tairō&lt;span style="color: black;"&gt;) for Hideyori were &lt;/span&gt;Maeda Toshiie&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Mōri Terumoto&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Ukita Hideie&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Uesugi Kagekatsu&lt;span style="color: black;"&gt;, and Ieyasu himself, who was the most powerful of the five. This change in the pre-Sekigahara power structure became pivotal as Ieyasu turned his attention towards Kansai; and at the same time, other ambitious (albeit ultimately unrealized) plans, such as the Tokugawa initiative establishing official relations with Mexico and New Spain, continued to unfold and advance.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The Sekigahara Campaign (1598–1603) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hideyoshi, after three more months of increasing sickness, died on &lt;/span&gt;September 18&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;1598&lt;span style="color: black;"&gt;. He was nominally succeeded by his young son &lt;/span&gt;Hideyori&lt;span style="color: black;"&gt; but as he was just five years old, real power was in the hands of the regents. Over the next two years Ieyasu made alliances with various daimyo, especially those who had no love for Hideyoshi. Happily for Ieyasu, the oldest and most respected of the regents died after just one year. With the death of Regent Maeda Toshiie in 1599, Ieyasu led an army to &lt;/span&gt;Fushimi&lt;span style="color: black;"&gt; and took over &lt;/span&gt;Osaka Castle&lt;span style="color: black;"&gt;, the residence of Hideyori. This angered the three remaining regents and plans were made on all sides for war. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Opposition to Ieyasu centered around &lt;/span&gt;Ishida Mitsunari&lt;span style="color: black;"&gt;, a powerful daimyo but not one of the regents. Mitsunari plotted Ieyasu's death and news of this plot reached some of Ieyasu's generals. They attempted to kill Mitsunari but he fled and gained protection from none other than Ieyasu himself. It is not clear why Ieyasu protected a powerful enemy from his own men but Ieyasu was a master strategist and he may have concluded that he would be better off with Mitsunari leading the enemy army rather than one of the regents, who would have more legitimacy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Nearly all of Japan's daimyo and samurai now split into two factions—Mitsunari's group and anti-Mitsunari Group. Ieyasu supported anti-Mitsunari Group, and formed them as his potential allies. Ieyasu's allies were the &lt;/span&gt;Date clan&lt;span style="color: black;"&gt;, the &lt;/span&gt;Mogami clan&lt;span style="color: black;"&gt;, the &lt;/span&gt;Satake clan&lt;span style="color: black;"&gt; and the &lt;/span&gt;Maeda clan&lt;span style="color: black;"&gt;. Mitsunari allied himself with the three other regents: &lt;/span&gt;Ukita Hideie&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;Mori Terumoto&lt;span style="color: black;"&gt;, and &lt;/span&gt;Uesugi Kagekatsu&lt;span style="color: black;"&gt; as well as many daimyo from the eastern end of Honshū. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In June 1600, Ieyasu and his allies moved their armies to defeat the Uesugi clan who was accused of planning to revolt against Toyotomi administration (Led by Ieyasu, top of Council of Five Elders). Before arriving to Uesugi's territory, Ieyasu had got information that Mitsunari and his allies moved their army against Ieyasu. Ieyasu held a meeting with daimyo, and they agreed to ally Ieyasu. He then led the majority of his army west towards Kyoto. In late summer, Ishida's forces captured Fushimi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu and his allies marched along the &lt;/span&gt;Tōkaidō&lt;span style="color: black;"&gt;, while his son Hidetada went along the &lt;/span&gt;Nakasendō&lt;span style="color: black;"&gt; with 38,000 soldiers. A battle against Sanada Masayuki in &lt;/span&gt;Shinano Province&lt;span style="color: black;"&gt; delayed Hidetada's forces, and they did not arrive in time for the main battle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Main article: &lt;/span&gt;Battle of Sekigahara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;This battle was the biggest and likely the most important &lt;/span&gt;battle in Japanese history&lt;span style="color: black;"&gt;. It began on &lt;/span&gt;October 21&lt;span style="color: black;"&gt;, &lt;/span&gt;1600&lt;span style="color: black;"&gt; with a total of 160,000 men facing each other. The Battle of Sekigahara ended with a complete Tokugawa victory.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;The Western bloc was crushed and over the next few days Ishida Mitsunari and many other western nobles were captured and killed. Tokugawa Ieyasu was now the &lt;/span&gt;de facto&lt;span style="color: black;"&gt; ruler of Japan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Immediately after the victory at Sekigahara, Ieyasu redistributed land to the vassals who had served him. Ieyasu left some western daimyo un-harmed, such as the &lt;/span&gt;Shimazu clan&lt;span style="color: black;"&gt;, but others were completely destroyed. Toyotomi Hideyori (the son of Hideyoshi) lost most of his territory which were under management of western daimyo, and he was degraded to an ordinary daimyo, not a ruler of Japan. In later years the vassals who had pledged allegiance to Ieyasu before Sekigahara became known as the &lt;/span&gt;fudai&lt;span style="color: black;"&gt; daimyo, while those who pledged allegiance to him after the battle (in other words, after his power was unquestioned) were known as &lt;/span&gt;tozama&lt;span style="color: black;"&gt; daimyo. Tozama daimyo were considered inferior to fudai daimyo. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Shogun Ieyasu (1603–1605) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1603, Tokugawa Ieyasu received the title of &lt;/span&gt;shogun&lt;span style="color: black;"&gt; from Emperor &lt;/span&gt;Go-Yozei&lt;span style="color: black;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Ieyasu was 60 years old. He had outlasted all the other great men of his times: Nobunaga, Hideyoshi, Shingen, Kenshin. He was the shogun and he used his remaining years to create and solidify the &lt;/span&gt;Tokugawa shogunate&lt;span style="color: black;"&gt; (That was eventually to become the &lt;/span&gt;Edo period&lt;span style="color: black;"&gt;, about two hundred years under Ieyasu's Shogunate) , the third shogunal government (after the &lt;/span&gt;Minamoto&lt;span style="color: black;"&gt; and the &lt;/span&gt;Ashikaga&lt;span style="color: black;"&gt;). He claimed descent from the &lt;/span&gt;Minamoto clan&lt;span style="color: black;"&gt; by way of the &lt;/span&gt;Nitta family&lt;span style="color: black;"&gt;. Ironically Ieyasu descendants would marry into the &lt;/span&gt;Taira clan&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Fujiwara&lt;span style="color: black;"&gt; Clans. The Tokugawa Shogunate would rule Japan for the next 250 years. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Main article: &lt;/span&gt;Tokugawa Shogun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Following a well established Japanese pattern, Ieyasu abdicated his official position as shogun in 1605. His successor was his son and heir, &lt;/span&gt;Tokugawa Hidetada&lt;span style="color: black;"&gt;. This may have been done, in part to avoid being tied up in ceremonial duties, and in part to make it harder for his enemies to attack the real power center, and in part to secure a smoother succession of his son.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; The abdication of Ieyasu had no effect on the practical extent of his powers or his rule; but Hidetada nevertheless assumed a role as formal head of the &lt;/span&gt;bakufu&lt;span style="color: black;"&gt; bureaucracy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SuN4pEDydLI/AAAAAAAAAEQ/iI5giLGR_P0/s1600-h/180px-Tokugawa_family_crest.svg.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SuN4pEDydLI/AAAAAAAAAEQ/iI5giLGR_P0/s320/180px-Tokugawa_family_crest.svg.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The &lt;/span&gt;Tokugawa clan&lt;span style="color: black;"&gt; crest &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Retired shogun (1605–1616) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu, acting as the retired shogun (大御所, ōgosho&lt;/span&gt;?&lt;span style="color: black;"&gt;), remained the effective ruler of Japan until his death. Ieyasu retired to &lt;/span&gt;Sunpu Castle&lt;span style="color: black;"&gt; in &lt;/span&gt;Sunpu&lt;span style="color: black;"&gt;, but he also supervised the building of &lt;/span&gt;Edo Castle&lt;span style="color: black;"&gt;, a massive construction project which lasted for the rest of Ieyasu's life. The end result was the largest castle in all of Japan, the costs for building the castle being borne by all the other daimyo, while Ieyasu reaped all the benefits. The central &lt;/span&gt;donjon&lt;span style="color: black;"&gt;, or tenshu, burned in the 1657 &lt;/span&gt;Meireki&lt;span style="color: black;"&gt; fire. Today, the Imperial Palace stands on the site of the castle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ogosho Ieyasu also supervised diplomatic affairs with the &lt;/span&gt;Netherlands&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Spain&lt;span style="color: black;"&gt;. He chose to distance Japan from the Europeans starting in 1609, although the bakufu did give the Dutch exclusive trading rights and permitted them to maintain a "factory" for trading purposes. From 1605 until his death, Ieyasu consulted with an English Protestant pilot in Dutch employ, &lt;/span&gt;William Adams&lt;span style="color: black;"&gt;, who played a noteworthy role in forming and furthering the Shogunate's evolving relations with Spain and the &lt;/span&gt;Roman Catholic Church&lt;span style="color: black;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tokugawa_Ieyasu#cite_note-9" style="color: black;"&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1611, Ieyasu, at the head of 50,000 men, visited Kyoto to witness the coronation of &lt;/span&gt;Emperor Go-Mizunoo&lt;span style="color: black;"&gt;. In Kyoto, Ieyasu ordered the remodeling of the imperial court and buildings, and forced the remaining western daimyo to sign an oath of fealty to him. In 1613, he composed the Kuge Shohatto' a document which put the court daimyo under strict supervision, leaving them as mere ceremonial figureheads. The influences of Christianity, which was beset by quarreling over the &lt;/span&gt;Protestant Reformation&lt;span style="color: black;"&gt; and its aftermath, on Japan were proving problematic for Ieyasu. In 1614, he signed the Christian Expulsion Edict which banned Christianity, expelled all Christians and foreigners, and banned Christians from practicing their religion. As a result, many &lt;/span&gt;Kirishitans&lt;span style="color: black;"&gt; (early Japanese Christians) fled to either Portuguese &lt;/span&gt;Macau&lt;span style="color: black;"&gt; or the Spanish &lt;/span&gt;Philippines&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1615, he prepared the Buke Shohatto, a document setting out the future of the Tokugawa regime. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Siege of Osaka &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Main article: &lt;/span&gt;Siege of Osaka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SuN4VAPDcII/AAAAAAAAAEI/H1Ev0VWGy9U/s1600-h/180px-NikkoCastGate.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/SuN4VAPDcII/AAAAAAAAAEI/H1Ev0VWGy9U/s320/180px-NikkoCastGate.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Grave of Ieyasu in &lt;/span&gt;Tōshō-gū &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The climax of Ieyasu's life was the siege of Osaka Castle (1614–1615). The last remaining threat to Ieyasu's rule was Hideyori, the son and rightful heir to Hideyoshi. He was now a young daimyo living in Osaka Castle. Many samurai who opposed Ieyasu rallied around Hideyori, claiming he was the rightful ruler of Japan. Ieyasu found fault with the opening ceremony of a temple built by Hideyori—it was as if Hideyori prayed for Ieyasu's death and the ruin of Tokugawa clan. Ieyasu ordered Toyotomi to leave Osaka Castle, but those in the castle refused and started to gather samurai into the castle. Then the Tokugawa, with a huge army led by Ogosho Ieyasu and Shogun Hidetada, laid siege to Osaka castle in what is now known as "the Winter Siege of Osaka." Eventually, Tokugawa made a deal threatening Hideyori's mother, Yodogimi, firing cannons towards the castle to stop the fighting. However, as soon as the treaty was agreed upon, Tokugawa filled Osaka Castle's moats with sand so his troops could go across them. Ieyasu returned to Sumpu once, but after Toyotomi refused another order to leave Osaka, he and his allied army of 155,000 soldiers attacked Osaka Castle again in "the Summer Siege of Osaka." Finally in late 1615, Osaka Castle fell and nearly all the defenders were killed including Hideyori, his mother (Hideyoshi's widow, Yodogimi), and his infant son. His wife, &lt;/span&gt;Senhime&lt;span style="color: black;"&gt; (a granddaughter of Ieyasu), was sent back to Tokugawa alive. With the Toyotomi finally extinguished, no threats remained to Tokugawa's domination of Japan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The end of his life &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In 1616, Ieyasu died at age 73&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;. The cause of death is thought to have been cancer or &lt;/span&gt;syphilis&lt;span style="color: black;"&gt;. The first Tokugawa shogun was posthumously deified with the name Tōshō Daigongen (東照大権現), the "Great Gongen, Light of the East". (A Gongen (the prefix Dai- meaning great) is believed to be a &lt;/span&gt;buddha&lt;span style="color: black;"&gt; who has appeared on Earth in the shape of a &lt;/span&gt;kami&lt;span style="color: black;"&gt; to save sentient beings). In life, Ieyasu had expressed the wish to be deified after his death in order to protect his descendants from evil. His remains were buried at the Gongen's mausoleum at Kunōzan, &lt;/span&gt;Kunōzan Tōshō-gū&lt;span style="color: black;"&gt; (久能山東照宮). After the first anniversary of his death, his remains were reburied at Nikkō Shrine, &lt;/span&gt;Nikkō Tōshō-gū&lt;span style="color: black;"&gt; (日光東照宮). His remains are still there. The mausoleum's architectural style became known as &lt;/span&gt;gongen-zukuri&lt;span style="color: black;"&gt;, that is gongen-style. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu as a person &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu had a number of qualities that enabled him to rise to power. He was both careful and bold—at the right times, and at the right places. Calculating and subtle, Ieyasu switched alliances when he thought he would benefit from the change. He allied with the Hōjō clan; then he joined Hideyoshi's army of conquest, which destroyed the Hōjō clan; and he himself took over their lands. In this he was like other daimyo of his time. This was an era of violence, sudden death, and betrayal. He was not very well liked, and he was not personally popular. But he was feared and he was respected for his leadership and his cunning. For example, he wisely kept his soldiers out of &lt;/span&gt;Hideyoshi's campaign in Korea&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;He was capable of great loyalty: once he allied with Oda Nobunaga, he never went against Nobunaga; and both leaders profited from their long alliance. He was known for being loyal towards his personal friends and vassals, whom he rewarded. However, he also remembered those who had wronged him in the past. It is said that Ieyasu executed a man who came into his power because he had insulted him when Ieyasu was young. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu protected many former Takeda retainers from the wrath of Oda Nobunaga, who was known to harbor a bitter grudge towards the Takeda. He managed to successfully transform many of the retainers of the Takeda, Hōjō, and Imagawa clans—all whom he had defeated himself or helped to defeat—into loyal followers. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;He had nineteen wives and concubines, by whom he had eleven sons and five daughters. The eleven sons of Ieyasu were &lt;/span&gt;Matsudaira Nobuyasu&lt;span style="color: black;"&gt; (松平信康), &lt;/span&gt;Yūki Hideyasu&lt;span style="color: black;"&gt; (結城秀康), &lt;/span&gt;Tokugawa Hidetada&lt;span style="color: black;"&gt; (徳川秀忠), Matsudaira Tadayoshi (松平忠吉), &lt;/span&gt;Takeda Nobuyoshi&lt;span style="color: black;"&gt; (武田信吉), &lt;/span&gt;Matsudaira Tadateru&lt;span style="color: black;"&gt; (松平忠輝), Matsuchiyo (松千代), Senchiyo (仙千代), &lt;/span&gt;Tokugawa Yoshinao&lt;span style="color: black;"&gt; (徳川義直), &lt;/span&gt;Tokugawa Yorinobu&lt;span style="color: black;"&gt; (徳川頼宣), and &lt;/span&gt;Tokugawa Yorifusa&lt;span style="color: black;"&gt; (徳川頼房). (In this listing, the two sons without surnames died before adulthood.) His daughters were Kame &lt;/span&gt;hime&lt;span style="color: black;"&gt; (亀姫), &lt;/span&gt;Toku&lt;span style="color: black;"&gt; hime (徳姫), Furi hime (振姫), Matsu hime (松姫) , Eishōin hime (_姫), and Ichi hime (市姫). He is said to have cared for his children and grandchildren, establishing three of them, Yorinobu, Yoshinao, and Yorifusa as the daimyo of Kii, Owari, and Mito provinces, respectively. At the same time, he could be ruthless when crossed. For example, he ordered the executions of his first wife and his eldest son—a son-in-law of &lt;/span&gt;Oda Nobunaga&lt;span style="color: black;"&gt;; Oda was also an uncle of Hidetada's wife Oeyo. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLucz%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLucz%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:SimSun;	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1;	mso-font-alt:宋体;	mso-font-charset:134;	mso-generic-font-family:auto;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;}@font-face	{font-family:"\@SimSun";	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1;	mso-font-charset:134;	mso-generic-font-family:auto;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:SimSun;}a:link, span.MsoHyperlink	{color:blue;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed	{color:purple;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Ageha-cho.svg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;The butterfly &lt;/span&gt;mon&lt;span style="color: black;"&gt; of the Taira is called Ageha-cho (揚羽蝶) in Japanese. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;After Hidetada became shogun, he married &lt;/span&gt;Oeyo&lt;span style="color: black;"&gt; of the &lt;/span&gt;Oda family&lt;span style="color: black;"&gt; of the &lt;/span&gt;Taira clan&lt;span style="color: black;"&gt; and they had two sons, &lt;/span&gt;Tokugawa Iemitsu&lt;span style="color: black;"&gt; and &lt;/span&gt;Tokugawa Tadanaga&lt;span style="color: black;"&gt;. They also had two daughters, one of whom, &lt;/span&gt;Sen&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;hime&lt;span style="color: black;"&gt;, married twice. The other daughter, &lt;/span&gt;Kazuko&lt;span style="color: black;"&gt; hime, married Emperor &lt;/span&gt;Go-Mizunoo&lt;span style="color: black;"&gt; of descent from the &lt;/span&gt;Fujiwara clan&lt;span style="color: black;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ieyasu's favorite pastime was &lt;/span&gt;falconry&lt;span style="color: black;"&gt;. He regarded it as excellent training for a warrior. "When you go into the country hawking, you learn to understand the military spirit and also the hard life of the lower classes. You exercise your muscles and train your limbs. You have any amount of walking and running and become quite indifferent to heat and cold, and so you are little likely to suffer from any illness."&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; Ieyasu swam often; even late in his life he is reported to have swum in the moat of Edo Castle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Later in life he took to scholarship and religion, patronizing scholars like &lt;/span&gt;Hayashi Razan&lt;span style="color: black;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Two of his famous quotes: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;"Life is like unto a long journey with a heavy burden. Let thy step be slow and steady, that thou stumble not. Persuade thyself that imperfection and inconvenience are the natural lot of mortals, and there will be no room for discontent, neither for despair. When ambitious desires arise in thy heart, recall the days of extremity thou has past through. Forbearance is the root of quietness and assurance forever. Look upon the wrath of the enemy. If thou knowest only what it is to conquer, and knowest not what it is like to be defeated, woe unto thee; it will fare ill with thee. Find fault with thyself rather than with others." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;"The strong manly ones in life are those who understand the meaning of the word patience. Patience means restraining one's inclinations. There are seven emotions: joy, anger, anxiety, adoration, grief, fear, and hate, and if a man does not give way to these he can be called patient. I am not as strong as I might be, but I have long known and practiced patience. And if my descendants wish to be as I am, they must study patience." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;He claimed that he fought, as a warrior or a general, in 90 battles. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;In some sources Ieyasu is known to have the bad habit of biting his nails when nervous, especially before and during battle. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;He was interested in various &lt;/span&gt;kenjutsu&lt;span style="color: black;"&gt; skills, was a patron of the &lt;/span&gt;Yagyū Shinkage-ryū&lt;span style="color: black;"&gt; school, and also had them as his personal sword instructors. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-1238979331409783551?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/1238979331409783551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/tokugawa-ieyasu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/1238979331409783551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/1238979331409783551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/tokugawa-ieyasu.html' title='Tokugawa Ieyasu'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo0wh-WMgI/AAAAAAAAADI/hfPKX2IRmmA/s72-c/ieyasu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-7386526128819879294</id><published>2009-07-19T04:56:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T05:13:30.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Hideyoshi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo05ohjugI/AAAAAAAAADQ/kpoFL7gLhCc/s1600-h/hideyoshi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156471073356290" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo05ohjugI/AAAAAAAAADQ/kpoFL7gLhCc/s320/hideyoshi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 125px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 110px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Toyotomi Hideyoshi (豊臣 秀吉 ?) (2 Februari 1536 - 18 September 1598) adalah pemimpin Jepang mulai dari zaman Sengoku sampai zaman Azuchi Momoyama.       //    Biografi singkat Lahir sebagai anak petani di desa Nakamura, provinsi Owari (sebelah barat Prefektur Aichi), sewaktu menjadi tangan kanan daimyō Oda Nobunaga yang paling diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Setelah berhasil berdamai dengan klan Mōri di daerah Chūgoku, Hideyoshi menarik kembali pasukannya (peristiwa Penarikan Pasukan dari Chūgoku) ke Kyoto menemukan Oda Nobunaga sang majikan dibunuh oleh bawahannya Akechi Mitsuhide dalam Insiden Honnōji (本能寺の変 ,honnōji no hen?). Hideyoshi mewariskan kekuasaan Oda Nobunaga setelah berhasil menghabisi Akechi Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki. Hideyoshi membangun Istana Osaka, tapi mengingat latar belakangnya sebagai orang biasa, Kaisar belum bisa memberikan gelar shogun, sehingga untuk sementara Hideyoshi diberi gelar Kampaku. Pada waktu menerima jabatan Dajō daijin ( 1586), kaisar menghadiahkan nama keluarga Toyotomi. Setelah berhasil menjadi pemimpin yang mempersatukan seluruh wilayah Jepang, Toyotomi Hideyoshi mengadakan survei wilayah yang disebut Taikōkenchi (太閤検地 ?) dan melarang orang di luar kalangan bushi untuk memiliki senjata katana. Di tengah invasi ke Korea yang disebut Perang Tujuh Tahun (文禄・慶長の役 ,Bunroku-keichō no eki?), Toyotomi Hideyoshi tutup usia setelah mewariskan kekuasaan kepada putranya Toyotomi Hideyori yang dititipkannya kepada Tokugawa Ieyasu. Perjalanan hidup Toyotomi Hideyoshi yang luar biasa dari anak petani sampai menjadi orang nomor satu di zaman Sengoku sering dijadikan bahan cerita yang dikisahkan secara turun temurun dan sering dilebih-lebihkan. Toyotomi Hideyoshi konon pernah membangun Istana Sunomata dalam waktu semalam, mempertaruhkan nyawa dalam Pertempuran Kanegasaki agar posisi Oda Nobunaga yang sedang terjepit maut bisa lolos melarikan diri, dan pernah menyerang Istana Takamatsu dengan banjiran air.  [sunting] Perjalanan hidup   Masa kecil Lahir di desa Nakamura sebagai anak tengah keluarga petani bernama Yaemon di provinsi Owari, Aichi-gun yang merupakan wilayah Nobunaga. Ada perbedaan pendapat soal tahun kelahiran Hideyoshi. Ada pendapat yang mengatakan Hideyoshi lahir tahun 1536, tapi hasil penelitian yang bisa dipercaya mengatakan Hideyoshi lahir tahun 1537.   Pesuruh klan Imagawa Pada waktu muda, Hideyoshi yang masih bernama Kinoshita Tōkichirō bekerja sebagai pesuruh yang bekerja untuk pemilik Istana Zudaji yang bernama Matsushita Naganori (alias Matsushita Takahei) dan putranya Matsushita Yukitsuna yang juga menggunakan nama alias yang sama seperti ayahnya (Matsushita Kahei). Istana Zudaji merupakan cabang Istana Hikuma yang menurut nama tempat zaman dulu ada di kota Zudaji (sekarang menjadi kota Hamamatsu), Nagakami no goori, di provinsi Tootōmi yang merupakan wilayah kekuasaan klan Īo yang merupakan bawahan dari klan Imagawa. Setelah bekerja untuk Matsushita Yukitsuna, Hideyoshi bekerja sebagai bawahan Tokugawa Ieyasu. Pada tahun 1584, Hideyoshi menerima 1.600 koku untuk mengawasi provinsi Tamba dan provinsi Kawachi, Selanjutnya pada tahun 1584, Hideyoshi menerima 16.000 koku berikut Istana Tootōmikuno yang berdekatan dengan Istana Zudaiji.  Bawahan Nobunaga Pada tahun 1554 Hideyoshi mulai bekerja sebagai bawahan kelas rendah untuk Oda Nobunaga. Hideyoshi bekerja antara lain sebagai kepala tukang kayu dan kepala bagian dapur di Istana Kiyosu. Hideyoshi bekerja dengan rajin dan berhasil menarik perhatian Oda Nobunaga yang terkesan dengan hasil pekerjaan Hideyoshi. Berkat prestasinya yang luar biasa, Hideyoshi menjadi sangat terkenal di kalangan pengikut Nobunaga. Nobunaga kabarnya suka menyebutnya dengan panggilan kesayangan si "monyet" atau "tikus botak," karena penampilan Hideyoshi yang kurang tampan. Pada tahun 1564, Hideyoshi menikah dengan seorang wanita bernama Nene (dikenal sebagai Kōdaiin atau O-ne). Kisah Hideyoshi membangun Istana Sunomata dalam semalam sewaktu bertempur melawan Saitō Tatsuoki asal Mino tidak dapat dibuktikan kebenarannya karena berasal dari buku sejarah Bukōyawa (武功夜話 ?) yang merupakan cerita karangan orang pada awal zaman Edo. Pada saat itu, Hideyoshi memimpin kelompok yang antara lain terdiri dari Takenaka Shigeharu, Hachisuka Koroku dan Maeno Nagayasu. Pada tahun 1568, sewaktu Oda Nobunaga pergi ke ibu kota (Kyoto), Hideyoshi bekerja bersama-sama dengan Akechi Mitsuhide di Kyoto. Dalam catatan yang ditulis pada waktu itu, sudah disebut-sebut nama Hideyoshi. Pada tahun 1570 Hideyoshi memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan Asakura Yoshikage di Echizen. Pada mulanya, pasukan dapat bergerak maju tanpa ada hambatan dari musuh. Pasukan Oda Nobunaga yang sedang berbaris dalam perjalanan di sekitar Kanegasaki diserang dari belakang secara tiba-tiba oleh sekutu Nobunaga asal Ōmi utara yang bernama Azai Nagamasa. Konon pasukan Azai dan pasukan Asakura menjepit pasukan Nobunaga dari kedua sisi sehingga pastinya nyawa Oda Nobunaga berada dalam bahaya. Hideyoshi memohon kepada Nobunaga agar diberi kesempatan untuk bertempur di posisi paling belakang (shingari), maksudnya untuk memberi perlindungan kepada pasukan Nobunaga yang sedang mundur agar bisa lolos. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Jalan Lolos Kanegasaki (金ヶ崎の退き口 ,kanegasaki nukiguchi?). Atas jasa menyelamatkan nyawanya, Nobunaga memberi hadiah 30 keping emas kepada Hideyoshi yang juga berhasil selamat dalam pertempuran. Dalam sekejap Hideyoshi tampil sebagai ksatria gagah berani. Azai Nagamasa berhasil dihabisi Hideyoshi dalam pertempuran di benteng Odani   Penguasa Istana Nagahama Azai Nagamasa tewas di tahun 1573 dan klannya musnah, Hideyoshi ditunjuk untuk memerintah provinsi Ōmi yang menjadi teritori klan Azai. Hideyoshi menganggap perlu mengganti nama Imahama menjadi Nagahama. Hideyoshi lalu menjadi penguasa Istana Nagahama. Dari daerah Ōmi, Hideyoshi merekrut sisa-sisa pasukan Azai berikut sejumlah ksatria muda seperti Ishida Mitsunari, Katō Kiyomasa, dan Fukushima Masanori. Pada masa itu, Hideyoshi mengganti namanya menjadi Hashiba Hideyoshi. Nama keluarga Hashiba terdiri dari dua aksara kanji yang masing-masing diambil dari nama keluarga dua asisten pribadi Nobunaga, yakni Niwa Nagahide (丹羽長秀 ?) untuk aksara ha (羽 ?) dan Shibata Katsuie (柴田勝家 ?) untuk aksara shiba (柴 ?). Pada tahun 1576, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk membantu kepala pasukan dari daerah Hokuriku bernama Shibata Katsuie yang sedang berusaha membasmi pasukan Uesugi Kenshin dari Echigō. Hideyoshi berselisih paham soal strategi pertempuran dengan Katsuie sehingga Hideyoshi memutuskan untuk menarik pasukan dan pulang begitu saja tanpa izin Nobunaga. Pasukan Katsuie akhirnya berhasil ditaklukkan Uesugi Kenshin dalam peristiwa yang disebut Pertempuran Sungai Tetori. Nobunaga sangat marah kepada Hideyoshi tapi akhirnya Nobunaga mau mengampuni Hideyoshi.  Penaklukan daerah Chūgoku Setelah itu, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menaklukkan daerah Chūgoku. Pasukan maju sampai provinsi Harima, dibantu pasukan Akamatsu Norifusa, Bessho Nagaharu dan Kodera Masamoto. Pengikut Kodera Masamoto yang bernama Kodera Yoshitaka (dikenal juga sebagai Kuroda Yoshitaka) meminjamkan Istana Himeji kepada Hideyoshi sebagai markas invasi ke daerah Chūgoku. Pada tahun 1579 Hideyoshi berhasil menaklukkan daimyo Ukita Naoie penguasa provinsi Bizen dan provinsi Mimasaka. Hideyoshi selanjutnya melakukan invasi ke provinsi Inaba untuk menyerang Istana Tottori yang dikuasai Yamana Toyokuni. Pada tahun 1580, Bessho Nagaharu penguasa Istana Miki dari provinsi Harima menyerah akibat kehabisan perbekalan setelah mengadakan pemberontakan selama 2 tahun melawan klan Oda. Yamana Akihiro penguasa provinsi Tamba yang terkepung di dalam Istana Izushi akhirnya juga menyerah. Pada tahun 1581, kelompok pengikut Yamana Toyokuni dari provinsi Inaba yang sedang diasingkan bergabung dengan pihak klan Mōri yang dipimpin Yoshinaga Tsuneie mengadakan pemberontakan dari Istana Tottori. Hideyoshi membeli semua bahan makanan dari daerah Tottori dan sekitarnya, serta memutuskan jalur perbekalan makanan ke dalam istana, sehingga Istana Tottori yang sedang terkepung kehabisan perbekalan dan jatuh tidak lama kemudian. Hideyoshi kemudian bertempur melawan Mōri Terumoto yang menguasai wilayah Chūgoku bagian barat. Hideyoshi mendapat julukan "Hideyoshi si ahli menjatuhkan istana" (城攻めの名手秀吉 ,shirozeme no meishū hideyoshi?) berkat strateginya menyulitkan perbekalan musuh sewaktu menaklukkan Istana Tottori dan Istana Miki, serta menyerang Istana Takamatsu dengan banjiran air sewaktu menginvasi wilayah Chūgoku.   Kematian Nobunaga dan Pertemuan Kiyosu Hideyoshi sedang menyerang Istana Takamatsu dengan banjiran air pada waktu Oda Nobunaga dibunuh oleh Akechi Mitsuhide dalam Peristiwa Honnōji di tahun 1582. Hideyoshi yang mendengar kabar kematian majikannya segera berhasil berdamai dengan pihak Mōri dengan syarat pemilik Istana Takamatsu yang bernama Shimizu Muneharu melakukan seppuku. Hideyoshi lalu menarik kembali pasukannya ke Kyoto secara besar-besaran. Peristiwa ini dikenal dengan Penarikan Pasukan dari Chūgoku (中国大返し ,chūgoku ōgaeshi?). Akechi Mitsuhide akhirnya berhasil dihabisi dalam Pertempuran Yamazaki. Berkat prestasi yang luar biasa serta dukungan dari Niwa Nagahide dan Ikeda Tsuneoki, Hideyoshi mendapat kesempatan memimpin pertemuan negarawan senior yang dilangsungkan di Istana Kiyosu. Dalam pertemuan Kiyosu, Hideyoshi menentang rencana Shibata Katsuie yang mengusulkan agar Oda Nobutaka mengambil alih pimpinan klan Oda. Menurut pendapat Hideyoshi, putra Oda Nobutada yang masih kanak-kanak yang bernama Sanbōshi (selanjutnya dikenal sebagai Oda Hidenobu) merupakan pewaris pemerintahan militer Oda Nobunaga yang sah. Hideyoshi kemudian berhasil menjadi pelindung Sanbōshi.   Pertentangan dengan Shibata Katsuie Pada tahun 1583, Hideyoshi berperang melawan Shibata Katsuie yang menentangnya secara politik. Pertempuran berlangsung sengit, tapi akhirnya berhasil dimenangkan pasukan Hideyoshi akibat Sakuma Morimasa dari pihak Katsuie yang bertempur membabi buta dan Maeda Toshiie yang membelot dari pihak Katsuie ke pihak Hideyoshi. Katsuie kemudian hanya bisa bertahan di markas besarnya di Istana Kitanoshō yang terkepung pasukan Hideyoshi. Katsuie tidak mempunyai jalan lain kecuali melakukan seppuku. Peristiwa ini disebut Pertempuran Shizugatake. Dalam pertempuran ini peran Tujuh Satria Shizugatake (賤ヶ岳七本槍 ,shizugatake nana hon yari?) sangat menentukan kemenangan Hideyoshi. Konon Hideyoshi juga sudah berpikir untuk menyelamatkan nyawa istri Katsuie bernama Oichi no kata yang akhirnya memilih mati bersama suaminya. Sebelum dijadikan istri oleh Katsuie, Oichi no kata adalah janda dari Azai Nagamasa yang juga dibunuh Hideyoshi Akibat pertempuran Shizugatake, Oda Nobutaka kehilangan pelindungnya Katsuie, dan Takigawa Kazumasa yang merupakan penentang Hideyoshi akhirnya menjadi tunduk. Nobutaka melakukan seppuku, sedangkan Kazumasa menjadi bawahan pengikut Hideyoshi.  Pertentangan dengan Tokugawa Ieyasu Dalam Pertempuran Komaki-Nagakute di tahun 1584, Ikeda Tsuneoki dan Mori Nagayoshi yang berada di pihak Hideyoshi sudah terbunuh oleh pihak Tokugawa, tapi Hideyoshi berhasil berdamai dengan Oda Nobukatsu yang berada di pihak Tokugawa. Akibatnya, pasukan Tokugawa terpaksa ditarik dan putra Tokugawa yang bernama Matsudaira Hideyasu dikirim ke Hideyoshi untuk dijadikan anak angkat sebagai syarat berdamai . Hideyoshi selanjutnya mengirim ibu kandung Hideyoshi yang bernama Ōmandokoro sebagai tawanan dan memberikan adik perempuannya Putri Asahi kepada Ieyasu untuk dijadikan istri. Hideyoshi memberi kesempatan kepada Ieyasu yang sudah menjadi pengikutnya untuk menemani pergi ke Kyoto. Ieyasu menerima penawaran dan berjanji untuk setia kepada Hideyoshi. Berdasarkan perjanjian ini, Hideyoshi secara de facto berhasil menjadi pewaris pemerintahan militer Oda Nobunaga.   Pembangunan Istana Osaka dan nama keluarga Toyotomi Pada tahun 1583, Hideyoshi mendirikan Istana Osaka di bekas kuil Ishiyama Honganji. Ōtomo Yoshishige seorang daimyo dari Kyushu sangat terkejut dengan kemegahan Istana Osaka dan memujinya sebagai bangunan "tiada ada duanya di Jepang." Istana Osaka sebenarnya mempunyai sedikit masalah dalam soal pertahanan yang kabarnya Hideyoshi sendiri sangat prihatin. Di beberapa tempat di Istana Osaka yang menurut Sanada Nobushige mempunyai pertahanan yang lemah dibangun benteng pertahanan yang dikenal sebagai Sanada Maru. Berkat usaha Nobushige, Istana Osaka menjadi jauh lebih kuat sehingga di kemudian hari menimbulkan kerugian besar di pihak pasukan Tokugawa. Pada tahun 1585, Hideyoshi menjadi anak angkat Konoe Sakihisa sehingga bisa mendapat gelar Kampaku dari kaisar. Tahun berikutnya (1586), Hideyoshi menerima nama keluarga Toyotomi, menjalankan tugas sebagai Daijō Daijin dan melakukan konsolidasi kekuasaan. Ada pendapat yang mengatakan Hideyoshi bermaksud melancarkan jalan ke arah terbentuknya "Keshogunan Hideyoshi" dengan mengusulkan dirinya diangkat sebagai anak angkat oleh Ashikaga Yoshiaki, tapi ternyata usul Hideyoshi ditolak.  Invasi ke Shikoku dan Etchū Hideyoshi setalah berhasil mengatasi Pemberontakan Ikko-ikki di provinsi Kii, segera bergerak maju menghadapi Chōsokabe Motochika yang dianggap bisa menjadi saingan karena baru saja berhasil menyatukan Shikoku. Hideyoshi meminta Motochika untuk mengembalikan 3 provinsi (Awa, Sanuki dan Iyo) ke tangan Hideyoshi, tapi usul ini ditolak mentah-mentah oleh Motochika. Hideyoshi merasa tidak ada jalan lain kecuali menunjuk adiknya Hashiba Hidenaga sebagai panglima gabungan untuk memimpin invasi ke Shikoku. Pasukan Toyotomi Hidenaga dan Toyotomi Hidetsugu menyerbu provinsi Awa, Ukita Hideie menyerbu provinsi Sanuki, sedangkan klan Mōri menyerbu provinsi Iyo dengan kekuatan pasukan gabungan sejumlah 100.000 prajurit. Motochika yang merasa pertempuran bakal tidak seimbang segera menyerah tanpa mau bertempur. Peristiwa ini dikenal sebagai Invasi Shikoku (四国征伐 ,shikoku seibatsu?) Pasukan Hideyoshi selanjutnya menghadapi perlawanan Maeda Toshiie dari provinsi Kaga, dan menaklukkan Sassa Narimasa asal provinsi Etchū. Pada tahun 1588, Sassa Narimasa diperintahkan melakukan seppuku karena dituduh salah mengurus pemerintahan provinsi Higo.  Penaklukan Kyushu Kekuasaan Shimazu Yoshihisa di Kyushu telah menjadi begitu kuat pada saat itu, sehingga Ōtomo Yoshishige yang merasa ditindas oleh klan Shimazu meminta pertolongan Hideyoshi. Invasi ke Kyushu tidak dapat dihindari karena peringatan Hideyoshi agar Shimazu Yoshihisa menyerah ternyata tidak ditanggapi. Pada tahun 1586, pasukan gabungan Hideyoshi yang dipimpin Sengoku Hidehisa sebagai panglima, dengan bawahan Chōsokabe Motochika dan anaknya Chōsokabe Nobuchika, Sogō Masayasu, dan Ōtomo Yoshimune mengalami kekalahan besar dalam pertempuran sungai Hetsugi melawan pasukan Shimazu Yoshihisa di provinsi Bungo. Peristiwa ini dinamakan Pertempuran sungai Hetsugi. Tewasnya Chōsokabe Nobuchika dan Sogō Masayasu dan Sengoku Hidehisa yang tidak bisa mengatur pasukan kabarnya menjadi sebab kekalahan pasukan gabungan Hideyoshi. Pada tahun 1587, Hideyoshi bersama dengan adiknya Hidenaga berniat menuntut balas dengan memimpin sendiri invasi besar-besaran ke Kyushu dengan total pasukan mencapai 200.000 prajurit. Pasukan Shimazu akhirnya berhasil ditaklukkan dan Shimazu Yoshihisa dan Shimazu Yoshihiro terpaksa menyerah. Peristiwa ini disebut Invasi ke Kyushu (九州征伐 ,kyūshū seibatsu?). Setelah berhasil menundukkan Shimazu yang merupakan musuh besar terakhir, Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin yang menguasai seluruh bagian barat Jepang. Pada tahun 1587, Hideyoshi mengeluarkan perintah Bateren Tsuhorei (バテレン追放令 ,bateren tsuihōrei?, pengusiran misionaris Kristen) yang antara lain melarang agama Kristen dan melarang daimyo mengkristenkan pengikutnya. Tahun berikutnya (1588), Hideyoshi mengeluarkan perintah Perburuan Katana (刀狩 ,katanagari?) yang melarang kalangan bukan samurai untuk memiliki katana.  Penaklukan Odawara Pada tahun 1589, pengikut klan Gohōjō yang bernama Inomata Kuninori merebut Istana Nagurumi di provinsi Kōzuke yang dijaga Suzuki Shigenori yang merupakan pengikut Sanada Masayuki. Hideyoshi menganggap peristiwa ini sebagai kesempatan untuk melakukan invasi ke tempat yang jauh di wilayah Kanto. Pada tahun berikutnya (1590), Hideyoshi berniat untuk menaklukkan Istana Odawara. Hideyoshi memerintahkan para daimyo di wilayah Tohoku untuk bergabung membantu pasukannya menyerang Odawara. Date Masamune yang menguasai sebagian besar wilayah Tohuku merasa ragu-ragu untuk mengirim pasukan. Hideyoshi lalu menjadi sangat marah karena Masamune yang dinanti-nanti tidak juga mau muncul-muncul. Masamune yang mengetahui hal ini bergegas mengenakan pakaian yang biasa dipakai orang meninggal dan pergi menghadap Hideyoshi untuk meminta pengampunan. Pada akhirnya, Hideyoshi memang bisa mengampuni Masamune yang terlambat datang. Konon pada saat itu Hideyoshi menyentuh bagian belakang leher Masamune dengan kipas dan berkata, "Kalau datang terlambat sedikit saja, bagian ini bahaya." Pertahanan Istana Odawara konon luar biasa kuat bahkan Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen tidak bisa menaklukkannya, tapi di tangan Hideyoshi ternyata Istana Odawara dapat ditaklukkan dengan mudah. Pasangan bapak dan anak Hōjō Ujimasa dan Hōjō Ujinao yang mampu bertahan selama 3 bulan di dalam istana yang sudah terkepung akhirnya menyerah. Ujimasa melakukan seppuku, sedangkan Ujinao diasingkan ke Gunung Kōya. Peristiwa ini disebut sebagai Invasi Odawara.  Pemersatu Jepang Toyotomi Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin pemersatu Jepang setelah menaklukkan klan Gohōjō yang merupakan musuh besar terakhir. Hideyoshi berhasil menghentikan perang berkecamuk sejak lama dan menandai berakhirnya periode Sengoku. Pada tahun 1591, Hideyoshi melakukan suksesi, jabatan Kampaku diwariskan Hideyoshi kepada keponakannya yang bernama Toyotomi Hidetsugu, sedangkan Hideyoshi mendapat gelar Taikō (sebutan kehormatan untuk pensiunan Kampaku). Ada cerita tentang Hideyoshi yang kabarnya pernah memerintahkan pengikutnya, seorang guru upacara minum teh (茶人 ,さじん?, sajin) yang bernama Sen no Rikyū untuk bunuh diri. Furuta Shigeteru dan Hosokawa Tadaoki sudah berusaha menjelaskan duduk perkara dan memohon kepada Hideyoshi untuk mengampuni nyawa Sen no Rikyū tapi ternyata tidak ditanggapi. Sen no Rikyū akhirnya melakukan seppuku dan kepalanya dipertontonkan di jembatan Ichijōmodori. Ada berbagai pendapat yang bertentangan mengenai sebab terjadinya peristiwa ini. Pada tahun itu juga (1591), terjadi pemberontakan yang disebabkan oleh seluruh anggota keluarga klan Nambu terlibat sengketa soal pewaris kekuasaan Kunohe Masazane. Hideyoshi segera menyetujui permohonan bantuan dari Nambu Nobunao dan menunjuk Toyotomi Hidetsugu sebagai panglima pasukan gabungan. Pasukan gabungan untuk menyerbu Kunohe terdiri dari pasukan pimpinan Gamō Ujisato, Asano Nagamasa, dan Ishida Mitsunari. Pasukan milik para daimyo dari wilayah Tohoku juga diperintahkan untuk bergabung, sehingga pasukan jumlahnya makin bertambah banyak. Konon jumlah pasukan yang menyerbu Kuzunohe hingga mencapai 60.000 prajurit. Kakak beradik Kunohe Masazane dan Kunohe Sanechika memang mengadakan perlawanan tapi akhirnya tidak berdaya diserang pasukan dalam jumlah besar dan menyerah. Pemberontakan selesai setelah seluruh anggota keluarga klan Kunohe dihabisi dengan cara dipenggal.  Perang Tujuh Tahun hingga akhir hayat Pada tahun 1592, Hideyoshi mengirim pasukan ke dinasti Joseon (sekarang dikenal sebagai Korea). Perang ini disebut Perang Tujuh Tahun (文禄・慶長の役 ,bunroku keichō no eki?). Pada saat awalnya, pasukan Joseon dapat mudah ditaklukkan, Hanyang (sekarang dikenal sebagai Seoul) pun berhasil dikuasai pasukan Hideyoshi. Situasi perang bertambah buruk akibat datangnya bala bantuan dari dinasti Ming dan perlawanan pasukan relawan dari berbagai daerah di Joseon, sehingga harus dibuat gencatan senjata. Pada tahun 1593 lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan Toyotomi Hideyori dari istri muda Hideyoshi yang bernama Yodo dono. Dua tahun kemudian (1595), keponakan Hideyoshi yang bernama Toyotomi Hidetsugu diperintahkan untuk melakukan seppuku dengan alasan perbuatan Hidetsugu sudah tidak terkendali sampai-sampai mendapat julukan "Kampaku haus darah." Penasehat Hidetsugu dan pengikut setia Hideyoshi seperti Maeno Nagayasu juga dianggap terlibat sehingga diperintahkan melakukan seppuku. Seluruh anggota keluarga Hidetsugu seperti istri dan anak-anaknya juga dihukum mati. Ada berbagai pendapat yang meragukan perbuatan perbuatan yang di luar batas yang dilakukan Hidetsugu. Pendapat lain mengatakan Hidetsugu dianggap tidak dibutuhkan lagi karena kelahiran Toyotomi Hideyori yang merupakan anak sah dari Yodo dono sekaligus pewaris klan Hideyoshi. Kegagalan perundingan damai menyebabkan Hideyoshi kembali menginvasi Joseon untuk yang kedua kali pada tahun 1597. Di tengah kemelut invasi ke Joseon, Hideyoshi yang menderita kanker perut merasa umurnya tidak akan lama lagi. Pada tanggal 18 Agustus 1598, Hideyoshi memanggil lima pembantu seniornya dan menunjuk Tokugawa Ieyasu dan Toyotomi Hideyori sebagai pelaksana tugas sehari-hari, sedangkan Maeda Toshiie ditunjuk sebagai pendamping Hideyori yang masih kecil. Hideyoshi lalu tutup usia di Istana Fushimi di usia 62 tahun. Invasi ke Joseon berakhir setelah wafatnya Hideyoshi. Perang ini menyebabkan kerugian besar pada tentara rakyat Joseon dan kerusakan besar-besaran wilayah Joseon. Kerugian besar juga dialami pasukan bala bantuan dari kekaisaran dinasti Ming, tapi pihak Jepang justru mengalami kerugian yang jauh lebih besar. Prajurit terbaik Hideyoshi banyak yang gugur di medan laga Joseon, sehingga hubungan antara klan Hideyoshi dan para pengikutnya menjadi retak. Salah satu agenda politik luar negeri Keshogunan Tokugawa adalah memperbaiki hubungan buruk antara Jepang dan Joseon. Sebelum tutup usia, Hideyoshi menulis puisi perpisahan berupa tanka yang berbunyi: tsuyu to ochi tsuyu to kienishi wagamikana naniwa no koto wa yume no mata yume (露と落ち 露と消えにし 我が身かな 浪速のことは 夢のまた夢 ?, embun jatuhlah, embun lalu hilanglah, jalan hidupku, kisah tentang Naniwa, mimpi di dalam mimpi).  Mengenai nama keluarga Toyotomi Nama keluarga Toyotomi diterima Hideyoshi dari kaisar Goyōzei. Sebelumnya, Hideyoshi juga pernah menggunakan nama keluarga Kinoshita dan Hashiba. Seperti lazim diketahui orang zaman sekarang, Hideyoshi mengganti nama dari Hashiba Hideyoshi menjadi Toyotomi Hideyoshi setelah dihadiahkan nama keluarga Toyotomi dari kaisar. Hideyoshi sebenarnya tetap menggunakan menggunakan nama keluarga Hashiba sampai saat wafatnya, begitu juga halnya dengan sanak keluarga Hideyoshi seperti Hidenaga dan Hidetsugu. Bushi lazim menyebut dirinya di depan orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dengan nama pemberian kaisar (本姓 ,hon sei?) diikuti dengan nama asli (諱 ,imina?). Taira no Kagetora merupakan nama pemberian kaisar kepada Uesugi Kenshin alias Nagao kagetora, sedangkan Minamoto no Harunobu merupakan nama pemberian kaisar untuk Takeda Shingen alias Takeda Harunobu. Nama "Toyotomi Hideyoshi" seperti yang sering disebut banyak orang merupakan cara membaca nama dalam aksara kanji yang tidak benar, karena nama asli dan nama pemberian kaisar yang dicampur aduk. Sebenarnya jika mau menyebut orang ditambah nama pemberian kaisar, di antara nama pemberian kaisar dan nama panggilan harus ditambahkan kata "no" yang berarti "dari klan," contohnya Taira no Kiyomori yang berarti Kiyomori dari klan Taira. Berdasarkan aturan tersebut, nama Toyotomi Hideyoshi seharusnya dibaca sebagai Toyotomi no Hideyoshi.  Kebijakan politik   Hideyoshi mengikuti kebijakan politik yang dirintis oleh Oda Nobunaga. Hideyoshi mengatur administrasi kota dan memajukan perdagangan dengan sistem pasar bebas (楽市・楽座 ,rakuichi rakuza?), kebijakan ekspor-impor menggunakan Kapal Segel Merah (朱印船貿易 ,Shuinsen boeki?), regulasi perdagangan dengan mencetak mata uang logam. Sistem perpajakan dikelola berdasarkan survei wilayah dan sensus yang disebut Taikōkenchi (太閤検地 ?) dan pelarangan orang biasa memiliki Katana Katana gari (刀狩 ?). Hideyoshi menciptakan sistem kelas dalam masyarakat yang memisahkan orang biasa (petani, produsen, dan pedagang) dengan kelas bushi. Sistem ini dijadikan dasar sistem pemerintahan regional yang disebut Bakuhan taisei (幕藩体制 ?) pada zaman Keshogunan Edo. Ada juga pendapat yang bisa dipercaya yang mengatakan pelarangan orang biasa memiliki Katana pada masa Hideyoshi tidak berhasil diterapkan sepenuhnya. Hideyoshi sudah sejak awal menyadari bahaya Kirishitan (sebutan pada zaman itu untuk agama Kristen) dan mengetahui rencana terselubung para misionaris yang membantu politik kolonialisme negara-negara Eropa di zaman penjelajahan, termasuk di antaranya perdagangan orang Jepang sebagai budak. Hideyoshi mendapat informasi tentang peran misionaris membantu Kerajaan Spanyol memperluas wilayah koloni dari seorang misionaris penumpang kapal San Felipe yang mengalami kecelakaan dan hanyut ke provinsi Tosa (Shikoku). Kebijakan Hideyoshi untuk mengatasi ancaman Kirishitan dilanjutkan oleh pemerintah Keshogunan Edo. Kegagalan invasi Joseon yang merupakan ambisi masa tua Hideyoshi untuk memperluas wilayah kekuasaan berakibat pada banyaknya pengikut klan Hideyoshi yang membelot ke kubu klan Tokugawa. Pembelotan besar-besaran pengikut setia Hideyoshi mengakibatkan basis kekuasaan klan Hideyoshi menjadi lemah, yang nantinya menjadi sebab berakhirnya pemerintahan Hideyoshi.   Profil Toyotomi Hideyoshi adalah salah satu tokoh sejarah yang paling terkemuka di Jepang. Dalam waktu satu tahun setelah Nobunaga tutup usia, Hideyoshi berhasil menjadi pewaris kekuasaan Nobunga. Hideyoshi berhak menjadi pengganti Nobunaga walaupun pangkatnya pada waktu itu masih 3 sampai 4 tingkat di bawah. Alasannya, prestasi Hideyoshi di bidang politik dan militer dianggap sangat luar biasa dan tanpa tanding, mulai dari Insiden Honnōji, Penarikan Pasukan dari Chūgoku, Pertempuran Yamazaki, berkesempatan menghadiri Pertemuan Kiyosu, dan bertempur gagah berani dalam Pertempuran Shizugatake. Hideyoshi sedikit demi sedikit kehilangan keseimbangan dan anggota keluarga yang harus mendukungnya kebanyakan justru bernasib malang. Ibunya yang bernama Ōmandokoro dan adik perempuannya yang bernama Putri Asahi harus menjadi tawanan Ieyasu. Hidenaga yang merupakan adik kandung laki-laki sekaligus pembantunya yang cerdas juga harus tutup usia dalam usia muda. Hideyoshi pernah memerintahkan hukuman mati untuk Hidetsugu yang masih keponakan sendiri berikut seluruh anggota keluarga. Hideyoshi dan istri sahnya Kōdaiin tidak memiliki putra yang dapat mewariskan kekuasaan klan Hideyoshi. Hal ini berakibat fatal pada kesinambungan kekuasaan klan Hideyoshi, karena mewariskan wilayah kekuasaan ke tangan anak kandung merupakan strategi mempertahankan kekuasaan di zaman Sengoku. Ada pendapat lain yang mengatakan, seandainya sebelum tutup usia Hideyoshi memiliki anak kandung yang sudah dewasa, walaupun anak itu tidak secerdas ayahnya tapi Ieyasu mungkin tidak berkesempatan melakukan tindakan sewenang-wenang menghancurkan klan Hideyoshi. Di akhir hayatnya, Hideyoshi menjadi diktator bertangan besi dan tidak secemerlang Hideyoshi di zaman Oda Nobunaga. Ada banyak pendapat yang mengatakan, walaupun pada akhirnya klan Hideyoshi dihancurkan oleh Ieyasu, Hideyoshi sebenarnya juga bertanggung jawab atas kehancuran klannya. Kalangan sejarawan berpendapat eksekusi Hidetsugu dan seluruh anggota keluarga serta invasi ke Joseon merupakan keputusan paling bodoh yang pernah dilakukan Hideyoshi. Pada zaman Meiji hingga zaman Showa sebelum Perang Dunia II, Jepang melancarkan propaganda "memakmurkan negara dan memperkuat militer" (富国強兵政策 ,fukoku kyōhei seisaku?). Pemerintah Jepang antara lain mencoba menjadikan perjalanan hidup Toyotomi Hideyoshi dari kalangan bawah menjadi pejabat tinggi Kampaku Dajo Daijin sebagai panutan orang banyak. Kisah perjalanan hidup Hideyoshi kemudian ternyata banyak disukai orang. Konon ada dokumen zaman itu yang mengganti istilah Perang tahun Bunroku dan tahun Keichō (文禄・慶長の役 ,bunroku keichō no eki?) menjadi Penaklukan Joseon (朝鮮征伐 ,chōsen seibatsu?) dengan tujuan menakuti-nakuti musuh (pemimpin militer Joseon) dan menunjukkan kepada dunia bahwa Jepang adalah negara yang kuat. Di Jepang, Hideyoshi dikagumi sebagai sosok yang menyenangkan dan bersahabat, lebih mementingkan kecerdasan dibanding kekuatan fisik dan selalu riang. Hideyoshi juga disukai rakyat sehingga mempunyai nama panggilan Taikō-san (nama jabatan ditambah kata "san") yang menunjukkan Hideyoshi dekat di hati rakyat. Pada zaman itu, pemimpin yang disegani tidak pernah disebut dengan panggilan akrab karena tidak mau keselamatan terancam. Berdasarkan perjalanan hidup masing-masing tokoh, kisah-kisah yang banyak beredar umumnya menggambarkan Hideyoshi sebagai tokoh yang bersifat periang dan berpengetahuan luas, berlawanan dengan Nobunaga yang genius namun bersifat dingin dan Ieyasu yang suka berhati-hati tapi terus terang. Hideyoshi sangat populer di berbagai daerah di Jepang. Museum Hideyoshi dibangun di tanah kelahirannya di distrik Nakamura Nagoya. Pawai orang dengan kostum Hideyoshi, Oda Nobunaga, dan Tokugawa Ieyasu diselenggarakan setiap tahun dalam perayaan Nagoya Matsuri. Hideyoshi juga sangat populer di Osaka, tempat yang pernah dijadikannya markas besar pemerintahan. Di kalangan pedagang di Osaka, Hideyoshi juga dianggap berjasa menjadikan Osaka sebagai kota perdagangan di zaman Edo. Sampai saat ini, cerita tentang asal-usul Hideyoshi masih diselubungi tanda tanya. Ada pendapat yang mengatakan ayah Hideyoshi yang bernama Yaemon adalah bukan sekadar petani biasa. Konon ayah Hideyoshi sebenarnya tergabung dalam pasukan klan Oda sebagai prajurit Ashigaru (足軽 ?) (kelas paling bawah) yang di masa damai bekerja sebagai petani. Hideyoshi sebelum menikah tidak mempunyai nama keluarga. Hideyoshi baru pertama kali memakai nama keluarga dan menamakan dirinya Kinoshita Hideyoshi sesudah kawin dengan Nene (Kōdaiin). Jika memang benar dirinya seorang petani, ayah Hideyoshi seharusnya mempunyai nama keluarga. Pada saat itu, orang yang menyebut diri sebagai petani (biasanya memiliki tanah atau industri kecil) lazimnya menggunakan nama keluarga yang diambil dari nama kampung tempat tinggal. Petani zaman itu memiliki nama keluarga untuk membedakan anggota keluarganya dengan penduduk lain yang tinggal satu kampung. Hideyoshi tidak mempunyai nama keluarga sebelum menikah, sehingga tidak tertutup kemungkinan ayah Hideyoshi bukanlah dari kelas petani, melainkan dari kelas rakyat jelata yang berada di bawah kelas petani. Ada beberapa penjelasan mengapa Hideyoshi sering dipanggil monyet. Ada coret-coretan yang bernada mengejek dibuat sewaktu Hideyoshi baru diangkat sebagai Kampaku. Konon Hideyoshi tidak jelas asal-usul keturunannya sehingga dijadikan barang tertawaan, "jangan-jangan Hideyoshi keturunan monyet." Alasan Hideyoshi dipanggil monyet mungkin bukan disebabkan tampangnya yang jelek, soalnya bukti Nobunaga memanggil Hideyoshi dengan sebutan monyet juga tidak pernah ditemukan. Hideyoshi memang pernah disebut sebagai tikus botak dalam satu pucuk surat yang ditulis Nobunaga kepada istri Hideyoshi (Nene), tapi sebutan ini hanya dipakai sekali dalam satu pucuk surat dan kabarnya bukan panggilan yang selalu digunakan oleh Nobunaga. Hideyoshi dikenal sebagai seorang yang mempunyai tangan kanan berjari enam (ibu jempol tangan kanannya ada dua). Pada masa itu, jari yang berlebih biasanya dipotong sewaktu masih kanak-kanak, tapi tetap dibiarkan Hideyoshi. Hideyoshi konon sangat dibenci di Korea karena pernah melakukan invasi ke Joseon. Kebalikannya, admiral Yi Sun-sin yang memimpin pasukan Joseon menjadi pahlawan nasional yang disanjung-sanjung di Korea.  Lokasi makam Hideyoshi dimakamkan di gunung Amidagamine (sekarang makamnya dinamakan Houkoku-byō). Hideyoshi setelah meninggal didewakan sebagai Toyokuni Dai Myōjin di kuil Shintō bernama Toyokuni-jinja yang terdapat di banyak tempat di Jepang. Keshogunan Tokugawa pernah mengeluarkan perintah untuk menghancurkan semua kuil Toyokuni yang mendewakan Hideyoshi. Pada zaman Meiji, sebagai usaha untuk memulihkan nama Hideyoshi, pemerintah kembali mendewakan Hideyoshi secara berdampingan dengan Ieyasu di kuil Nikkōtōshōgū yang terletak di Prefektur Tochigi.&lt;br /&gt;Sanak keluarga Istri sah: Kōdaiin (O ne), putri kedua Kinoshita SadatoshiIstri lain: MinamidonoIstri lain: Minami no Tsubone, putri Yamana ToyokuniIstri lain: Matsunomarudono (Kyōgoku Tatsuko), putri Kyōgoku TakayoshiIstri lain: Yododono (Chacha), putri Azai NagamasaIstri lain: Kagadono (Putri Maa), putri Maeda ToshiieIstri lain: Putri Kai, putri Narita UjinagaIstri lain: Sannomarudono, putri Oda NobunagaIstri lain: Sanjōdono (Tora), putri Gamō KatahideIstri lain: Himejidono, putri Oda NobukaneIstri lain: Hirozawa no TsuboneIstri lain: Gekkeiin (Oshima atau Shimako), putri Ashikaga Yorizumi.Istri lain: Anrakuin (Otane no kata), putri samurai lokalIstri lain: Ofuku, putri Miuranotonokami, ibunda Ukita Hideie.Adik: Toyotomi HidenagaKeponakan: Toyotomi HidetsuguKeponakan: Toyotomi HidekatsuKeponakan: Toyotomi HideyasuPutra: Toyotomi HidekatsuPutra: Toyotomi TsurumatsuPutra: Toyotomi HideyoriIpar: Asano Nagamasa  Anak angkat Hashiba Hidekatsu (putra ke-4 Oda Nobunaga).Ukita Hideie (putra Ukita Naoie)Toyotomi Hidekatsu (putra kakak perempuan Hideyoshi yang bernama Tomo (Nisshū) dengan Miyoshi Yoshifusa)Toyotomi Hidetsugu (kakak Toyotomi Hidekatsu, putra pertama kakak perempuan Hideyoshi yang bernama Tomo (Nisshū dan Miyoshi Yoshifusa)Yūki Hideyasu (putra kedua Tokugawa Ieyasu)Kobayakawa Hideaki, keponakan istri sah Hideyoshi yang bernama Kōdaiin (O-ne)Putri Gō, anak perempuan Maeda Toshiie, ibunya adalah Hōshunin, istri sah ToshieHachijōnomiya Toshihito shinnō (putra ke-6 kaisar Sanehito shinnō, pendiri keluarga Katsunomiya).  Pengikut Hideyoshi tidak dilahirkan dari keluarga daimyo turun temurun sehingga harus merekrut banyak pengikut baru dalam perjalanan hidupnya menjadi orang nomor satu di Jepang. Bekas pengikut Oda Nobunaga yang menjadi pengikut Hideyoshi antara lain: Asano Nagamasa (bekas pesuruh Nobunaga), Horio Yoshiharu, Yamauchi Katsutoyo, Nakamura Kazuuji, Takenaka Shigeharu, Higuchi Naofusa, Wakizaka Yasuharu, Katagiri Katsumoto, Ishida Mitsunari, Kuroda Yoshitaka, dan Mashida Nagamori. Fukushima Masanori dan Katō Kiyomasa sejak kecil sudah dibesarkan oleh Hideyoshi. Pengikut Hideyoshi banyak yang menunjukkan keberanian luar biasa dalam Pertempuran Shizugatake, misalnya: Fukushima Masanori, Katō Kiyomasa, Katō Yoshiakira, Wakizaka Yasuharu, Hirano Nagayasu, Kasuya Takenori, dan Katagiri Katsumoto. Ada juga perbedaan pendapat tentang nama-nama yang berhak disebut sebagai Tujuh Ksatria Shizugatake (賤ヶ岳七本槍 ,shizugatake hon yari?). Hideyoshi juga menyertakan beberapa bekas asisten Nobunaga seperti seperti Maeda Toshiie, Tamba Nagahide, dan Hachisuka Masakatsu yang diwariskan kepadanya sebagai pengikut, tapi ada juga pendapat yang mengatakan hubungan Hideyoshi dengan para bekas asisten Nobunaga hanya sebatas sahabat. Istri sah Hideyoshi yang bernama Kōdaiin (alias Nene) menghasut para daimyo bekas anak asuh Hideyoshi seperti Fukushima Masanori agar tidak setia kepada klan Hideyoshi. Alasannya, Hideyori adalah anak Hideyoshi dari istri muda Yododono yang dicemburui Kōdaiin. Akibatnya, para daimyo bekas anak asuh Hideyoshi yang sudah tidak setia merasa tidak perlu membantu klan Hideyoshi ketika terjadi Pertempuran Musim Dingin Osaka dan Pertempuran Osaka. Klan Hideyoshi mengalami kehancuran akibat kekurangan pengikut yang setia, Ishida Mitsunari dihukum mati karena kalah dalam Perang Sekigahara, Ōtani Yoshitsugu melakukan seppuku, dan Ukita Hideie kalah perang dan diasingkan ke pulau terpencil. Ada juga pendapat yang mengatakan Katō Yukinaga dan Asano Nagamasa secara diam-diam terus mendukung Hideyoshi sementara klan Tokugawa pura-pura tidak mengetahui hal ini. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kesetiaan Katō Yukinaga dan Asano Nagamasa pada klan Hideyoshi tetap tidak tergoyahkan sampai harus dibunuh dengan racun. Organisasi pemerintahan Hideyoshi terdiri dari dewan lima menteri senior (五大老 ,go tairō?), tiga pemimpin tingkat menengah (三中老 ,san chūrō?), dan lima pelaksana pemerintahan (五奉行 ,go bugyō?). Pada Pertempuran Sekigahara, pengikut Hideyoshi terbelah menjadi dua, yakni penganut paham negara militer dan penganut paham negara sipil. Go Tairō (dewan lima menteri senior)Tokugawa Ieyasu kepala dewan (筆頭 ,hittō?), Maeda Toshiie, Mōri Terumoto, Ukita Hideie, Kobayakawa Takakage, dan Uesugi Kagekatsu (pengganti wafatnya Takakage) San Chūrō (tiga pemimpin tingkat menengah)Ikoma Chimasa, Nakamura Kazuuji, Horio Yoshiharu Go Bugyō (lima pelaksana pemerintahan)Asano Nagamasa (ketua dewan), Ishida Mitsunari, Mashita Nagamori, Natsuka Masaie, Maeda Geni. Tujuh Satria ShizugatakeFukushima Masanori, Katō Kiyomasa, Katō Yoshiakira, Wakizaka Yasuharu, Hirano Nagayasu, Kasuya Takenori, dan Katagiri Katsumoto. Mantan pengikut NobunagaMaeda Toshiie, Tamba Nagahide, Hachisuka Masakatsu, Hori Hidemasa Ksatria berseragam kuning (黄母衣衆 ,Ōhoro shū?)Aoki Kazushige, Itō Nagazane, Inoue Michikatsu, Inoue Yoritsugu, Inoko Kazutoki, Oda Nobutaka, Onoki Shigekatsu, Sengoku Hidehisa, Hachisuka Iemasa, Hattori Kazutada, Hayamizu Morihisa, Maeno Tadayasu, Mikoda Masaharu, Miyoshi Fusakazu, Yamauchi Katsutoyo, dan Wakebe Mitsuyoshi. Penasehat militerTakenaka Shigeharu, Kuroda Yoshitaka Anak yang dibesarkanKonishi Yukinaga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-7386526128819879294?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/7386526128819879294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/hideyoshi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/7386526128819879294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/7386526128819879294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/hideyoshi.html' title='Hideyoshi'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo05ohjugI/AAAAAAAAADQ/kpoFL7gLhCc/s72-c/hideyoshi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-6898550198728484677</id><published>2009-07-19T04:52:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T05:13:42.038+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Oichi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1B2mWJNI/AAAAAAAAADY/qKcpc0iXcxw/s1600-h/oichi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156612290487506" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1B2mWJNI/AAAAAAAAADY/qKcpc0iXcxw/s320/oichi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 150px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 113px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oichi (お市) (1547?-1583) adalah seorang wanita bangsawan Jepang semasa perang sipil/ periode Sengoku yang terkenal akan kecantikannya. Dia adalah adik dari salah seorang pemersatu Jepang, Oda Nobunaga dan istri dari dua daimyo terkenal Azai Nagamasa dan Shibata Katsuie.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//    Kehidupan Oichi menghabiskan masa mudanya di Owari, daerah kekuasaan klan Oda. Dia dinikahkan dengan Shibata Katsuie sebagai hadiah yang diberikan Nobunaga setelah Katsuie melancarkan kudeta yang gagal padanya lalu memohon pengampunan dan bersumpah melayaninya dengan setia. Namun pernikahan mereka tidak berlangsung lama, tahun 1567 dalam penaklukan Mino, Nobunaga membatalkan pernikahannya dengan Katsuie dengan alasan politis. Oichi dinikahkan dengan rival Nobunaga, Azai Nagamasa untuk mempererat persekutuan. Dalam hal ini Oichi tidak mempunyai pilihan lain selain menurut dan terpaksa diapun bercerai dengan Katsuie Dari Nagamasa, Oichi melahirkan seorang putra, Manjumaru dan tiga orang putri Cha-cha (dikenal juga dengan Yodo Gimi atau Yodo Dono), O-Hatsu, dan O-go. Tahun 1570, suaminya mengkhianati persekutuan dengan kakaknya dengan menyerang Nobunaga bersama klan Asakura. Pertempuran sengit pun berlangsung selama tiga tahun lamanya hingga klan Asakura kalah. Setelahnya pasukan Nobunaga terus maju dan mengepung kastil Odani, pusat klan Azai tempat Oichi dan keluarganya tinggal. Nobunaga menuntut agar Oichi dikembalikan padanya. Nagamasa menyanggupi tuntutan itu, Oichi dan ketiga putrinya dipulangkan dengan selamat pada Nobunaga sementara dia sendiri dan putranya, Manjumaru melakukan seppuku di kastilnya. Dengan demikian Oichi kini kembali menikah dengan suami sebelumnya, Shibata Katsuie sekitar tahun 1574. Tragedi dalam kehidupannya belum berakhir, menyusul kematian Nobunaga tahun 1583, suaminya terlibat konflik dengan Toyotomi Hideyoshi mengenai masalah suksesi dalam klan Oda. Pasukan Katsuie dihancurkan di Shizugatake, perbukitan di utara Omi. Sadar dirinya telah kalah, Katsuie mengurung diri dalam kastilnya di Kita-no-shō dan siap melakukan seppuku. Dia sempat meminta Oichi agar menyelamatkan diri bersama anak-anaknya, namun kali ini Oichi tidak ingin meninggalkan suaminya seperti yang pernah dilakukan terhadap Nagamasa dulu. Oichi hanya menitipkan ketiga putrinya pada Hideyoshi sementara dia sendiri menemani suaminya menyongsong maut di kastil yang mulai terbakar.   Keturunan Ketiga putrinya kelak menjadi istri-istri orang terkenal dalam sejarah Jepang, Cha-cha, O-Hatsu dan O-go masing-masing menikah dengan Hideyoshi, Kyôgoku Takatsugu, dan Tokugawa Hidetada Yodo Gimi menjadi selir dari Hideyoshi, sebuah ironi karena Hideyoshilah yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya dan juga ayah tirinya. Kepadanya, Hideyoshi menganugerahkan kastil Yodo, karena itulah kemudian dia juga dikenal dengan nama Yodo Gimi atau Yodo Dono. Dia melahirkan dua putra bagi Hideyoshi, salah satunya, Toyotomi Hideyori. Belakangan dia bersama Hideyori bunuh diri setelah kekalahannya dalam pertempuran Osaka yang adalah pertempuran terakhir zaman Sengoku. Putri kedua, O-Hatsu menikah dengan Kyôgoku Takatsugu, bangsawan yang pernah bekerja pada klan Azai. Klan Kyôgoku memihak pada Tokugawa setelah kematian Hideyoshi. O-Hatsu berperan sebagai mediator antara Tokugawa dan kakaknya Yodo Gimi. Walaupun tidak berhasil mendamaikan kedua pihak, dia berhasil menyelamatkan putri Hideyori dengan menjadikannya biarawati setelah kekalahan di Osaka. Putri bungsu, O-go menikah dengan shogun kedua Tokugawa, Hidetada. Mereka mempunyai banyak anak termasuk shogun ketiga, Iemitsu dan Masako, istri Kaisar Go-Mizunoo. Putri Masako, Okiko kelak menjadi Permaisuri Meisho, maka Oichi secara anumerta menjadi nenek dari shogun dan moyang dari permaisuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oichi dalam budaya populer     Oichi dalam game Samurai Warriors   Dalam drama NHK, Toshiie no Matsu (利家とまつ) Oichi diperankan oleh aktris Tanaka Misato.Dalam game PS2, Onimusha 2, Oichi adalah karakter yang dapat digunakan, disini dia menggunakan nama samaran Oyu. Dalam game ini misinya adalah mencegah kakaknya, Nobunaga menyerang kastil Odani. Dia juga terlibat asmara dengan tokoh utama game ini, Yagyu Jubei.Dalam game Samurai Warriors dia juga muncul sebagai karakter yang dapat digunakan. Disini dia dilukiskan sebagai gadis ABG bersenjatakan kendama (sebuah mainan ketangkasan tradisional Jepang). Dalam sekuel game ini dia dilukiskan lebih dewasa dari game sebelumnya.Oichi juga muncul dalam game Devil King (Sengoku Basara) bersenjatakan naginata bermata dua, namun disini dia tidak bisa digunakan. Pada game revisi dari Sengoku Basara 2 yang berjudul Sengoku Basara 2 Heroes dia bisa dimainkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-6898550198728484677?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/6898550198728484677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/oichi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6898550198728484677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/6898550198728484677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/oichi.html' title='Oichi'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1B2mWJNI/AAAAAAAAADY/qKcpc0iXcxw/s72-c/oichi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-8425489380137649055</id><published>2009-07-19T04:44:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T05:13:53.906+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Nagamasa Asai</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1IhTCLxI/AAAAAAAAADg/dY0FpcX1RcY/s1600-h/nagamasa2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156726831427346" src="http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1IhTCLxI/AAAAAAAAADg/dY0FpcX1RcY/s320/nagamasa2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 116px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 104px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Azai Nagamasa (浅井 長政, 1545-1573) adalah seorang daimyo pada masa perang sipil Jepang/periode Sengoku. Ia adalah adik ipar dari pemersatu Jepang, Oda Nobunaga yang pada akhirnya menjadi musuh karena pengkhianatan atas persekutuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;//      Kehidupan awal Nagamasa lahir di Kastil Odani milik klan Azai. Ayahnya, Azai Hisamasa, adalah seorang pemimpin yang lemah sehingga menjadi taklukan klan Rokkaku di bawah pimpinan Rokkaku Yoshikata. Pada awal tahun 1559, ia dinikahkan dengan seorang gadis dari klan Rokkaku untuk memperkuat persekutuan antara kedua klan. Namun tak lama kemudian ia membatalkan pernikahan ini. Pertengahan tahun 1560, pasukan Rokkaku menyerang Omi, wilayah Azai sehingga kedua klan ini terlibat dalam perang. Dalam perang ini, Nagamasa menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin yang tangguh, padahal usianya pada waktu itu masih sangat muda. Tahun berikutnya ia berhasil merebut kembali kastil Futo yang sebelumnya diduduki oleh Rokkaku. Bersama ayahnya, ia berhasil mengalahkan klan Rokkaku dalam Pertempuran Norada. Setelah kemenangan ini para pengikut klan Azai menuntut agar Hisamasa mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepala klan pada putranya, Nagamasa, yang dianggap lebih mampu. Hisamasa akhirnya mengalah, ia menyerahkan kedudukan kepada Nagamasa dan pensiun menghabiskan sisa hidupnya di Kastil Odani. Dengan demikian Nagamasa kini menjadi daimyo klan Azai yang ke-3.   Sebagai penguasa Omi Setelah menjadi pemimpin, langkah pertamanya adalah menyerang Mino yang dikuasai klan Saito. Klan Rokkaku mengambil kesempatan di tengah kesibukan Nagamasa memerangi Saito dengan mengepung Kastil Sawayama di Omi. Namun Nagamasa segera dapat menyelamatkan kastil itu dengan mengirimkan bala bantuan yang dipimpin Isono Kazumasa. Pada saat yang sama, Oda Nobunaga, penguasa Owari juga sedang melakukan ekspansi ke Mino. Untuk mengakhiri pertikaian yang berlarut-larut, klan Oda dan Azai sepakat untuk menjalin persekutuan, Nobunaga menikahkan adiknya, Oichi, pada Nagamasa tahun 1564. Pernikahan mereka membuahkan seorang putra dan tiga orang putri. Tahun 1570, Nobunaga yang kedudukannya kini semakin kuat bersekutu dengan Tokugawa Ieyasu dari Mikawa menyerang klan Asakura dari Echizen. Hal ini menjadi dilema bagi Nagamasa, walaupun Nobunaga adalah kakak iparnya, namun Asakura juga adalah sekutu lama dan sahabat bagi klan Azai. Setelah berkonsultasi dengan para bawahannya, akhirnya ia memutuskan untuk membantu Asakura dan menyerang Oda. Nagamasa menyerang garis belakang pasukan Oda dalam Pertempuran Anegawa. Pertempuran sengit pun terjadi antara Azai-Asakura dan Oda-Tokugawa. Pasukan gabungan Azai-Asakura pada akhirnya kalah dan kehilangan jenderal-jenderal terbaiknya seperti Endo Naotsune dan Makara Naotaka. Namun beberapa bulan kemudian mereka berhasil membalas kekalahan mereka dalam pertempuran di Otsu yang merenggut nyawa Oda Nobuharu, adik Nobunaga. Sejak itulah Nobunaga sangat membenci Nagamasa dan bersumpah akan menuntut balas atas pengkhianatannya itu. Nagamasa selanjutnya bergabung dalam persekutuan anti Oda yang terdiri dari klan-klan yang terancam oleh Nobunaga seperti Asakura, Rokkaku, para biksu militan dari Gunung Hiei, dan shogun Ashikaga Yoshiaki. Berkat persekutuan ini dua kali serangan Nobunaga atas Kastil Odani yaitu tahun 1571 dan 1572 dapat digagalkan. Dengan pertahanan kastil yang dilengkapi senjata api dan perlindungan dari Asakura, Nobunaga tidak berani bertindak gegabah, terlebih dia juga harus menghadapi ancaman dari lawannya yang lain.   Kekalahan yang tragis Tahun 1573, Takeda Shingen, salah satu musuh besar Nobunaga meninggal sehingga perhatian Nobunaga kini kembali terpusat pada dendam lamanya, Nagamasa. Tahun itu juga Nobunaga memulai serangan ke Omi dengan mengepung Kastil Sawayama yang dijaga oleh Isono Kazumasa. Setelah delapan bulan bertahan, Isono pun akhirnya menyerah. Nagamasa sangat murka dan menghukum mati ibu Isono yang tinggal di Kastil Odani sebagai sandera. Pasukan Oda terus maju menuju Odani setelah sebelumnya menyergap dan menghancurkan pasukan Asakura sebelum mereka berhasil mencapai Odani. Kastil Odani kini terkepung rapat, ayahnya, Hisamasa, melakukan seppuku melihat kehancuran yang sudah di depan mata. Sadar bahwa harapan sudah pupus, Nagamasa memerintahkan istrinya, Oichi, bersama ketiga putrinya kembali ke klan Oda sementara ia sendiri bersama putranya, Manjumaru melakukan seppuku di kastil itu. Menurut sebuah versi cerita, untuk melampiaskan dendamnya, Nobunaga memerintahkan tengkorak Nagamasa dan Asakura Yoshikage dijadikan cawan dan digunakan dalam sebuah jamuan di Kyoto.   Keturunan Ketiga putri Nagamasa kelak menjadi istri-istri orang terkenal dalam sejarah Jepang, Cha-cha (Yodo Gimi), O-Hatsu dan O-go masing-masing menikah dengan Hideyoshi Toyotomi, Kyôgoku Takatsugu, dan Tokugawa Hidetada Yodo Gimi menjadi selir dari Hideyoshi, seorang bawahan Nobunaga yang meneruskan perjuangannya setelah Nobunaga meninggal. Kepadanya, Hideyoshi menganugerahkan kastil Yodo, karena itulah kemudian dia juga dikenal dengan nama Yodo Gimi atau Yodo Dono. Dia melahirkan dua putra bagi Hideyoshi, salah satunya, Toyotomi Hideyori. Belakangan dia bersama Hideyori bunuh diri setelah kekalahannya dalam pertempuran Osaka yang adalah pertempuran terakhir zaman Sengoku. Putri kedua, O-Hatsu menikah dengan Kyôgoku Takatsugu, bangsawan yang pernah bekerja pada klan Azai. Klan Kyôgoku memihak pada Tokugawa setelah kematian Hideyoshi. O-Hatsu berperan sebagai mediator antara Tokugawa dan kakaknya Yodo Gimi. Walaupun tidak berhasil mendamaikan kedua pihak, dia berhasil menyelamatkan putri Hideyori dengan menjadikannya biarawati setelah kekalahan di Osaka. Putri bungsu, O-go menikah dengan shogun Tokugawa yang kedua, Hidetada.   Azai Nagamasa dalam budaya populer     Nagamasa dalam game Samurai Warriors   Nagamasa muncul dalam game komputer dua game produksi Creative Assembly yaitu Shogun Total War dan Medieval Total War.Dalam game PS2, Samurai Warriors produksi Koei, Nagamasa muncul sebagai karakter yang tidak bisa digunakan, baru dalam Samurai Warriors 2 dia muncul sebagai karakter yang bisa digunakan dengan bersenjatakan lembing ala ksatria Eropa.Nagamasa juga muncul dalam game PS2 lainnya produksi Capcom, yaitu Devil King (di Jepang berjudul Sengoku Basara) dan sekuelnya, Devil King 2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-8425489380137649055?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/8425489380137649055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/nagamasa-asai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8425489380137649055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/8425489380137649055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/nagamasa-asai.html' title='Nagamasa Asai'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1IhTCLxI/AAAAAAAAADg/dY0FpcX1RcY/s72-c/nagamasa2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-2203669931741868951</id><published>2009-07-19T04:20:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T05:14:12.795+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Japanese warriors'/><title type='text'>Oda Nobunaga</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Oh5BWpI/AAAAAAAAADo/DKF-vLEomXc/s1600-h/nobunaga.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156830069971602" src="http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Oh5BWpI/AAAAAAAAADo/DKF-vLEomXc/s320/nobunaga.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 128px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 98px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nobunaga Oda,  seorang daimyo Jepang yang hidup pada jaman Sengoku hingga jaman Azuchi Momoyama. Lahir sebagai pewaris Nobuhide Oda. Untuk menjadi seorang kepala klan, dia harus bersaing dengan Nobuyuki Oda yang merupakan adik kandungnya sendiri. Sang raja iblis surga keenam ini lahir pada 23 Juni 1534.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Muda&lt;br /&gt;Nobunaga dilahirkan di Istana Shōbata pada tahun 1534 sebagai putra ketiga Oda Nobuhide, seorang daimyo zaman Sengoku dari Provinsi Owari.&lt;br /&gt;Nobunaga diangkat menjadi penguasa Istana Nagoya sewaktu masih berusia 2 tahun. Sejak kecil hingga remaja, Nobunaga dikenal sering berkelakuan aneh sehingga mendapat julukan "si bodoh dari Owari" dari orang-orang di sekelilingnya. Nama julukan ini diketahui dari catatan tentang Nobunaga yang tertarik pada senapan yang tertulis dalam sejarah masuknya senjata api ke Jepang melalui kota pelabuhan Tanegashima. Nobunaga sejak masih muda memperlihatkan sifat genius dan tindakan gagah berani. Tindakan yang sangat mengejutkan sang ayah juga sering dilakukan oleh Nobunaga, seperti menggunakan api untuk melepas sekelompok kuda di Istana Kiyosu. Ketika masih merupakan pewaris kekuasaan ayahnya, Nobunaga dari luar terlihat sangat melindungi para pengikutnya. Di sisi lain, Nobunaga sangat berhati-hati terhadap para pengikut walaupun tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Pada waktu Toda Yasumitsu dari Mikawa membelot dari klan Imagawa ke klan Oda, Matsudaira Takechiyo berhasil diselamatkan dari penyanderaan pihak musuh. Nobunaga sering melewatkan masa kecil bersama Matsudaira Takechiyo (nantinya dikenal sebagai Tokugawa Ieyasu) sehingga keduanya menjalin persahabatan yang erat. Pada tahun 1546, Nobunaga menyebut dirinya sebagai Oda Kazusanosuke (Oda Nobunaga) setelah diresmikan sebagai orang dewasa pada usia 13 tahun di Istana Furuwatari. Nobunaga mewarisi jabatan kepala klan (katoku) setelah Oda Nobuhide tutup usia. Pada upacara pemakaman ayahnya, Nobunaga melakukan tindakan yang dianggap tidak sopan dengan melemparkan abu dupa ke altar. Ada pendapat yang mengatakan cerita ini merupakan hasil karangan orang beberapa tahun kemudian. Pada tahun 1553, Hirate Masahide, sesepuh klan Oda melakukan seppuku sebagai bentuk protesnya terhadap kelakuan Nobunaga. Kematian Masahide sangat disesali Nobunaga yang lalu meminta bantuan pendeta bernama Takugen untuk membuka gunung dan mendirikan tempat beristirahat arwah Hirate Masahide. Kuil ini kemudian diberi nama kuil Masahide. Pada tahun 1548, Nobunaga mulai memimpin pasukan sebagai pengganti sang ayah. Pertempuran sengit melawan musuh lama Saitō Dōsan dari pPvinsi Mino akhirnya bisa diselesaikan secara damai. Nobunaga kemudian menikah dengan putri Saito Dōsan yang bernama Nōhime. Pertemuan Nobunaga dengan bapak mertua Saito Dōsan dilakukan di kuil Shōtoku yang terletak di Gunung Kōya. Ada cerita yang mengatakan dalam pertemuan ini kualitas kepemimpinan yang sebenarnya dari Oda Nobunaga mulai terlihat dan reputasi Nobunaga sebagai anak bodoh mulai terhapus. Pada bulan April 1556, sang bapak mertua Saitō Dōsan tewas akibat kalah bertempur dengan putra pewarisnya sendiri Saitō Yoshitatsu. Pasukan Dōsan sebetulnya sudah dibantu pasukan yang dikirim Nobunaga, tapi konon sudah terlambat untuk dapat menolong Saitō Dōsan.   Klan Oda dan perselisihan keluarga Pada tanggal 24 Agustus 1556, Nobunaga memadamkan pemberontakan yang dipimpin adik kandungnya sendiri Oda Nobuyuki, Hayashi Hidesada, Hayashi Michitomo, dan Shibata Katsuie dalam Pertempuran Inō. Oda Nobuyuki terkurung di dalam Istana Suemori yang dikepung pasukan Nobunaga. Sang ibu (Dota Gozen) datang untuk menengahi pertempuran di antara kedua putranya, dan Nobunaga dimintanya untuk mengampuni Nobuyuki. Pada tahun berikutnya (1557), Nobuyuki kembali menyusun rencana pemberontakan. Nobunaga yang mendengar rencana ini dari laporan rahasia Shibata Katsuie berpura-pura sakit dan menjebak Nobuyuki untuk datang menjenguknya ke Istana Kiyosu. Nobuyuki dihabisi sewaktu datang ke Istana Kiyosu. Pada saat itu, Shiba Yoshimune dari klan Shiba menduduki jabatan kanrei. Kekuatan klan Shiba sebagai penjaga Provinsi Owari sebenarnya sudah mulai melemah, sehingga klan Imagawa dari Provinsi Suruga, klan Mizuno dan klan Matsudaira dari Provinsi Mikawa bermaksud menyerang Provinsi Owari. Sementara itu, perselisihan terjadi di dalam klan Oda yang terdiri dari banyak keluarga dan faksi. Klan Oda mengabdi selama tiga generasi untuk keluarga Oda Yamato-no-kami. Oda Nobutomo memimpin keluarga Oda Yamato-no-kami yang menjabat shugodai untuk distrik Shimoyon, Provinsi Owari. Nobunaga bukan merupakan garis keturunan utama klan Oda, sehingga Oda Nobutomo berniat menghabisi keluarga Nobunaga yang dianggap sebagai ancaman. Pada saat itu, Oda Nobutomo menjadikan penjaga Provinsi Owari yang bernama Shiba Yoshimune sebagai boneka untuk mempertahankan kekuasaan. Walaupun hal ini lazim dilakukan shugodai pada zaman itu, Yoshimune tidak menyukai perlakuan Nobutomo sehingga hubungan di antara keduanya menjadi tegang. Di tengah panasnya hubungan dengan Yoshimune, Nobutomo menyusun rencana pembunuhan atas Nobunaga. Rencana pembunuhan ini dibocorkan Yoshimune kepada Nobunaga, sehingga ada alasan untuk menyerang Nobutomo. Setelah tahu rencananya pembunuhan yang disusunnya terbongkar, Nobutomo sangat marah terhadap Yoshimune. Ketika sedang menangkap ikan di sungai ditemani pengawalnya, putra Yoshimune yang bernama Shiba Yoshikane dibunuh oleh Nobutomo. Anggota keluarga Yoshikane (seperti adik Yoshikane yang kemudian dikenal sebagai Mōri Hideyori dan Tsugawa Yoshifuyu) meminta pertolongan Nobunaga untuk melarikan diri ke tempat yang jauh. Peristiwa pembunuhan Shiba Yoshikane merupakan kesempatan bagi Nobunaga untuk memburu dan membunuh komplotan pembunuh Yoshikane dari keluarga Oda Kiyosu yang sudah lama merupakan ganjalan bagi Nobunaga. Oda Nobutomo berhasil dihabisi paman Nobunaga yang bernama Oda Nobumitsu (penguasa Istana Mamoriyama). Dengan tewasnya Nobutomo, Nobunaga berhasil menamatkan sejarah keluarga Oda Kiyosu yang merupakan garis keturunan utama klan Oda, sehingga keluarga Oda Nobunaga yang bukan berasal dari garis keturunan utama bisa menjadi pemimpin klan. Nobunaga menaklukkan penguasa Istana Inuyama bernama Oda Nobukiyo yang sebenarnya masih satu keluarga. Setelah itu, Nobunaga menyingkirkan Oda Nobuyasu yang merupakan garis utama keturunan klan Oda sekaligus penguasa distrik Shimoyon. Oda Nobuyasu adalah anggota keluarga Oda Kiyosu yang menjadi musuh besar Nobunaga. Nobunaga berhasil mengalahkan Oda Nobuyasu, dan mengusirnya dalam Pertempuran Ukino. Pada tahun 1559, keluarga Nobunaga berhasil memegang kendali kekuasaan Provinsi Owari.Klan Oda dan perselisihan keluarga Pada tanggal 24 Agustus 1556, Nobunaga memadamkan pemberontakan yang dipimpin adik kandungnya sendiri Oda Nobuyuki, Hayashi Hidesada, Hayashi Michitomo, dan Shibata Katsuie dalam Pertempuran Inō. Oda Nobuyuki terkurung di dalam Istana Suemori yang dikepung pasukan Nobunaga. Sang ibu (Dota Gozen) datang untuk menengahi pertempuran di antara kedua putranya, dan Nobunaga dimintanya untuk mengampuni Nobuyuki. Pada tahun berikutnya (1557), Nobuyuki kembali menyusun rencana pemberontakan. Nobunaga yang mendengar rencana ini dari laporan rahasia Shibata Katsuie berpura-pura sakit dan menjebak Nobuyuki untuk datang menjenguknya ke Istana Kiyosu. Nobuyuki dihabisi sewaktu datang ke Istana Kiyosu. Pada saat itu, Shiba Yoshimune dari klan Shiba menduduki jabatan kanrei. Kekuatan klan Shiba sebagai penjaga Provinsi Owari sebenarnya sudah mulai melemah, sehingga klan Imagawa dari Provinsi Suruga, klan Mizuno dan klan Matsudaira dari Provinsi Mikawa bermaksud menyerang Provinsi Owari. Sementara itu, perselisihan terjadi di dalam klan Oda yang terdiri dari banyak keluarga dan faksi. Klan Oda mengabdi selama tiga generasi untuk keluarga Oda Yamato-no-kami. Oda Nobutomo memimpin keluarga Oda Yamato-no-kami yang menjabat shugodai untuk distrik Shimoyon, Provinsi Owari. Nobunaga bukan merupakan garis keturunan utama klan Oda, sehingga Oda Nobutomo berniat menghabisi keluarga Nobunaga yang dianggap sebagai ancaman. Pada saat itu, Oda Nobutomo menjadikan penjaga Provinsi Owari yang bernama Shiba Yoshimune sebagai boneka untuk mempertahankan kekuasaan. Walaupun hal ini lazim dilakukan shugodai pada zaman itu, Yoshimune tidak menyukai perlakuan Nobutomo sehingga hubungan di antara keduanya menjadi tegang. Di tengah panasnya hubungan dengan Yoshimune, Nobutomo menyusun rencana pembunuhan atas Nobunaga. Rencana pembunuhan ini dibocorkan Yoshimune kepada Nobunaga, sehingga ada alasan untuk menyerang Nobutomo. Setelah tahu rencananya pembunuhan yang disusunnya terbongkar, Nobutomo sangat marah terhadap Yoshimune. Ketika sedang menangkap ikan di sungai ditemani pengawalnya, putra Yoshimune yang bernama Shiba Yoshikane dibunuh oleh Nobutomo. Anggota keluarga Yoshikane (seperti adik Yoshikane yang kemudian dikenal sebagai Mōri Hideyori dan Tsugawa Yoshifuyu) meminta pertolongan Nobunaga untuk melarikan diri ke tempat yang jauh. Peristiwa pembunuhan Shiba Yoshikane merupakan kesempatan bagi Nobunaga untuk memburu dan membunuh komplotan pembunuh Yoshikane dari keluarga Oda Kiyosu yang sudah lama merupakan ganjalan bagi Nobunaga. Oda Nobutomo berhasil dihabisi paman Nobunaga yang bernama Oda Nobumitsu (penguasa Istana Mamoriyama). Dengan tewasnya Nobutomo, Nobunaga berhasil menamatkan sejarah keluarga Oda Kiyosu yang merupakan garis keturunan utama klan Oda, sehingga keluarga Oda Nobunaga yang bukan berasal dari garis keturunan utama bisa menjadi pemimpin klan. Nobunaga menaklukkan penguasa Istana Inuyama bernama Oda Nobukiyo yang sebenarnya masih satu keluarga. Setelah itu, Nobunaga menyingkirkan Oda Nobuyasu yang merupakan garis utama keturunan klan Oda sekaligus penguasa distrik Shimoyon. Oda Nobuyasu adalah anggota keluarga Oda Kiyosu yang menjadi musuh besar Nobunaga. Nobunaga berhasil mengalahkan Oda Nobuyasu, dan mengusirnya dalam Pertempuran Ukino. Pada tahun 1559, keluarga Nobunaga berhasil memegang kendali kekuasaan Provinsi Owari.Pertempuran Okehazama  Lokasi pertempuran Okehazama di kota Toyoaki, Prefektur Aichi   Pada tahun berikutnya (1560), penjaga wilayah Suruga yang bernama Imagawa Yoshimoto memimpin pasukan besar-besaran yang dikabarkan terdiri dari 20.000 sampai 40.000 prajurit untuk menyerang Owari. Imagawa Yoshimoto adalah musuh Nobunaga karena masih satu keluarga dengan klan Kira yang merupakan garis luar keturunan keluarga shogun Ashikaga. Klan Matsudaira dari Mikawa yang berada di garis depan berhasil menaklukkan benteng-benteng pihak Nobunaga. Pertempuran tidak seimbang karena jumlah pasukan klan Oda hanya sedikit. Di tengah kepanikan para pengikutnya, Nobunaga tetap tenang. Saat tengah malam, Nobunaga tiba-tiba bangkit menarikan tarian Kōwaka-mai dan menyanyikan lagu Atsumori. Setelah puas menari dan menyanyi, Nobunaga pergi berdoa ke kuil Atsuta-jingū dengan hanya ditemani beberapa orang pengikutnya yang menunggang kuda. Sebagai pengalih perhatian, sejumlah prajurit diperintahkan untuk tinggal di tempat. Sementara itu, Nobunaga memimpin pasukan yang hanya terdiri dari 2.000 prajurit untuk menyerang pasukan Imagawa yang sedang mabuk kemenangan. Imagawa Yoshimoto diincarnya untuk dibunuh. Pasukan Nobunaga pasti kalah jika berhadapan langsung dengan pasukan Imagawa yang berjumlah sepuluh kali lipat. Peristiwa ini dikenal sebagai Pertempuran Okehazama. Imagawa Yoshimoto sangat terkejut dan tidak menduga serangan mendadak dari pihak Nobunaga. Pengawal berkuda dari pihak Nobunaga, Hattori Koheita dan Mōri Shinsuke berhasil membunuh Imagawa Yoshimoto. Setelah kehilangan pemimpin, sisa-sisa pasukan Imagawa pulang melarikan diri ke Suruga. Kemenangan dalam Pertempuran Okehazama membuat nama Oda Nobunaga, 26 tahun, menjadi terkenal di seluruh negeri. Seusai Pertempuran Okehazama, klan Imagawa menjadi kehilangan kendali atas klan Matsudaira yang melepaskan diri dari keluarga Imagawa. Pada tahun 1562 dengan perjanjian Persekutuan Kiyosu, Nobunaga bersekutu dengan Matsudaira Motoyasu (kemudian dikenal sebagai Tokugawa Ieyasu) dari Provinsi Mikawa. Kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menghancurkan klan Imagawa.   Penaklukan Mino Penaklukan Saitō Tatsuoki dari Provinsi Mino merupakan tujuan berikut Nobunaga. Pada tahun 1564, Nobunaga bersekutu dengan Azai Nagamasa dari Ōmi utara untuk menjepit posisi klan Saitō. Berdasarkan perjanjian tersebut, adik perempuan Nobunaga yang bernama Oichi dinikahkan dengan Azai Nagamasa. Pada tahun 1566, Nobunaga memerintahkan Kinoshita Tōkichirō (Hashiba Hideyoshi) untuk membangun Istana Sunomata yang akan digunakan sebagai batu loncatan penyerangan ke Mino. Nobunaga berhasil menaklukkan pasukan Saitō Tatsuoki berkat bantuan klan Takenaka, Kelompok Tiga Serangkai dari Mino bagian barat (pasukan dari klan Inaba, klan Ujiie, dan klan Andō), klan Hachisuka, klan Maeno dan klan Kanamori. Dengan ditaklukkan Provinsi Mino pada tahun 1567, Nobunaga menjadi daimyo dua provinsi sekaligus di usia 33 tahun. Keinginan Nobunaga untuk menaklukkan seluruh Jepang dimulai dari Provinsi Mino, karena pada saat itu menguasai Mino sama artinya dengan menguasai seluruh Jepang. Nama bekas pusat kekuasaan klan Toki dan klan Saitō di Inoguchi diganti namanya oleh Nobunaga menjadi Gifu. Aksara kanji "Gi" untuk kota Gifu diambil dari nama Gunung Gi (Qi dalam bahasa Tiongkok) yang merupakan tempat berdirinya Dinasti Zhou. Nobunaga konon bermaksud menggunakan kesempatan ini sebagai titik awal pendirian dinasti Nobunaga. Pada tahun itu juga (1567), Nobunaga mulai secara terang-terangan menunjukkan ambisinya menguasai seluruh Jepang. Nobunaga mulai menggunakan stempel bertuliskan Tenka Fubu (天下布武 ?, di bawah langit, menguasai dengan kekuatan bersenjata) atau penguasaan seluruh Jepang dengan kekuatan bersenjata. Pada saat itu, Provinsi Kai dan Shinano yang bertetangga dengan Mino dikuasai daimyo Takeda Shingen. Nobunaga berusaha memperlihatkan sikap bersahabat dengan Shingen, antara lain berusaha mengawinkan Oda Nobutada, putra pewarisnya dengan anggota keluarga Takeda Shingen.  [sunting] Bertugas di Kyoto Pada masa sebelum tahun 1565, klan Miyoshi adalah bawahan (shitsuji) dari klan Hosokawa yang secara turun temurun telah menjabat kanrei di wilayah Kinai. Kelompok Tiga Serangkai Miyoshi dan Matsunaga Hisahide adalah samurai berpengaruh dari klan Miyoshi yang mengabdi kepada shogun ke-14 Ashikaga Yoshihide yang merupakan boneka klan Miyoshi. Sewaktu sedang memperkuat pemerintah keshogunan, Ashikaga Yoshiteru (shogun ke-13) berselisih dengan klan Miyoshi sehingga dibunuh Kelompok Tiga Serangkai Miyoshi dan Matsunaga Hisahide. Selain itu, adik Ashikaga Yoshiteru yang bernama Ashikaga Yoshiaki juga menjadi incaran, sehingga melarikan diri ke Provinsi Echizen yang dikuasai klan Asakura. Pada saat itu, penguasa Echizen yang bernama Asakura Yoshikage ternyata tidak memperlihatkan sikap mau memburu klan Miyoshi. Pada bulan Juli 1568, Yoshiaki dengan mengabaikan rasa takutnya, mendekati Nobunaga yang sudah menjadi penguasa Mino. Pada bulan September tahun yang sama, permintaan bantuan Ashikaga Yoshiaki disambut Nobunaga yang kebetulan mempunyai ambisi untuk menguasai Jepang. Nobunaga menerima Ashikaga Yoshiaki sebagai shogun ke-15 yang kemudian memuluskan rencananya untuk menguasai Kyoto. Usaha Nobunaga untuk menaklukkan Kyoto dihentikan di Provinsi Ōmi oleh klan Rokkaku. Pimpinan klan Rokkaku yang bernama Rokkaku Yoshikata tidak mengakui Yoshiaki sebagai shogun. Serangan mendadak dilakukan Nobunaga, dan seluruh anggota klan Rokkaku terusir. Penguasa Kyoto yang terdiri dari Miyoshi Yoshitsugu dan Mastunaga Hisahide juga ditaklukkan Nobunaga. Ambisi Nobunaga menguasai Kyoto tercapai setelah Kelompok Tiga Serangkai Miyoshi melarikan diri ke Provinsi Awa. Berkat bantuan Nobunaga, Ashikaga Yoshiaki diangkat sebagai shogun ke-15 Keshogunan Ashikaga. Nobunaga membatasi kekuasaan shogun agar bisa memerintah seluruh negeri sesuai kemauannya sendiri. Pemimpin militer daerah seperti Uesugi Kenshin juga mematuhi kekuasaan keshogunan yang dikendalikan Nobunaga. Nobunaga memaksa Yoshiaki untuk mematuhi Lima Pasal Peraturan Kediaman Keshogunan (denchū okite gokajū) yang membuat shogun Yoshiaki sebagai boneka Nobunaga. Secara diam-diam, Ashikaga Yoshiaki membentuk koalisi anti Nobunaga dibantu daimyo penentang Nobunaga. Dalam usaha menaklukkan Kyoto, Nobunaga memberi dana pengeluaran militer sebanyak 20.000 kan kepada kota Sakai dengan permintaan agar tunduk kepada Nobunaga. Perkumpulan pedagang kota Sakai (Sakai Egoshū) menentang Nobunaga dengan bantuanKelompok Tiga Serangkai Miyoshi. Pada tahun 1569, kota Sakai menyerah setelah diserang pasukan Nobunaga. Mulai sekitar tahun 1567, Nobunaga berusaha menaklukkan Provinsi Ise. Provinsi Ise dikuasai Nobunaga berkat bantuan kedua putranya yang dikawinkan dengan anggota keluarga klan yang berpengaruh di Ise. Pada tahun 1568, Nobunaga memaksa klan Kambe untuk menyerah dengan imbalan Oda Nobutaka dijadikan penerus keturunan klan Kambe. Pada tahun 1569, Nobunaga menundukkan klan Kitabatake yang menguasai Provinsi Ise. Putra kedua Nobunaga yang bernama Oda Nobuo (Oda Nobukatsu) dijadikan sebagai penerus keturunan Kitabatake.  Koalisi anti-Nobunaga Pada bulan April 1570, Nobunaga bersama Tokugawa Ieyasu memimpin pasukan untuk menyerang Asakura Yoshikage di Provinsi Echizen. Istana milik Asakura satu demi satu berhasil ditaklukkan pasukan gabungan Oda-Tokugawa. Pasukan sedang dalam iring-iringan menuju Kanegasaki ketika secara tiba-tiba Azai Nagamasa (sekutu Nobunaga dari Ōmi utara) berkhianat dan menyerang pasukan Oda-Tokugawa dari belakang. Nobunaga sudah dalam posisi terjepit ketika Kinoshita Hideyoshi meminta diberi kesempatan bertempur di bagian paling belakang dibantu Tokugawa Ieyasu agar Nobunaga mempunyai kesempatan untuk kabur. Pada akhirnya, Nobunaga bisa kembali ke Kyoto. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Jalan Lolos Kanegasaki (Kanegasaki Nukiguchi). Sementara itu, Ashikaga Yoshiaki yang sedang membangun kembali Keshogunan Muromachi, secara diam-diam mengumpulkan kekuatan anti-Nobunaga. Koalisi anti-Nobunaga yang dipimpinnya terdiri dari daimyo seperti Takeda Shingen, Asakura Yoshikage, Azai Nagamasa, Kelompok Tiga Serangkai Miyoshi, dan kekuatan bersenjata kuil Buddha dan Shinto seperti Ishiyama Honganji dan Enryakuji. Kekuatan yang dipaksa tunduk kepada Nobunaga seperti Miyoshi Yoshitsugu dan Matsunaga Hisahide juga dipanggil untuk bergabung. Pada bulan Juni 1570, pasukan Tokugawa Ieyasu bersama pasukan Nobunaga terlibat pertempuran dengan pasukan gabungan Azai-Asakura yang anti-Nobunaga. Pertempuran terjadi di tepi sungai Anegawa (Provinsi Ōmi) yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Sungai Anegawa. Pertempuran berlangsung sengit dengan kerugian besar di kedua belah pihak. Pihak Azai dengan Isono Kazumasa di garis depan sudah kehilangan 13 lapis pasukan dari 15 lapis pasukan yang ada. Tokugawa Ieyasu yang berhadapan dengan Kelompok Tiga Serangkai dari Mino juga terlibat pertempuran sengit. Pada akhirnya, pasukan Nobunaga berhasil mengalahkan pasukan gabungan Azai-Asakura. Pada pertempuran berikutnya di Sakamoto (Ōmi), pasukan Nobunaga menderita kekalahan pahit dari pasukan gabungan kuil Enryakuji-Asakura-Azai. Mori Yoshinari dan adik Nobunaga yang bernama Oda Nobuharu tewas terbunuh. Pada bulan September 1571, Nobunaga mengeluarkan perintah untuk membakar kuil Enryakuji yang memakan korban tewas sebanyak 4.000 orang. Korban tewas sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak, termasuk pendeta kepala Enryakuji yang ikut tewas terbunuh. Takeda Shingen dalam pernyataan yang mengecam keras tindakan Nobunaga mengatakan Nobunaga sudah berubah menjadi Raja Iblis. Bangsawan bernama Yamashina Toki dalam pernyataan yang menyesalkan tindakan Nobunaga mengatakan (Nobunaga) sudah menghancurkan ajaran agama Buddha. Pada tahun 1572, Takeda Shingen dari Provinsi Kai memutuskan untuk menyerang Kyoto sebagai jawaban atas permintaan bantuan Ashikaga Yoshiaki. Pasukan berjumlah 27.000 prajurit yang dipimpin Shingen berhasil menaklukkan wilayah kekuasaan keluarga Tokugawa. Ketika mendengar kabar penyerangan Takeda Shingen, Nobunaga sedang berperang melawanAzai Nagamasa dan Asakura Yoshikage di Ōmi utara. Nobunaga segera kembali ke Gifu setelah pimpinan pasukan diserahkan kepada Kinoshita Hideyoshi. Nobunaga mengirim pasukan untuk membantu Tokugawa Ieyasu, tapi jumlahnya tidak cukup. Pasukan Takeda Shingen tidak mungkin ditundukkan pasukan bantuan Nobunaga yang hanya terdiri dari 3.000 prajurit. Pada akhirnya, pasukan gabungan Oda-Tokugawa dikalahkan pasukan Takeda dalam Pertempuran Mikatagahara. Selanjutnya, pasukan Takeda terus memperkuat posisi di wilayah kekuasaan Tokugawa. Pada musim dingin 1572, Asakura Yoshikage secara tiba-tiba memutuskan persekutuannya dengan Takeda Shingen. Keadaan ini menguntungkan pihak Nobunaga. Pasukan Nobunaga yang dipusatkan di Ōmi utara bisa ditarik mundur. Dengan tambahan pasukan yang baru kembali dari Ōmi utara, kekuatan pasukan gabungan Oda-Tokugawa berada jauh di atas pasukan Takeda. Pasukan Takeda yang menghadapi pasukan gabungan Nobunaga hanya dapat maju pelan-pelan. Takeda Shingen mengirimkan surat kepada Yoshikage sambil terus bergerak maju sedikit demi sedikit di dalam wilayah Tokugawa. Pada bulan Mei 1573, Shingen tutup usia karena sakit sebelum ambisinya menguasai Kyoto tercapai. Setelah membubarkan diri, Pasukan Takeda pulang ke Provinsi Kai, dan sekaligus menandai tamatnya koalisi anti-Nobunaga. Pada bulan Juli 1573, pasukan Nobunaga terlibat dua kali bentrokan bersenjata dengan pasukan Ashikaga. Keshogunan Muromachi runtuh setelah diusirnya shogun Ashikaga Yoshiaki dari Kyoto. Selanjutnya, pada bulan Agustus, Nobunaga berhasil menghancurkan pasukan Asakura Yoshikage dalam Pertempuran Ichijōdani. Pada bulan berikutnya (September 1573), Azai Nagamasa tewas akibat penyerangan pasukan Nobunaga. Dalam peristiwa ini, adik perempuan Nobunaga yang bernama Oichi yang diperistri Azai Nagamasa berhasil diselamatkan, namun Kelompok Tiga Serangkai Miyoshi tewas terbunuh. Pada bulan November 1573, Miyoshi Yoshitsugu dari Kawachi dipaksa pasukan Sakuma Nobumori untuk melakukan bunuh diri. Matsunaga Hisahide juga dipaksa menyerah. Tidak sampai setengah tahun setelah wafatnya Takeda Shingen, para daimyo yang menjadi anggota koalisi anti-Nobunaga tewas.  Penghancuran kelompok Ikkō Pada tahun 1574, kelompok Ikkō Ise Nagashima dikepung pasukan Nobunaga dari darat dan laut hingga tidak berdaya akibat terputusnya jalur perbekalan. Pertempuran berlangsung sengit, dan Nobunaga sudah menderita luka-luka tembak. Namun akhirnya kelompok Ikkō menanggapi peringatan untuk menyerah. Nobunaga berpura-pura memberi izin kepada kelompok Ikki untuk menyerahkan diri. Ketika sedang berkumpul untuk menyerahkan diri, kelompok Ikki mendadak diserang. Semua pengikut kelompok Ikki yang sudah menyerah dibakar hidup-hidup, sejumlah 20.000 orang tewas. Sebagian besar anggota kelompok Ikki adalah orang tua, wanita dan anak-anak yang tidak pernah ikut berperang. Penjelasan yang dapat dipercaya mengatakan Nobunaga melakukan pembunuhan massal sebagai balasan atas kerugian besar yang diderita Nobunaga dalam pertempuran dengan kelompok Ikki Nagashima. Pengikut terpercaya dan anggota keluarga Nobunaga tewas dalam jumlah besar, sehingga Nobunaga dendam terhadap kelompok Ikki. Kelompok Ikko Nagashima habis diberantas dengan pembunuhan massal yang dilakukan Nobunaga. Pertempuran Nagashino Pada tahun 1575, pewaris kekuasaan Takeda Shingen yang bernama Takeda Katsuyori menjadikan menantu Ieyasu (Okudaira Nobumasa) sebagai sasaran balas dendam terhadap Ieyasu. Istana Nagashino yang dijadikan tempat kediaman Nobumasa diserang pasukan Takeda Katsuyori yang terdiri dari 15.000 prajurit. Permintaan bantuan dari Ieyasu untuk membantu Okudaira Nobumasa mendapat jawaban dari Nobunaga. Pasukan Takeda yang hanya terdiri dari 15.000 prajurit dihancurkan pasukan gabungan Oda-Tokugawa yang terdiri dari 30.000 prajurit Oda dan 5.000 prajurit Tokugawa. Peristiwa ini dikenal sebagai Pertempuran Nagashino. Di dalam pertempuran ini, korban tewas di pihak pasukan Takeda dikabarkan mencapai lebih dari 10.000 prajurit. Nobunaga dikabarkan memakai strategi berperang yang membagi pasukan senapan menjadi tiga lapis prajurit. Strategi ini digunakan untuk menghindari kemungkinan prajurit tewas sewaktu mengisi peluru. Setelah prajurit lapis pertama selesai menembak dan berjongkok untuk mengisi peluru, prajurit lapis kedua mendapat giliran untuk menembak, dan seterusnya. Nobunaga memuji Okudaira Nobumasa dalam Pertempuran Nagashino. Istana Nagashino dipertahankan Nobumasa melawan pasukan Takeda yang jumlahnya lebih banyak. Pada tahun yang sama (1575), Nobunaga menunjuk Shibata Katsuie sebagai panglima gabungan untuk menyerang pasukan Ikko Ikki yang terbentuk setelah hancurnya klan Asakura. Pasukan Ikko Ikki dibantai pasukan Katsuie yang dikirim ke Echizen. Korban tewas akibat pasukan Katsuie dikabarkan mencapai puluhan ribu orang yang tidak membedakan usia dan jenis kelamin. Atas kejadian tersebut, pengikut Nobunaga yang bernama Murai Sadakatsu menulis surat tentang peristiwa mengerikan di Echizen Fuchū yang penuh mayat bergelimpangan sampai kelihatan tiada tempat kosong. Dalam tulisannya yang masih tersisa dalam bentuk litografi, Maeda Toshiie yang pada waktu itu merupakan bawahan Nobunaga juga menulis tentang sekitar 1.000 tawanan yang disalib, direbus, atau dibakar hidup-hidup. Pembangunan Istana Azuchi Pada tahun 1576, Nobunaga memulai pembangunan Istana Azuchi di pinggir Danau Biwa, Provinsi Ōmi. Pembangunan dikabarkan selesai tahun 1579. Istana Azuchi konon terdiri dari 5 lantai dan 7 lapis atap, dengan atrium di bagian dalam menara utama. Dalam surat yang dikirimkan ke negeri asalnya, seorang misionaris Yesuit memuji Istana Azuchi sebagai istana mewah yang di Eropa saja tidak ada. Nobunaga pindah ke Istana Azuchi yang baru selesai dibangun, sedangkan Istana Gifu diwariskan kepada putra pewaris, Oda Nobutada. Istana Azuchi dijadikan pusat kekuasaan Oda Nobunaga yang sedang berusaha mempersatukan Jepang. Pada tahun 1576, Nobunaga menyerang kuil Ishiyama Honganji. Pasukan Nobunaga yang terdiri dari 3.000 prajurit sempat terdesak, tapi akhirnya pihak musuh yang terdiri dari 15.000 prajurit dikalahkan dalam Pertempuran Tennōji. Para pendeta kuil Ishiyama sudah dikepung oleh pasukan Nobunaga. Pertempuran laut pecah di muara Sungai Kizu yang disebut Pertempuran Sungai Kizu antara pasukan Nobunaga melawan kapal-kapal angkatan laut Mōri. Pada waktu itu, angkatan laut Mōri yang berada di pihak pendeta kuil Ishiyama sedang mengangkut perbekalan menuju kuil Ishiyama. Kapal-kapal Nobunaga ditenggelamkan dengan serangan api oleh angkatan laut Mōri. Akibatnya, pasukan Nobunaga yang mengepung kuil Ishiyama terpaksa ditarik mundur. Selanjutnya, Kuki Yoshitaka diperintahkan Nobunaga untuk membuat kapal dari plat besi baja yang tidak mudah terbakar saat terjadi pertempuran. Kapal-kapal Nobunaga menghancurkan angkatan laut Mōri saat pecah pertempuran laut yang kedua kali pada tahun 1578.  Peran panglima daerah Ketika Nobunaga menyerang Ise pada tahun 1577, pasukan Suzuki Magoichi memaksa kelompok Saikashū untuk menyerah. Pada tahun yang sama, panglima Nobunaga yang bernama Hashiba Hideyoshi memulai serbuan ke daerah Chūgoku. Keberhasilan Nobunaga adalah berkat jasa panglima militer yang tersebar di berbagai daerah: Shibata Katsuie (panglima daerah Hokuriku)Oda Nobutada (panglima daerah Tokai) dan pasukan Takigawa KazumasaAkechi Mitsuhide (panglima daerah Kinai)Hashiba Hideyoshi (panglima daerah Chūgoku)Niwa Nagahide (panglima daerah Shikoku), Oda NobutakaSakuma Nobumori (panglima khusus masalah kuil Honganji). Nobunaga pernah berhubungan baik dengan Uesugi Kenshin, tapi akhirnya harus berselisih soal hak penguasaan daerah seperti Noto (sekarang daerah semenanjung Prefektur Ishikawa). Pertempuran Sungai Tetori pecah akibat pertentangan antara Nobunaga dan Kenshin. Pasukan Shibata Katsuie dapat ditaklukkan dengan mudah oleh pasukan Uesugi Kenshin yang merupakan musuh terkuat Nobunaga setelah wafatnya Takeda Shingen. Kesempatan ini dimanfaatkan Matsunaga Hisahide untuk kembali memimpin pemberontakan di Yamato. Nobunaga yang menyadari kekuasaannya dalam bahaya segera mengirim pasukan ke Yamato untuk membunuh Hisahide. Pada bulan Maret 1578, Uesugi Kenshin yang sedang dalam perjalanan menaklukkan Kyoto meninggal karena sakit. Pada tahun 1579, pasukan Hashiba Hideyoshi berhasil menaklukkan Ukita Naoie dan menguasai Provinsi Bizen. Hatano Hideharu dari Tamba juga dipaksa menyerah oleh pasukan Akechi Mitsuhide. Nobunaga langsung menghukum mati Hatano Hideharu, padahal Hideharu menyerah setelah dibujuk dengan bersusah payah oleh Mitsuhide. Peristiwa ini nantinya menjadi sumber masalah bagi Nobunaga. Ada cerita yang mengatakan perbuatan Nobunaga menyebabkan terbunuhnya ibu kandung Akechi Mitsuhide yang dijadikan sandera oleh pihak Hatano Hideharu. Sementara itu, putra Nobunaga bernama Kitabatake Nobuo (Oda Nobuo) yang menjadi penguasa Provinsi Ise dengan keputusan sendiri menyerang Provinsi Iga. Alasannya, samurai pengikutnya sewaktu membangun Istana Dejiro diganggu para prajurit lokal. Kekalahan besar diderita pasukan Nobuo setelah prajurit lokal dari Ise melakukan serangan balasan. Kekalahan Nobuo diketahui Nobunaga yang memarahi habis-habisan putra keduanya. Prajurit lokal dari Provinsi Iga kemudian dinyatakan sebagai musuh Nobunaga. Peristiwa ini disebut Kerusuhan Iga tahun Tensho bagian pertama. Masih di tahun yang sama (1579), pasukan Nobunaga memadamkan pemberontakan di Kinai yang dipimpin Besso Nagaharu dan Araki Murashige. Nobunaga juga memerintahkan istri sah dari Tokugawa Ieyasu yang bernama Tsukiyama-dono untuk melakukan seppuku. Tsukiyama-dono adalah ibu dari putra pewaris Ieyasu yang bernama Tokugawa Nobuyasu. Peristiwa ini menjadi sumber perselisihan di kalangan kelompok pengikut Tokugawa yang terbagi menjadi kelompok pro dan kelompok anti-Nobunaga. Pada akhirnya Tokugawa Ieyasu memutuskan untuk tidak menyelamatkan nyawa istri dan putra pewarisnya. Pada bulan April 1580, Nobunaga berhasil berdamai dengan pihak kuil Ishiyama Honganji. Masalah kuil Ishiyama Honganji dan pendeta Kennyo yang merupakan ganjalan bagi Nobunaga bisa diselesaikan dengan damai berkat keputusan Kaisar Ōgimachi yang menguntungkan pihak kuil Ishiyama Honganji. Sesuai dengan syarat perdamaian, kuil Ishiyama Honganji harus pindah dari Osaka. Pada bulan Agustus 1580, Nobunaga secara tiba-tiba mengusir pengikutnya seperti Sakuma Nobumori, Hayashi Hidesada, Andō Morinari dan Niwa Ujikatsu. Pada tahun 1581, Istana Tottori di Inaba yang dikuasai oleh Mōri Terumoto dipaksa menyerah oleh pasukan Hashiba Hideyoshi yang kemudian bergerak maju untuk menyerang Bizen. Pada tahun yang sama, Oda Nobuo kembali memimpin pasukan sebanyak 60.000 prajurit untuk membalas kekalahan dari prajurit lokal di Ise. Pembunuhan massal terjadi di Iga, semua orang yang disangka ninja tewas dibantai termasuk wanita dan anak-anak kecil. Korban tewas mencapai lebih dari 10.000 orang. Semua orang dikabarkan lenyap dari Provinsi Iga, semua barang-barang juga lenyap dan Provinsi Iga hancur. Peristiwa ini dinamakan Kerusuhan Iga tahun Tensho bagian kedua.  Kehancuran klan Takeda Pada bulan Maret 1582, pasukan Oda Nobutada menyerang wilayah Takeda dan secara berturut-turut berhasil menaklukan Provinsi Shinano dan Suruga. Takeda Katsuyori dikejar sampai Gunung Tenmoku di Provinsi Kai, dan terpaksa bunuh diri yang menandai musnahnya klan Takeda. Setelah klan Takeda dari Kai takluk, Nobunaga memerintahkan untuk menghukum mati semua pengikut klan Takeda beserta keluarga, dan pembantu yang dianggap akan membalas kematian tuannya. Peristiwa ini dikenal sebagai Perburuan Takeda. Perintah Nobunaga untuk membantai seluruh klan Takeda tidak dapat diterima Tokugawa Ieyasu dan sebagian menteri dari pihak Nobunaga. Walaupun harus bertaruh nyawa, Ieyasu dan para menteri menyembunyikan sisa-sisa pengikut Takeda. Seorang tokoh di zaman Edo yang bernama Takeda Yukari merupakan keturunan dari sisa-sisa pengikut Takeda yang berhasil diselamatkan dari pembunuhan massal. Sementara itu, pasukan Shibata Katsuie bertempur dengan putra pewaris Uesugi Kenshin yang bernama Uesugi Kagekatsu, tapi dipaksa mundur setelah hampir merebut Noto dan Etchū. Pada saat yang bersamaan, pasukan yang dipimpin putra Nobunaga Kambe Nobutaka dan menteri Niwa Nagahide sedang dalam persiapan berangkat ke Shikoku untuk menyerbu Chōsokabe Motochika. Ada pendapat yang mengatakan Akechi Mitsuhide kuatir dengan masa depan sebagai pengikut Nobunaga karena tidak diberi bagian dalam rencana penyerbuan ke Shikoku. Mitushide merasa nasibnya sebentar lagi mirip dengan nasib Sakuma Nobumori dan Hayashi Hidesada yang diusir oleh Nobunaga. Pendapat lain mengatakan Akechi Mitsuhide merasa dirinya sudah tidak berguna, karena tidak lagi diserahi tugas memimpin pasukan oleh Nobunaga. Mitsuhide juga merasa dipermalukan oleh Nobunaga, karena rencana pernikahan putri salah seorang pengikutnya yang bernama Saitō Toshimitsu menjadi gagal. Pernikahan ini sebenarnya diatur oleh Mitsuhide sesuai strategi pendekatan terhadap Chōsokabe Motochika yang diperintahkan Nobunaga. Nobunaga mengirim Takigawa Kazumasa ke Provinsi Kōzuke untuk meredam kekuatan daimyo berpenghasilan 2.400.000 koku bernama Hōjō Ujimasa. Pada saat itu, Ujimasa sedang berperang melawan Uesugi Kagekatsu dan Takeda Katsuyori. Nobunaga juga mengirim Kawajiri Hidetaka ke Provinsi Kai dan Mori Nagayoshi ke Provinsi Shinano sebagai bagian dari strategi untuk menekan kekuatan militer Ujimasa. Setelah dikepung panglima daerah yang berada di pihak Nobunaga, pasukan Nobunaga tidak perlu lagi mengangkat senjata melawan Hōjō Ujimasa yang ruang geraknya sudah dibatasi.   Insiden Honnōji Pada tanggal 15 Mei 1582, Tokugawa Ieyasu berkunjung ke Istana Azuchi untuk mengucapkan terima kasih kepada Nobunaga atas penambahan Suruga ke dalam wilayah kekuasaannya. Nobunaga menugaskan Akechi Mitsuhide sebagai tuan rumah yang mengurus segala keperluan Ieyasu selama berada di Istana Azuchi mulai tanggal 15 Mei-17 Mei 1582. Di tengah kunjungan Ieyasu di Istana Azuchi, Nobunaga menerima utusan yang dikirim Hashiba Hideyoshi yang meminta tambahan pasukan dari Nobunaga. Posisi Hideyoshi yang sedang bertempur merebut Istana Takamatsu di Bitchū dalam keadaan sulit, karena jumlah pasukan Mōri berada di atas jumlah pasukan Hideyoshi. Nobunaga menanggapi permintaan bantuan Hideyoshi. Mitsuhide dibebaskan dari tugasnya sebagai tuan rumah bagi Ieyasu dan diperintahkan memimpin pasukan bantuan untuk Hideyoshi. Dalam jurnal militer Akechi Mitsuhide ditulis tentang Nobunaga yang tidak merasa puas dengan pelayanan Mitsuhide sewaktu menangani kunjungan Ieyasu. Nobunaga menyuruh anak laki-laki peliharaannya yang bernama Mori Ranmaru untuk memukul kepala Mitsuhide. Nobunaga berangkat ke Kyoto pada 29 Mei 1582 dengan tujuan mempersiapkan pasukan yang dikirim untuk menyerang pasukan Mōri. Nobunaga menginap di kuil Honnōji, Kyoto. Akechi Mitsuhide yang sedang dalam perjalanan memimpin pasukan bala bantuan untuk Hideyoshi berbalik arah, dan secara tiba-tiba muncul di Kyoto untuk menyerang kuil Honnōji. Pada tanggal 2 Juni 1582, Nobunaga terpaksa melakukan bunuh diri, namun jasad Nobunaga kabarnya tidak pernah ditemukan. Peristiwa ini dikenal sebagai Insiden Honnōji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-2203669931741868951?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/2203669931741868951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/oda-nobunaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/2203669931741868951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/2203669931741868951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/07/oda-nobunaga.html' title='Oda Nobunaga'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Oh5BWpI/AAAAAAAAADo/DKF-vLEomXc/s72-c/nobunaga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-866634272155882247.post-1467529973606940899</id><published>2009-03-28T05:29:00.002+07:00</published><updated>2009-07-25T05:28:18.824+07:00</updated><title type='text'>Dynasty Warrior</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Wzou-0I/AAAAAAAAADw/O0qzghbGZdI/s1600-h/dw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 87px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Wzou-0I/AAAAAAAAADw/O0qzghbGZdI/s320/dw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362156972272450370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dynasty Warriors adalah seri permainan untuk konsol game yang diproduksi Koei. Dynasty Warriors adalah game yang mengangkat kisah Zaman Tiga Negara. Di dalam game ini kita bisa menemukan berbagai tokoh sejarah Samkok, maupun tokoh fiksi buatan. Game ini sudah sangat populer, kita dapat menemukan versinya seperti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors(1997)-PlayStation&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 2(2000)-PlayStation 2&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 3(2001)-PlayStation 2(2002)-Xbox&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 3 Xtreme Legends(2003)-PlayStation 2,Xbox&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 4(2003)-PlayStation 2,Xbox&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 4 Extreme Legends(2003)-PlayStation 2&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 4 Empires(2004)-PlayStation 2&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 4 Hyper for Windows(2005)-Windows PC&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors PSP(2005)-PlayStation Portable&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 5(2005)-PlayStation 2, Xbox&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors Advance(2005)-Game Boy Advance&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 5 Xtreme Legends(2005)-PlayStation 2&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 5 Special(2005)-Xbox 360,Windows PC&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 5 Empires(2006)-PlayStation 2, Xbox 360&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 6(2008)-PlayStation 3, Xbox 360&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors Vol.2(2006)-PlayStation Portable&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors Mahjong(2006)-PlayStation 2,PlayStation Portable,Nintendo DS&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors DS(2006)-Nintendo DS&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors BB(2006)-Windows PC(online)&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 6(2007)-PlayStation 3&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 6 Special(2008)-PlayStation 2&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 6 Empires(2009)-PlayStation 3, Xbox360&lt;br /&gt; * Dynasty Warriors 6 Strike Force/Multi Raid (2009)-PSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter dalam tokoh ini dibagi menjadi 3 sesuai kerajaan atau tempat mereka mengabdi, diantaranya adalah&lt;br /&gt;Karakter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *Cao Cao (Baca:Tsao Tsao) adalah raja dari Wei, sang "Hero Of Chaos". Senjatanya adalah pedang.&lt;br /&gt; * Cao Pi (Baca : Tsao Pi) adalah putra dari Cao Cao, pangeran Wei. Senjatanya adalah pedang kembar (DW5) dan pedang panjang (DW6). Sifatnya bagaikan pangeran es.&lt;br /&gt; * Sima Yi adalah ahli strategi dari Wei, rival dari Zhuge Liang, yang nantinya akan memberontak dan membentuk Dinasti Jin. Senjatanya adalah kipas ahli strategi yang mirip dengan Zhuge Liang, namun berwarna hitam (DW3-DW5) dan cakar berbenang (DW6)&lt;br /&gt; * Xiahou Dun adalah sepupu dari Cao Cao dan salah satu jendral terpercayanya. Konon, matanya tertembak panah pada perang Xia Pi. Yang kemudian ditelannya bulat-bulat. Senjatanya adalah pedang melengkung.&lt;br /&gt; * Xiahou Yuan adalah saudara dari Xiahou Dun, seorang ahli panah. Senjatanya adalah busur dan tongkat besi.&lt;br /&gt; * Zhang Liao adalah bekas bawahan Lu Bu. Salah satu jendral terpercaya.&lt;br /&gt; * Dian Wei adalah bodyguard Cao Cao yang paling setia. Senjatanya kapak kecil (sampai DW5). Dan bola besi berantai (DW6)&lt;br /&gt; * Xu Zhu adalah bodyguard Cao Cao bersama Dian Wei. Berbeda dari Dian Wei yang berotot, tubuhnya sangat gemuk dan dibanding-bandingkan dengan panda di Dynasty Warriors 6.&lt;br /&gt; * Zhang He adalah jendral yang flamboyan. Kata-kata favoritnya adalah "Indah". Karena sifatnya, banyak orang mencurigai dia sebagai homo. Senjatanya adalah cakar yang panjang.&lt;br /&gt; * Xu Huang adalah satu-satunya karakter Dynasty Warriors yang memakai kapak besar.&lt;br /&gt; * Cao Ren adalah jendral bertubuh kecil, namun punya daya penghancur tinggi. Senjatanya berupa perisai dengan pedang di ujungnya.&lt;br /&gt; * Pang De adalah teman Ma Chao di masa lalu. Namun berpisah dengannya yang bergabung dengan Shu. Model baju Pang De di dasarkan pada kstria Eropa&lt;br /&gt; * Zhen Ji adalah istri dari Cao Pi, yang nantinya merupakan permaisuri dari Wei. Senjatanya sampai DW5 adalah suling dan cambuk di DW6. Dia digambarkan sebagai wanita yang anggun dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Liu Bei&lt;br /&gt; * Guan Yu&lt;br /&gt; * Zhang Fei adalah saudara angkat liu bei dan guan yu&lt;br /&gt; * Zhuge Liang adalah anak zhuge gui.dan mendapat julukan naga tidur&lt;br /&gt; * Zhao Yun adalah 1dari 5jendral harimau&lt;br /&gt; * Ma Chao diberi gelar biang jiangjun (letnan jendral)&lt;br /&gt; * Huang Zhong diberikan gelar zhenxi jianjun (jendral yang menaklukan wilayah barat)&lt;br /&gt; * Wei Yan adalah perwira perang negara shu&lt;br /&gt; * Pang Tong mendapat julukan phoenix terbang&lt;br /&gt; * Jiang Wei adalah seorang jendral dan ahli strategi tiongkok&lt;br /&gt; * Guan Ping adalah anak jendral militer pertama guan yu&lt;br /&gt; * Yue Ying istri dari perdana mentri shu zhuge liang&lt;br /&gt; * Xing Cai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Sun Jian adalah kepala keluarga Wu. Julukannya "Tiger of Jiang Dong". Senjatanya adalah pedang. Sangat peduli kepada keluarga. Ayah yang baik.&lt;br /&gt; * Sun Ce adalah anak tertua dari Sun Jian. Julukannya "Little Conqueror". Digambarkan sebagai pemuda yang berdarah panas. Namun sayangnya mati muda. Senjatanya adalah Double Tong Fa&lt;br /&gt; * Sun Quan adalah adil Sun Ce. Mengemban tanggung jawab dari ayah dan kakaknya, ia menjadi kaisar Wu.&lt;br /&gt; * Sun Shang Xiang adalah anak perempuan dari Sun Jian yang tomboy dan ceria, setidaknya sampai DW5. Di DW6, dia digambarkan lebih feminim dengan umur yang lebih muda, dan rok mini. Istri dari Liu Bei. Senjatanya cakram (sampai DW5) dan busur (sampai DW6).&lt;br /&gt; * Zhou Yu adalah ahli strategi dari Wu yang termahsyur terutama karena pertarungan di Chi Bi. Teman sejak kecil Sun Ce. Dia cowok cantik yang berambut panjang. Dalam movesetnya, gerakannya luwes seperti sedang menari. Senjatanya pedang sampai DW5. Lalu tongkat di DW6. Membuatnya lebih seperti pendekar kung fu.&lt;br /&gt; * Lu Xun adalah ahli strategi generasi ke-3 di Wu. Di umurnya yang sangat muda (yang otomatis membuatnya menjadi cowok bertampang imut), dia sudah dipercaya sebagai penerus Lu Meng dan Zhou Yu. Taktik serangan api selalu menjadi andalannya. Senjatanya pedang kecil kembar sampai DW5, yang menjadi hanya satu buah saat di DW6.&lt;br /&gt; * Huang Gai adalah ksatria veteran dyang setia pada Wu sejak jaman Sun Jian. Senjatanya tongkat besi dan bom. Kemampuannya untuk bisa melukai teman menggunakan bom yang dilemparkannya adalah kemampuan yang spesial. Walau kemampuan ini dihapus di Warriors Orochi.&lt;br /&gt; * Lu Meng adalah ahli strategi generasi kedua. Berindak sebagai guru dari Lu Xun. Berbeda dengan Zhou Yu dan Lu Xun yang bertampang muda, wajah dan umur Lu Meng lebih tua (30 tahun-an). Senjatanya adalah tombak.&lt;br /&gt; * Gan Ning adalah bekas bajak laut yang menjadi salah satu jendral andalan Wu. Julukannya "Gan Ning Of The Bells" karena membawa lonceng yang dilingkarkan di pinggangnya. Dia mengandalkan kecepatan kakinya saat bertarung. Selalu bertengkar dengan Ling Tong karena ia membunuh ayahnya. Senjatanya pedang bajak laut. Dia digambarkan sebagai cowok yang berandalan sehingga kostumnya rata-rata bertelandang dada. Namun, di DW6 tubuhnya lebih berotot dan membesar. Dan dengan rambut kuning jabrik dan telinga runcingnya.&lt;br /&gt; * Taishi Ci adalah jendral yang direkrut oleh Sun Ce. Senjatanya adalah tongkat besi kembar. Membuatnya sering diparodikan sebaga pemain drum'&lt;br /&gt; * Zhou Tai adalah bodyguard andalan Sun Quan. Ia orang yang sangat serius. Dengan gaya hidup seperti samurai. Senjatanya Katana yang merupakan pedang samurai.&lt;br /&gt; * Ling Tong adalah pemuda yang santai dan pemalas. Selalu bertengkar dengan Gan Ning yant elah membunuh ayahnya. Ciri khasnya adalah kuncir kuda dan tahi lalat di bawah mata. Jurus-jurusnya mirip dengan film aksi kung fu. Terutama karena senjatanya adalah Nunchaku dan Sanshetsukon. Di DW6, badannya menjadi lebih besar. Dan emosinya lebih terlihat.&lt;br /&gt; * Da Qiao adalah kakak dari Qiao Bersaudara yang sangat terkenal akan kecantikannya. Istri dari Sun Ce. Bertolak belakang dengan Sun Ce, ia pemalu dan agak tertutup. Namun sangat feminim. Senjatanya dua buah kipas berwarna ungu.Sayangnya di DW6 ia dihapus dan hanya muncul di Artwork Xiao Qiao.&lt;br /&gt; * Xiao Qiao adalah adik dari Qiao Bersaudara yang sangat terkenal akan kecantikannya. Istri dari Zhou Yu. Bertolak belakang dengan Zhou Yu, ia sangat kekanak-kanakan dan berisik. Membuat Zhou Yu sering kewalahan akan ulahnya. Senjatanya dua buah kipas berwarna biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/866634272155882247-1467529973606940899?l=gowarrior.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gowarrior.blogspot.com/feeds/1467529973606940899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/03/dynasty-warrior.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/1467529973606940899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/866634272155882247/posts/default/1467529973606940899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gowarrior.blogspot.com/2009/03/dynasty-warrior.html' title='Dynasty Warrior'/><author><name>lucz28</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14272320223900873131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='23' src='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/S25Nt--SuII/AAAAAAAAAFA/ZNBlZebVNHk/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yhFMs5TmzvA/Smo1Wzou-0I/AAAAAAAAADw/O0qzghbGZdI/s72-c/dw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
